Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Ada Siapa di Idlib?

Ada Siapa di Idlib?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan
Idlib-April 2018-sumberACT

Foto di Idlib, diupload sebuah lembaga pengepul donasi di Indonesia, perhatikan ada milisi bersenjata; juga fotografer yang menggunakan boot dan celana khas petempur.

Setelah kampanye #SaveGhouta terpental karena terlalu banyak keanehan (antara lain, baca tulisan saya berjudul #CumaNanya dan Menjawab Pembela ACT), tiba-tiba muncul narasi baru: warga sipil Suriah di Ghouta melarikan diri dari rezim Assad, mereka terpaksa berjalan kaki menempuh ratusan kilometer untuk mendapatkan perlindungan di Idlib.

Kisah “berjalan kaki” pun terbantah. Semua media mainstream berterus-terang bahwa orang-orang dari E.Ghouta DIANTAR dengan fasilitas pemerintah Suriah ke Idlib dengan menggunakan bus-bus. Sebagian bus itu berwarna hijau, ini bus-bus ‘legendaris’, dulu waktu Aleppo dibebaskan dari tangan “mujahidin”, pemerintah juga menyediakan bus-bus berwarna hijau itu.

Mengenai bis berwarna hijau ini, Mantan Dubes Inggris untuk Suriah, Peter Ford pernah berkata (dalam wawancara dengan Radio BBC pasca pembebasan Aleppo dari tangan “pemberontak” Des 2016):

“Tidak ada bus hijau di Gaza [ketika Israel membombardir Gaza]. Tidak ada bus hijau ketika NATO membombardir Yugoslavia hingga berkeping-keping.”

Saat Ford ditanya, “Tapi bukanlah hal yang mengerikan,  Assad mengebom rumah sakit dan sekolah?”, dia menjawab, “Tentu saja, tapi menggunakan rumah sakit sebagai markas komando, sebagaimana yang dilakukan jihadis adalah sebuah kejahatan perang; menggunakan sekolah sebagai tempat penyimpanan senjata sebagaimana yang dilakukan jihadis adalah sebuah kejahatan perang.” sumber

Kisah Ghouta sebenarnya begini:

wilayah itu sudah 5 tahun dikuasai kelompok-kelompok “jihad” (antara lain Jaish Al Islam, Faylaq ar Rahman, dll, semuanya dengan ideologi yang sama dengan Al Qaida). Pemerintah Suriah pun berupaya mengambil alih kembali wilayah itu. Setelah bertempur beberapa waktu, akhirnya pihak “jihadis” menyerah. Pemerintah Suriah memberikan opsi: petempur yang ingin kembali bergabung dengan pemerintah akan diamnesti; petempur yang menolak bergabung dievakuasi ke Idlib (bahkan diperbolehkan membawa senjata ringan mereka; tapi senjata berat harus ditinggal).

Para petempur ini, baik yang warga asli Suriah maupun petempur asing, hidup bersama keluarga. Pernah dengar istilah “jihad nikah” kan? Petempur-petempur yang bujangan dinikahkan dengan wanita “mujahidah” yang datang dari berbagai negara, antara lain Tunisia, dan negara-negara Eropa. Mereka pun beranak-pinak.

Oleh para pendukung “mujahidin” (antara lain, para pengepul donasi, simpatisan Hizbut Tahir, Ikhwanul Muslimin, Al Qaida, serta media mainstream Barat), mereka ini disebut “pengungsi” atau “warga sipil”.

Untuk menilainya, bagaimana kalau kita bayangkan Indonesia lagi? Misalnya nih, di Bekasi ada kelompok “jihad” yang kerjanya tiap hari mengebom Jakarta (jarak E.Ghouta-Damaskus kira-kira sama dengan Bekasi-Jakarta). Lalu, TNI mengambil alih wilayah Bekasi, menyelamatkan warga di sana, dan mengusir para “mujahidin” entah ke kota mana.

Lalu, para pendukung mujahidin ini, mentang-mentang mereka bawa istri-anak, berkata, “Woy, kami ini rakyat sipil! Ini lihat anak-istri kami! Jangan serang! Biarkan kami bikin khilafah di Bekasi! Biarkan kami mengebom kalian warga Jakarta! Kami berhak mengebom kalian karena kalian itu thaghut, kafir..!”

Kalian mau jawab apa?

Pertanyaan besarnya: bagaimana dengan nasib jutaan warga sipil Suriah yang tak angkat senjata sejak awal, yang cuma ingin hidup damai, sama sekali tidak tertarik pada “khilafah”, dan ikut dalam pemilu 2014 (70% turn-out vote dan 80% memilih Bashar Assad sebagai presiden)?

Mengapa dunia dipaksa untuk lebih memperhatikan suara dari ratusan ribu “rakyat sipil” yang sejak 2012 melakukan berbagai aksi bom bunuh diri, meledakkan bom di tempat keramaian, memenggal kepala, serta membunuhi para ulama (Syekh Buthy, salah satunya)? Pada tanggal 31 Maret 2013, “mujahidin” membunuh dan memutilasi ulama Sunni Aleppo yang menolak bergabung dengan mereka, Syekh Hassan Seifeddin. Jasad Syekh Seifeddin diseret di jalanan, dan kepalanya diletakkan di menara masjid Al Hassan.

Mengapa dunia membiarkan sekelompok orang memaksakan kehendak mereka di sebuah negara, dengan cara barbar, serta mengabaikan kehendak sebagian besar warga negara itu?

***

Pertanyaan berikutnya: mengapa para “mujahidin” dievakuasi ke Idlib?

Jawab: Karena inilah hasil negosiasi antara “mujahidin” dengan tentara Suriah. Mereka menyerah dan minta dibebaskan untuk pergi ke Idlib. Sebagai imbalannya, warga sipil yang mereka sandera dibebaskan untuk pergi ke wilayah yang dikuasai pemerintah. Ini tentu tak lepas dari instruksi para “bos besar” mereka (antara lain Turki, Qatar, Saudi).

Idlib adalah provinsi yang berbatasan dengan Turki (sehingga suplai logistik dari Turki, salah satu sponsor “mujahidin”, relatif mudah). Idlib jatuh ke tangan “mujahidin” sejak Maret 2015. Jumlah warga Idlib sebelum 2011 adalah 120.000 orang; sebagian besarnya mengungsi akibat perang. Idlib kini dihuni oleh milisi-milisi jihad yang terusir dari berbagai wilayah Suriah (termasuk Ghouta). Menurut Al Arabiya, jumlah populasi di Idlib tahun 2016 adalah 200.000 orang.

Sementara itu, jumlah penduduk di Ghouta timur (kecuali Douma, yang masih dalam tahan negosiasi antara Jaish al Islam dan tentara Suriah) adalah 280.000. Hanya 20.000 yang memilih pergi ke Idlib.

Jadi, silahkan mengangkat alis dan berkata #eh? ketika ada yang bilang ada lebih dari sejuta pengungsi di Idlib, menderita, kelaparan, bla..bla.. sehingga butuh “donasi” bangsa Indonesia.

Bantuan warga Indonesia (yang jumlahnya lebih dari 10 M, digalang dengan cara menyebar narasi palsu soal Suriah) akan diserahkan ke Idlib? #eh?

Terserah saja. Tugas saya sebagai peneliti Timteng cuma ngasih tau, siapa yang ada di Idlib.

Ini salah satu video yang isinya tentang “mujahidin” asal Uyghur (China) dengan istri-anaknya, tinggal di Idlib.

#SaveAkalKritis

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: