Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Ketika Mahasiswa dan Alumni Suriah Berani Angkat Bicara

Ketika Mahasiswa dan Alumni Suriah Berani Angkat Bicara

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan
mhsw suriah

salah satu majelis ilmu agama di Damaskus (foto:Lion Fikyanto)

Sungguh, beberapa hari terakhir saya merasa lega, menyaksikan beberapa mahasiswa Indonesia di Suriah dan Ikatan Alumni Suriah berani bersuara ‘keras’ melawan hoax soal Suriah. Biar bagaimanapun, mereka tinggal bertahun-tahun di Suriah, merasakan dan menyaksikan sendiri atmosfer kehidupan di sana.

Seorang mahasiswa bernama Lion Fikyanto menceritakan betapa majelis-majelis ilmu mazhab Sunni sangat hidup di Suriah:

Beginilah hari-hari ku sebagai pelajar di Ibukota Suriah yang bernama “Damaskus” dibawah kekuasaan yang mereka sebut Taghut, Fir’aun dll,jadwalku mengaji full dari hari ke hari, berpindah tempat dari satu masjid ke masjid lainnya,itu diluar kesibukan kampus tentunya, silahkan tanya kepada seluruh anggota PPI Damaskus, satu sama lain pasti tidak akan cocok jadwal mengajinya, karena kita memilih masing-masing sehingga ga jarang jika kita tak pernah sepakat untuk ngaji bersama.

Masjid-masjid selalu penuh dengan kajian keilmuan, halaqah-halaqah Al-Qur’an, Alhadist dengan Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah(Asy’ari & Maturidi) berpegang teguh pada Madzhab Fiqh 4(Hanafi,Maliki, Syafi’i,Hanbali) serta berdasarkan konsep Ihsan(Tasawuf) yang berarti Tazkiyah untuk mengimbangi semua keilmuan tersebut.

Demi Allah! Kemanapun kaki ini melangkah, pasti selalu ada setiap Masjid yang membuka Talaqqi, mulai dari yang bertaraf anak2, remaja, bahkan untuk semua kalangan, mulai dari yang private(satu guru utk,satu atau dua murid) atau yang dibuka untuk Umum, sampai-sampai akupun tak sanggup melayani Ambisi menuntut ilmuku karena saking padatnya Jadwal yang bertabrakan dengan jadwal pengajian lainnya,

Yang dia tulis itu seharusnya sudah dipahami publik Indonesia sejak awal perang Suriah (2011-2012). Betapa banyak orang Indonesia yang belajar di Suriah selama puluhan tahun terakhir, mereka penganut Aswaja dan sebagian sudah pulang dengan selamat sentausa, jadi ustadz di pesantren atau pegawai di Kemenag Indonesia (sebagian masih sekolah di Suriah sampai hari ini). Buku-buku ulama Aswaja asal Suriah (misal, karya-karya Syekh Buthy -yang pada 2013 gugur syahid dibom teroris-mengaku-mujahidin) dibaca luas di pesantren-pesantren Aswaja di Indonesia.

Mereka ini bukti nyata bahwa pemerintah Suriah TIDAK MEMBANTAI warga Sunni sebagaimana gosip yang disebarkan oleh para ustadz/zah yang mendadak jadi ahli geopolitik dan lembaga-lembaga donasi itu.

Kok sebagian orang susah amat mencerna fakta sesederhana ini ya?

 

Tentu saja, sangat mungkin Anda akan menemukan ada di antara alumni/mahasiswa yang berbicara berbeda. Tapi dalam penelitian ilmiah sudah ada prosedurnya: lakukan triangulasi data. Data-data yang kontradiktif dianalisis bersama dokumen-dokumen terkait, baru diambil kesimpulan. Dalam pemberitaan media, langkah cover both-side itu wajib dilakukan.

Karena itu, sangat lucu ketika ada dosen jurnalistik yang menulisi ‘analisis’-nya dengan dasar “kata teman saya orang Suriah yang tinggal di Inggris”. Atau ketika facebooker ngotot melawan data-data valid dengan berkata, “Kata ustad anu yang pernah ke Suriah”.

Sayangnya, banyak informasi salah tentang Suriah justru datang dari ustadz/ustadzah yang cenderung dipengaruhi kuat oleh emosi atau keterikatan ideologis dengan organisasi yang diikutinya (sebagaimana kita tahu, “jihadis” di Suriah berasal dari kalangan Al Qaida, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan ISIS; organisasi-organisasi ini punya cabang di Indonesia).

Di antara ustadz yang bersuara keras soal Suriah (dalam versi yang salah) adalah Ustadz Abdul Somad. Antara lain beliau mengatakan bahwa rezim Assad adalah Syiah, kaum Sunni di Suriah dibantai,

“Bashar Al-Assad adalah penjahat kemanusiaan seperti Hitler, Stalin, Lenin, Polpot, dan lain sebagainya. PENDAPAT INI kami ambil dari guru kami seorang Ulama ahli hadits Suriah bernama SYAIKH MUWAFFAQ, mursyid thariqat syadziliyyah di Suriah yang kami telah mendapatkan SANAD darinya.”

Alumni Suriah (Alsyami) bahkan mengundang Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk bertabayun dalam acara Silaturahmi Nasional Alumni Suriah (digelar hari ini dan besok). Saya baca surat resmi Alsyami (banyak dishare di FB dan media-alternatif; sepertinya media mainstream belum mengangkat berita baik ini), isinya begini:

“Memperhatikan pernyataan Anda yang beredar di media sosial terkait kehidupan beragama dan bernegara di Suriah, kami menemukan ada banyak poin yang tidak sesuai dengan fakta yang kami ketahui dari guru-guru (masayikh) dan  kawan-kawan kami di Suriah yang menjadi sebagai saksi mata, menjalani setiap detik kehidupan di sana, dan merasakan atmosfer, serta membaca sejarahnya. Untuk itu dengan hormat, dalam rangka melaksanakan perintah Allah agar senantiasa ‘tawasaw bil haq’ kami mengundang Anda untuk tabayun bersama kami…”

 

Akankah UAS datang bertabayun langsung kepada ulama Suriah yang hadir dalam acara Alsyami di Medan? Atau beliau tetap berkeras mengutip ‘ulama’ yang lain lagi, seperti yang dilakukannya selama ini? Apakah beliau mau melakukan langkah ilmiah triangulasi data (menganalisis 2 info yang kontradiktif bersama dokumen-dokumen yang valid, serta berbagai langkah verifikasi lainnya, misalnya analisis foto-dan video, dan kredibilitas sumber berita?)

Tentu ajakan bertabayun ini tidak terbatas untuk UAS, tapi kepada semua “shareholder” (pemegang saham) dalam konflik Suriah ini. Kenapa kok disebut ‘saham’? Ya karena konflik ini dibawa-bawa ke Indonesia dengan melibatkan uang amat-sangat-besar.

Kalian pikir berapa harga baliho dan spanduk raksasa yang dipasang di pinggir-pinggir jalan untuk meminta donasi Suriah? Berapa biaya merekrut dan mengirimkan para “jihadis” asal Indonesia? Berapa biaya roadshow di seluruh Indonesia untuk bicara soal Suriah [dalam versi “jihadis”] lalu merogoh kocek para hadirin yang berhasil dibuat menangis dengan video-video palsu? Berapa biaya yang digelontorkan negara-negara NATO dan Teluk dalam menyuplai senjata untuk para “jihadis”? Menurut kalian, mereka melakukan itu karena ‘dermawan’, atau ada imbalan besar yang dikejar (minyak, gas, dll)?

Selamat ber-silaturahim untuk Alsyami. Untuk Alsyami dan mahasiswa Indonesia di Suriah, saya serukan, beranilah terus bersuara. NKRI benar-benar terancam akibat penyebaran hoax yang amat tersistematis dan masif ini, Anda semua punya tanggung jawab besar untuk melakukan klarifikasi dan pengimbangan berita.

Dibully? Ah, biasa itu. Anda pastilah lebih kuat daripada kami, ibuk-ibuk yang selama ini di sela-sela bejibunnya urusan rumah tangga meluangkan waktu untuk melakukan perlawanan kecil di medsos. 🙂

 

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: