Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Kisah Para Pengungsi: Antara Palestina dan Sampang

Kisah Para Pengungsi: Antara Palestina dan Sampang

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Sepekan setelah perayaan Idul Fitri tahun 2012, warga dusun Nangkernang, desa Karang Gayam, Sampang (Madura) yang bermazhab Syiah diserang oleh segerombolan massa fanatik. Rumah-rumah dan hewan ternak mereka dibakar habis. Awalnya mereka mengungsi ke GOR Sampang, lalu pemerintah daerah merelokasi paksa mereka ke rusun di Sidoarjo. Hingga hari ini, mereka masih tinggal di rusun itu.

Menjelang Idul Fitri 2018, tepatnya tanggal 13 Juni lalu, salah seorang pengungsi yang bernama Kurriyah (ada juga yang menulis ‘Qurriyah’) meninggal dunia pada usia 24 tahun. Sanak keluarga membawa jasadnya ke kampung halaman untuk dimakamkan, namun ditolak oleh oknum warga. Tak ada perlindungan dan pembelaan dari pemerintah. Jasad Kurriyah pun dimakamkan di tanah pengungsian.

Kata ‘pengungsi’ akan selalu mengingatkan kita pada Palestina.

Entitas Zionis dengan berbekal ‘surat izin pendirian negara’ yang dirilis DK PBB tahun 1947 melakukan pembersihan etnis Arab dari kawasan yang akan mereka jadikan negara. Taktik mereka (sebagaimana ditulis oleh sejarawan Yahudi, Ilan Pappe) adalah seperti ini: desa-desa dikepung dari tiga arah dan arah keempat dibuka untuk pelarian dan evakuasi.

Dalam beberapa kasus, taktik ini tidak berhasil karena para penduduk desa tetap tinggal di dalam rumah-rumah mereka. Dalam kondisi seperti inilah dilakukan pembunuhan massal. Hingga tahun 1954, total 80% orang Palestina yang tinggal di kawasan ‘jatah’ Israel telah terusir dan hidup di pengungsian hingga kini. Kawasan jatah Israel pun, yang oleh PBB ditetapkan 56,5% telah meluas menjadi 77% dan aksi perampasan tanah milik warga Arab terus berlanjut hingga hari ini.

Para pengungsi Palestina pun tinggal di tenda-tenda yang disediakan PBB. Hampir semua lokasi pengungsian ini akhirnya menjadi tempat tinggal mereka sampai hari ini. Satu-satunya harapan bagi para pengungsi adalah Resolusi PBB nomor 194 tahun 1948 yang menjanjikan bahwa mereka akan segera dipulangkan ke rumah masing-masing. Resolusi itu tidak pernah dipatuhi Israel hingga hari ini.

Selain itu, ada orang-orang Arab yang masih ‘tersisa’ di dalam wilayah yang menjadi jatah Israel. Mereka diusir dari rumah-tanah mereka. Rezim Zionis memang membangun tempat tinggal baru untuk orang-orang Arab itu, tapi di tempat lain. Inilah RELOKASI versi Israel: tanah dan rumah penduduk Arab dirampas, lalu mereka diberi ganti tempat tinggal dengan kondisi yang mengenaskan.

Israel menetapkan hukum law of return: mengizinkan orang Yahudi (dari berbagai penjuru dunia) untuk ‘kembali’ dan menjadi warga Israel dengan diberi berbagai fasilitas istimewa; tetapi pada saat yang sama, mengabaikan right of return orang-orang Arab ke tanah dan rumah mereka.

Orang-orang Arab yang ‘tersisa’ di wilayah Israel menjalani kehidupan yang didiskriminasi. Untuk mencari nafkah, mereka terpaksa melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar yang enggan dilakukan warga Yahudi (tukang sampah, misalnya). Ada juga yang menjadi tentara Israel untuk melakukan pekerjaan kotor: membunuhi warga Palestina (saudara mereka sendiri). Keberadaan para Muslim di Israel (termasuk yang jadi tentara) inilah yang terus dibangga-banggakan oleh fans Israel di Indonesia (konon, inilah bukti ‘kebaikan’ Israel), tanpa peduli pada kisah sebenarnya.

Warga Muslim di Israel statusnya adalah IDP (Internally Displaced Person). IDP tidak sama dengan pengungsi, karena mereka tidak melintas batas negara. Mereka mengungsi (atau tepatnya, diusir dari tempat tinggal asal), dan terpaksa hidup di tempat lain, meski tetap berada dalam wilayah yang sama. Mereka mengungsi, tapi tidak berstatus pengungsi (refugees).

Menurut aturan UNHCR, IDP adalah tanggung jawab pemerintah lokal. IDP di Israel adalah tanggung jawab pemerintah Israel, meskipun justru Israel sendiri yang menyebabkan mereka jadi pengungsi. Artinya, kejahatan Israel terhadap IDP tidak bisa diutak-atik orang luar. Untuk membantu pengungsi yang benar-benar pengungsi (refugees), ada banyak organisasi sosial internasional yang bisa turun tangan. Tapi upaya membantu IDP akan bertabrakan dengan tembok ‘kedaulatan negara’ dan jargon ‘dilarang mencampuri urusan internal negara lain.’

IDP bukan hanya orang Palestina di Israel. IDMC (The Internal Displacement Monitoring Centre) mencatat, di seluruh dunia ada sekitar 26.400.000 orang yang terpaksa menjadi IDP: secara de jure mereka berstatus warga negara, tetapi secara de facto mereka adalah pengungsi. IDMC mencatat ada 180.000 orang Indonesia yang berstatus IDP. Warga Muslim Syiah di Sampang dan warga penganut Ahmadiyah di NTB adalah di antaranya.

Bila ‘hak kembali’ bangsa Palestina yang nun jauh di sana saja wajib diperjuangkan pemerintah berdasarkan amanah UUD 1945, ‘hak kembali’ warga negara sendiri yang terusir tentu jauh lebih wajib dipenuhi oleh pemerintah RI.

Foto: rumah yang dibakar massa di Sampang, alm. Kurriyah/Qurriyah

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: