Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » AS Mengakui Tak Punya Bukti Soal Serangan Gas Kimia di Suriah

AS Mengakui Tak Punya Bukti Soal Serangan Gas Kimia di Suriah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

US-DEFENSE-MATTISTanggal 2 Feb lalu (sudah lama ya, saya terlewat), Menhan AS, Jim Mattis menyatakan bahwa AS tidak punya bukti untuk mengkonfirmasi laporan dari kelompok-kelompok relawan (aid groups) yang menyatakan bahwa pemerintah Suriah menggunakan gas sarin terhadap warganya sendiri. [1]

Pernyataan Menhan AS itu ditulis oleh New York Times di paragraf pertama. Tentu saja, di kalimat-kalimat selanjutnya penuh tuduhan-tuduhan lain. Dan beginilah cara kita menganalisis berita, cari kata-kata yang bernilai data, lalu komparasikan dengan data-data lainnya. Jadi, saya tidak pernah menganjurkan “abaikan media mainstream”; melainkan: baca dengan kritis, ambil data yang valid dari sana. Pernyataan Menhan AS ini contohnya.

Ok, catet, AS tidak punya bukti atas serangan gas sarin di Suriah. Dan kita tahu, Trump meluncurkan 59 Tomahawk ke Suriah dengan alasan Assad membunuh warganya dengan sarin.

Dari April 2017 hingga Februari 2018 (sekarang) adalah waktu yang cukup lama. Dulu, AS  butuh sekitar 8 tahun untuk mengakui bahwa Irak tidak punya senjata pembunuh massal; padahal alasan itu yang dipakai AS untuk menginvasi Irak dan memporak-porandakan Negeri 1001 Malam itu.

Lalu, kita, pengamat, bagaimana supaya pada hari-hari pertama sudah langsung tahu bahwa sebuah berita atau klaim yang dipakai AS untuk menyerang negara lain hoax atau bukan?

Berikut saya copas ulang tulisan lama saya, cara mendeteksinya. Kasus yang akan kita pelajari adalah berita dari New York Times (NYT), ditulis tanggal 4 April 2017, di hari yang sama dengan kejadian serangan senjata kimia tersebut. Penulisnya Anne Barnard dan Michael R. Gordon yang melaporkan dari Beirut (Lebanon). [2]

  1. Sebuah berita (news) yang valid adalah ketika wartawan telah melakukan cross-check di lapangan. Robert Fisk, jurnalis senior asal Inggris, pernah menulis bahwa melaporkan berita dengan hanya bersumber dari satu pihak, tanpa ada wartawan yang mengkonfirmasi dengan matanya sendiri atas hal-hal yang mereka laporkan, adalah salah. [3]

Berita NYT ditulis dari Beirut, dan wartawannya (Bannard dan Gordon) tidak datang langsung ke lapangan. NYT menyebut narasumbernya: ‘saksi’, dokter, dan tenaga medis (Paragraf. 3) Foto dan video yang digunakan sebagai data disuplai oleh aktivis yang diunggah di internet (P.  9). Tanpa evaluasi yang seksama atas info-info tersebut,  NYT sejak di paragraf 1 sudah memberikan kesimpulan bahwa pelakunya adalah pemerintah Suriah.

  1. Meski berkali-kali menyebut ‘witnesses’ (para saksi mata), NYT hanya mengutip satu nama, yaitu Mariam Abu Khalil berusia 14 tahun, tanpa disebutkan bagaimana cara NYT mewawancarainya (ingat, mereka melaporkan dari Beirut). Sementara, dokter dan paramedis yang dimaksud adalah White Helmets, lembaga yang mengaku bipartisan tetapi amat banyak bukti menunjukkan bahwa anggotanya adalah para “jihadis”.[4] NYT juga mengutip Mohamad Firas al-Jundi, “menteri kesehatan oposisi”.

Jadi, berita yang ditulis oleh NYT adalah informasi sepihak (pihak ‘oposisi’ alias ‘jihadis’), tanpa cross-check. Padahal, jurnalis seharusnya melakukan cross-check itu. Apalagi, sebelumnya sudah terjadi kasus yang mirip, yaitu serangan senjata kimia di Ghouta 2013. Saat ini, media mainstream termasuk NYT juga dengan segera memberitakan bahwa pelakunya Assad tanpa melakukan investigasi terlebih dahulu. Kemudian penyelidik PBB melakukan penelitian dan menyatakan bahwa pelakunya bukan tentara pemerintah. [5]

  1. Jurnalis NYT tidak menghiraukan motif. Siapa yang mendapatkan keuntungan dari serangan ini? Posisi tentara pemerintah Suriah saat ini sedang di atas angin; mereka sudah meraih kemenangan di banyak front melawan “jihadis”. Untuk apa menyerang Idlib dengan senjata kimia, di sebuah kawasan yang ‘tidak penting’ (Idlib bukan front pertempuran saat ini), yang sudah dipastikan beresiko memunculkan kemarahan internasional yang akan melegitimasi PBB untuk mengirim NATO ke Suriah? Kejadian itu juga dilakukan menjelang pertemuan Uni Eropa di Brussel yang akan membahas Suriah; kalau Assad memang melakukannya, sama saja dengan ‘bunuh diri diplomatik’. Sebaliknya, justru pihak “jihadis” yang berkali-kali menyerukan agar PBB segera mengirim NATO di bawah kedok ‘humanitarian intervention’.

 

  1. Berita NYT mengabaikan banyak detil. Banyaknya jasad yang tergeletak, yang terlihat di foto/video, tidak bisa langsung disimpulkan ada serangan senjata kimia. Foto/video tersebut hanya membuktikan satu hal: ada pembunuhan terhadap mereka. Untuk membuktikan adanya serangan senjata kimia, foto-foto dan video harus menunjukkan scene yang lebih luas: orang-orang yang tergeletak di luar rumah, kawasan penduduk di sekitar, hewan-hewan yang mati, tim medis yang berpakaian lengkap, dll. [Quiz: perhatikan foto yang saya upload ini, ini foto yang dipakai NYT, dimana kejanggalannya? Jawaban ada di akhir tulisan]

idlib9a

Jurnalis NYT seharusnya melakukan verifikasi info yang diberikan kelompok oposisi alias “jihadis” dengan mengajukan pertanyaan detil: bagaimana detilnya kejadian itu, kapan, dimana lokasi tepatnya, bagaimana kawasan penduduk di sekitarnya, bagaimana faktor angin menyebarkan gas itu, berapa jumlah penduduk di sana, dan berapa yang menjadi korban (dan mengapa ada yang tidak jadi korban padahal menghirup gas yang sama), bagaimana korban dibawa dari lokasi awal ke lokasi ketika mereka direkam kamera, dst.

NYT juga mengabaikan fakta bahwa pemilik senjata kimia justru adalah para “jihadis” (disuplai oleh Turki dan Saudi), bukan tentara pemerintah. Menlu AS John Kerry sendiri yang mengumumkan pada 2014 bahwa senjata kimia yang dimiliki pemerintah Suriah sudah berhasil dilucuti/ditarik oleh tim PBB.

  1. Untuk peneliti: karena NYT tidak melakukan cross-check, kitalah yang melakukannya dengan membaca berbagai berita pembanding atau analisis berita yang ditulis pengamat. Misalnya, analisis berita yang dilakukan oleh Paul Antonopoulos di media anti-mainstream. [6]. Jadi, dalam hal ini, kita menggunakan kedua jenis media (media mainstream dan anti-mainstream) dengan sikap kritis. Kita juga perlu mengecek akun-akun “jihadis” dengan sikap kritis. Misalnya salah satu dokter yang berada di Idlib, Shajul Islam, yang sudah dipecat jadi dokter di Inggris. Di akun twitternya, ia menyebut bahwa yang terjadi adalah serangan gas sarin. Lalu, cek, seperti apa kondisi manusia jika terkena gas sarin, bandingkan dengan foto dan video yang tersebar.

 

  1. Terakhir: dengan segala kejanggalan dan pelanggaran kaidah jurnalistik yang dilakukan NYT, faktanya: ada mayat-mayat manusia (termasuk anak-anak). Siapa mereka? Kita bisa melakukan cross-check ke beberapa sumber lain. Sepekan sebelum kejadian, ada penculikan terhadap 250 orang di kawasan Majdal dan Khattab oleh milisi bersenjata yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Kejadian yang sama terjadi di bulan Agustus 2013, para “jihadis” menculik warga di pinggiran Latakia, lalu 2 pekan kemudian muncul video ‘serangan gas sarin’ di mana korbannya adalah orang dan anak-anak yang diculik itu.

 

[1] https://www.nytimes.com/aponline/2018/02/02/us/politics/ap-us-united-states-syria.html

[2]https://mobile.nytimes.com/2017/04/04/world/middleeast/syria-gas-attack.html?smid=fb-nytimes&smtyp=cur&_r=0&referer=http%3A%2F%2Fm.facebook.com

[3] http://www.independent.co.uk/voices/donald-trump-post-truth-world-living-the-lies-of-others-a7500136.html

[4] lihat foto-foto di sini yang memperlihatkan bahwa anggota White Helmets sesungguhnya adalah para “jihadis”. https://clarityofsignal.com/2017/02/27/massive-white-helmets-photo-cache-proves-hollywood-gave-oscar-to-terrorist-group/

[5]http://m.washingtontimes.com/news/2013/may/6/syrian-rebels-used-sarin-nerve-gas-not-assads-regi/

[6] http://www.informationclearinghouse.info/46801.htm#.WOWswBR1m8A.facebook

Jawaban quiz: Sungguh aneh, mengapa yang berpakaian putih2 itu malah pasien, bukan tim medis?

Foto-foto yang disebarkan terkait serangan gas di Idlib banyak kejanggalan, terutama: tim penyelamat tak pakai kostum dan masker yang seharusnya dipakai di lokasi yang terpapar gas sarin. Anehnya, dengan semua keterbatasan kostum itu, tim relawan/medis baik-baik saja. Bahkan ada foto relawan yang sedang merokok di lokasi. Bukankah gas menyebar kemana-mana? Dan panjang lagi analisisnya. Kamu bisa baca di buku Salju di Aleppo

 

Coba perhatikan foto ini, White Helmets sedang menolong korban gas sarin, katanya. Apa yang janggal?

idlib4a

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: