Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Bocah Yaman

Bocah Yaman

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Foto tragis bocah ini kemungkinan besar tidak akan menjadi headline di media massa internasional. Tidak akan disebarkan dengan penuh semangat oleh orang-orang yang mengaku “pejuang kemanusiaan” dan hobi pakai tagar Save Humanity (sambil memberi nomer rekening bila Anda ingin menyumbang).

Bocah ini sedang memeluk erat jasad ayahnya, yang tewas dalam pengeboman yang dilakukan oleh rezim Arab Saudi pada 24/4/2018. Ayah dan anak itu sedang berada di sebuah pesta pernikahan. Pernikahan, sama sekali bukan aksi teror yang patut dilawan dengan senjata. Pernikahan adalah ikatan suci dan kegembiraan di tengah nestapa sebuah negeri yang 3 tahun terakhir dibombardir dan diblokade Arab Saudi dengan bantuan AS dan senjata-senjata yang diimpor dari negeri-negeri Barat.

Tetapi, rezim kriminal perang itu mengebomnya, menewaskan 50-an orang, termasuk ayah si bocah. Dia memeluk jasad sang ayah erat-erat dan menolak dipisahkan oleh warga yang hendak menolongnya. Dia menyatakan bahwa sang ayah hanya tidur dan sebentar lagi bangun lalu membawanya pulang.

Lima puluhan orang yang tewas dalam aksi pengeboman ini, hanya akan menjadi berita sekilas di media, lalu berujung pada kalimat diplomatik ‘keprihatinan’ (consern) dari PBB, atau pemimpin berbagai negara yang masih kuatir kalau rezim Saudi yang “mulia” itu tersinggung bila mereka memakai kata diplomatik yang lebih tajam (condemn/mengutuk, misalnya).

Tidak akan ada seruan “Salman must go” dari para elit dunia sebagaimana mereka heboh sekali mengatakan “Assad must go” berdasarkan info hoax.

Tidak akan ada seruan ‘jihad’ melawan rezim Saudi dari para simpatisan ‘jihad’. Mereka selama ini malah hobi menjustifikasi kebrutalan bos mereka itu dengan menyatakan bahwa konflik di Yaman adalah “gara-gara Syiah”.

Orang-orang sok humanis, biasanya juga diam. Paling-paling mengecam sambil menyalah-nyalahkan Arab. “Memang Arab-Arab ini dari dulu hobinya berantem!” atau “Umat Islam itu memang jahat kok, dulu aja kerjasama dengan Nazi,” demikian di antara ocehan mereka, demi membela AS dan Israel yang menjadi sponsor berbagai perang di Timteng.

Generalisasi adalah sebuah falasi. Kadang dilakukan dengan sadar karena punya misi (bila yang melakukannya ilmuwan), kadang tidak sadar, karena tidak didukung pengetahuan yang cukup. Hanya didasarkan info sepotong-sepotong dari media mainstream, tidak memahami peta konflik dan geopolitik, dicampur hoax dan kebencian.

Karena media internasional dan nasional tak banyak memberitakan Yaman (jauh kalah heboh dibanding Suriah), juga para simpatisan “jihad” tak bersuara (mana berani mereka mengecam bosnya?), perang Yaman memang terlupakan oleh publik Indonesia.

Untuk mencerna konflik Yaman sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Asal punya basis logika yang kuat, sudah cukup. Berikut ini analisis “gampang”-nya:

APAKAH ALASAN SAUDI MENYERANG YAMAN?
-Jika karena alasan Syiah, bukankah di Arab Saudi sendiri juga banyak Syiah?
-Jika dengan alasan membasmi pemberontak (bughot), mengapa pemberontak di Suriah malah didukung Arab Saudi?
-Jika dengan alasan Syiah, mengapa yang diserang Arab Saudi bukan Iran?
-Jika Arab Saudi sedang memberikan bantuan kemanusiaan untuk warga Yaman, mengapa menggunakan bom, korban yg berjatuhan pun dari pihak sipil (wanita dan anak kecil)?
-Jika Arab Saudi sedang memperjuangkan agama Islam, mengapa dibantu AS dan Israel?
-Jika Arab Saudi sedang membantu sesama Arab (rezim Mansur Hadi yang minta perlindungan), bukankah Palestina juga sangat Arab? Mengapa setelah berlalu puluhan tahun, Saudi tak juga menyerang Israel yang menindas warga Arab Palestina?
-Jika Arab Saudi ingin menegakkan demokrasi (melindungi rezim Mansur Hadi), bukankah Arab Saudi sendiri adalah rezim monarkhi non- demokratis?

APAKAH INI KONFLIK SUNNI-SYIAH?
-Saat Hosni Mubarak (Sunni) digulingkan melalui aksi-aksi demo masif rakyatnya sendiri, Arab Saudi secara resmi menentang penggulingan itu, tapi tak melakukan apapun.
-Saat Presiden Mursi dikudeta, Saudi mengucapkan selamat pada Jenderal Al Sisi (Sunni) dan memasukkan Ikhwanul Muslimin (Sunni) sebagai organisasi teroris.
-Saat Presiden Bashar Assad (dituduh Syiah) diperangi oposisi dan pemberontak, Saudi mendukung (dan membiayai) pemberontak itu.
-Saat rakyat Bahrain (sebagian Sunni, sebagian Syiah) berdemo besar-besaran untuk menuntut raja dari dinasti Al Khalifah (Sunni) mundur, Saudi mengirim pasukannya untuk menembaki dan menangkap para demonstran.
-Saat rakyat Palestina (mayoritas Sunni) lebih 60 tahun berjuang melawan Israel yang menjajah tanah air mereka, Saudi diam saja.
-Saat rakyat Yaman dari berbagai faksi dan mazhab (Sunni dan Syiah) berdemo besar-besaran memprotes rezim Mansour al Hadi, Saudi membombadir Yaman.

KESIMPULAN: peta lawan-dan-kawan Saudi sangatlah acak, tidak melulu Sunni atau melulu Syiah. Jadi akar konflik di Yaman dan Timteng bukan mazhab, tapi kepentingan (uang & kekuasaan).

Lalu, apa sebabnya Saudi mengebom Yaman selama 3 tahun tanpa henti? Jawabannya bisa dibaca di sini:
“Yaman dan Pipa Minyak” http://ic-mes.org/energy/pecah-belah-dan-kuasai-yaman-dan-pipa-minyak/

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: