Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Indonesia Tidak Diajak dalam Koalisi Militer Saudi?

Indonesia Tidak Diajak dalam Koalisi Militer Saudi?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Dalam postingan saya soal Yaman (mengecam Saudi, tentu saja), ada yang komen membela Saudi dan menyebut “koalisi militer Saudi, Indonesia tidak diajak”.

Kebetulan, beberapa hari sebelumnya, saya dikirimi broadcast di grup-grup WA isinya tentang “aliansi militer Islam Sunni” yang dibentuk Arab Saudi. Kalimatnya pembukanya begini: Innalillahi… kita ditinggalkan oleh saudara-saudara Negara Muslim Dunia.” Menurut broadcast itu: Indonesia (dan Iran) tidak diajak oleh Saudi dalam aliansi militer tersebut karena Indonesia lebih dekat dengan komunis (China) dan Syiah (Iran).

Duh, padahal ini cerita lama dan sudah ada klarifikasinya. Entah mengapa digoreng ulang via grup-grup WA. Sebagai tanggapan, saya copas beberapa berita di koran.

Di Republika tanggal 15/12/2015 ditulis:
[Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir mengatakan, bergabung dengan koalisi militer internasional tidak sejalan dengan Undang-Undang. “Ini sejak awal tidak sejalan dengan Undang-Undang,” kata Juru bicara yang akrab disapa Tata ini.

Menurut dia, dua hari lalu, Arab Saudi menawarkan pada Indonesia melalu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk bergabung dengan rencana pembentukan Center for Counter Extremism and Terorism. “Saat itu, yang ditawarkan adalah sebuah Center,” kata Tata.]

Paham ya: Indonesia DIAJAK GABUNG, tapi MENOLAK. Sebabnya, karena bertentangan dengan undang-undang.

Dari berita DW Indonesia tanggal 16/12/2015, kita tahu bahwa justru awalnya: Saudi menyusun list dengan mencantumkan nama Indonesia dan Pakistan sebagai anggota koalisi. Hal ini dibantah Menlu Retno, dan Menlu Pakistan, Aizaz Chaudry.

Merdeka.com (4/3/2016) mewawancarai bu Menlu langsung. Ini saya copas sebagian:

*Merdeka: Kenapa Indonesia tidak bisa bergabung dengan aliansi militer Saudi?

Menlu Retno: Sudah jelas posisi kita. Kita tidak bisa bergabung, karena itu adalah aliansi militer, sedangkan prinsip politik luar negeri kita tidak mengizinkan kita mengikuti aliansi semacam itu. Selama republik ini berdiri, kita juga tidak pernah ikut aliansi militer.

Pengerahan militer yang kita ikut hanya dalam konteks Pasukan Perdamaian PBB. Selain itu, tidak bisa.

*Merdeka: Kerajaan Saudi bisa menerima penolakan Indonesia?

Menlu Retno: Saya sudah bicara dengan Menlu Saudi (Adel Al Jubeir-red). Saya bicara prinsip-prinsip mengenai polugri Indonesia. Saya berteman baik dengan Menlu Arab Saudi, jadi bisa bicara dari hati ke hati.

Saya jelaskan mengenai polugri itu, dia paham. Sebab di negara mana pun dia tidak mungkin melanggar prinsipnya. Itu jelas sekali. Jadi kerja sama yang bisa dilakukan sebatas dalam prinsip berbagi informasi, katakanlah exchange of expert. Kalau seperti itu kita akan lakukan. Bukan berarti kemudian tidak akan ada kerja sama untuk counterterorism.

***

Menurut saya, koalisi militer anti-terorisme (The Islamic Military Counter Terrorism Coalition) yang digagas Saudi adalah lelucon. Saat Ghouta timur, Suriah, dibebaskan dari para teroris (mereka yang mengaku “jhadis” itu menyerah dan dievakuasi ke Idlib), ditemukan gudang-gudang penyimpanan senjata kimia. Tertera nama Saudi di labelnya.

Dan sudah sangat banyak bukti bahwa Saudi selama ini yang mendanai berbagai kelompok teror (yang mengaku “berjihad”) di Suriah. Aksi pengeboman rakyat sipil Yaman yang dilakukan 3 tahun terakhir oleh Saudi juga sangat pantas disebut aksi “terorisme yang dilakukan negara”. Negara pendukung teroris bikin aliansi militer antiteroris itu jelas lelucon.

Jadi, masih mau bilang “innalilahi” karena “tidak diajak” Saudi?

Saya sih malah Alhamdulillah. Saya justru mendukung penuh penolakan pemerintah untuk masuk ke dalam koalisi militer buatan Saudi ini. Ini membuktikan pemerintah kita konsisten menjaga amanah UUD 1945 terkait politik luar negeri.


Ref:
[1] http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/15/12/15/nze4qa377-indonesia-tolak-gabung-aliansi-militer-islam-pimpinan-saudi
[2] http://www.dw.com/id/arab-saudi-catut-nama-indonesia-dan-pakistan-dalam-koalisi-anti-teror/a-18920801
[3] https://www.merdeka.com/dunia/ri-punya-cara-melawan-isis-tanpa-harus-gabung-koalisi-militer-saudi-wawancara-khusus-menlu-ri-2.html

—-
Foto: seorang anak Yaman di sebuah puing gedung yang dibom Saudi (18 Maret 2018/AFP), menurut UNICEF (2018), setengah juta anak Yaman terpaksa putus sekolah sejak 2015 akibat perang.

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: