Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Palestina adalah Kita (New Version)

Palestina adalah Kita (New Version)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Ini tulisan yang saya janjikan kemarin. Selama ini, saya sudah berkali-kali menulis artikel dengan judul yang sama atau mirip dan isinya pengulangan. Kali ini, ada hal baru yang akan saya ceritakan.

Begini, frasa ‘Palestina adalah Kita” saya ambil dari seorang penulis Yahudi yang lahir dan besar di Israel, Gilad Atzmon. Di masa dewasanya, ia menyadari kejahatan Israel terhadap bangsa Palestina dan memilih pergi keluar, tinggal di Inggris, lalu aktif menulis mengkritik Israel dan membela Palestina. Dia bahkan menyebut diri sebagai orang Palestina. “Saya seorang Palestina yang berbahasa Ibrani,” kata Gilad kepada saya, saat kami berjumpa di Bandung tahun 2017.

Bertemu Gilad, yang sudah saya kenal via medsos beberapa tahun sebelumnya, cukup mendebarkan. Saya membaca bukunya, The Wandering Who, dan bisa merasakan pergulatan batin dan pikirannya terkait ras/leluhur/agama-nya sendiri. Ini perjumpaan kedua saya dengan orang Yahudi; yang pertama kali, bertahun yang lalu, di Tokyo.

Saya mengajak teman baik saya, Syarif, seorang penstudi HI. Kami berbincang akrab di lobby Hotel Papandayan, karena Gilad akan manggung di hotel itu malam harinya. Sikapnya hangat dan menyenangkan.

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah penjelasan Gilad mengenai politik identitas yang digunakan oleh elit Yahudi untuk kepentingan mereka. Orang-orang Yahudi dibentuk untuk lebih ‘merasa sebagai Yahudi’, dibanding ‘merasa sebagai yang lain’. Jadi, mereka akan lebih membela ke-Yahudi-an dibanding negara tempat mereka tinggal.

Sikap/pandangan seperti ini diistilahkan dengan ‘politik identitas’. Inilah yang menjelaskan mengapa orang-orang Yahudi seluruh dunia merasa terikat pada Israel, menjadi pembela Israel, dan menyumbangkan uang ‘tzedakah’ untuk kejayaan Israel. Itu pula sebabnya mereka tutup mata dan telinga melihat kebrutalan yang dilakukan tentara Israel di Palestina; karena yang penting adalah ‘mereka’ (kaum Yahudi).

Tentu saja, selalu ada perkecualian, misalnya saja Gilad, atau Miko Peled yang pernah juga saya ceritakan di fanpage ini; atau para Rabi Neturei Karta yang menolak Israel. Banyak juga orang-orang Yahudi yang mendirikan LSM untuk membela Palestina.

Gilad bertanya pada saya, apa di Indonesia juga ada politik identitas? Ada, jawab saya.

Aksi demo 212 adalah bentuk paling gamblang dari politik identitas di Indonesia. Dengan mengedepankan identitas keislaman (itupun Islam versi sebagian ustad yang berpolitik), publik digalang untuk mendukung kelompok politik tertentu. Sebagian pelaku demo tentu tak sadar; mereka semata-mata hanya merasa sedang membela agama. Perlu kecerdasan politik untuk menyadari adanya politik identitas.

Diskusi dengan Gilad memberi saya inspirasi untuk menuliskan hal-hal berikut ini.

Politik identitas atau memanfaatkan identitas tertentu dalam menggalang dukungan politik, adalah sebuah langkah berbahaya. Sebuah bangsa akan dipecah-pecah oleh identitas itu. Yang diperjuangkan bukan lagi bangsa, tetapi kelompok dengan identitas yang semu, dikonstruksi sesuai kehendak para penyandang dana. Seolah yang syar’i adalah yang ikut demo 212, yang lain tidak. Yang Islam adalah yang dukung si anu, yang lain tidak. Sehingga yang tidak dukung si anu dianggap bukan Islam dan ditolak jenazahnya oleh masjid tertentu.

Padahal kemudian diketahui, kelompok politik yang diusung 212 ternyata juga berbaik-baik dengan taipan etnis China. Lihat betapa semu identitas yang dibangun: etnis China di dalam kelompok ‘kami’ berbeda identitas dengan etnis China yang berada di luar kelompok ‘kami’. Identitas ‘kami’ dan ‘mereka’ telah membuat bangsa ini tercabik-cabik, friksinya meluber kemana-mana. Tidak lagi sebatas pilkada, tapi masuk ke berbagai ranah sosial.

Di Palestina ini pun terjadi. Hamas, yang awalnya pejuang kemerdekaan Palestina, mendapat dukungan luas dari kaum Muslimin dunia, tiba-tiba saja memilih berpihak kepada para pemberontak (teroris) Suriah. Ketika front pembela Palestina sudah mati-matian membela dan mendukung Hamas, elit Hamas malah melempar kotoran kepada mereka.

Apa sebabnya? Tak lain: politik identitas. Elit Hamas lebih mengedepankan identitas sebagai anggota Ikhwanul Muslimin, lalu bergabung dengan teroris di Suriah yang juga berasal dari IM.

Front pejuang Palestina pun kocar-kacir. Energi Suriah, Hizbullah, dan Iran, yang selama ini fokus membela Palestina terpaksa dikuras selama 8 tahun terakhir untuk berperang melawan ISIS, Al Qaida, FSA, Jaish al Islam, dll. Palestina terabaikan. Berita-berita kebrutalan tentara Israel terhadap warga Palestina terabaikan. Dunia lebih sibuk ‘mengurus’ Bashar Assad yang dituduh diktator, firaun, kejam, dll. [Tapi sekarang Hamas sudah ‘tobat’ dan lebih fokus mengurus Palestina].

Inipun terjadi di Indonesia. Sebagai bangsa, kita menikmati keleluasaan untuk bergerak sebagai satu kesatuan. Kita punya Pancasila yang menjadi perekat dari berbagai keragaman yang ada. Tentu, masih banyak yang harus dibenahi, terutama di bidang kedaulatan ekonomi.

Tapi, front tertentu tiba-tiba saja menggunakan politik identitas ini dan merobek rekatan itu. Prosesnya berbarengan dengan konflik Suriah, tapi semakin tereskalasi pada pilpres 2014 sampai sekarang. Siapakah orang-orang yang sangat aktif mengusung politik identitas keagamaan ini di Indonesia? Sudah sering saya ceritakan: tak lain, mereka yang berafiliasi dengan kelompok-kelompok yang angkat senjata di Suriah. Ikhwanul Muslimin, HTI, ISIS, Al Qaida (di Indonesia mereka menjelma dalam berbagai nama).

Saya juga sudah sering tuliskan bahwa para teroris di Suriah itu mendapatkan dana dan senjata dari AS dan sekutunya (terutama Saudi, Turki, Qatar). Para tokoh elit AS sudah mengakui hal ini, media mainstream pun sudah memberitakan.

Kemarin, saya sudah tulis bahwa segala kebijakan perang AS adalah DEMI ISRAEL. Kekacauan di Timteng dilakukan oleh kelompok-kelompok ‘jihad’ yang sebenarnya didanai oleh AS dkk.

Setali tiga uang: di Indonesia, rusaknya atmosfer kebangsaan diprovokasi oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ‘jihad’ Suriah. Entah sadar atau tidak sadar, tapi merekalah pelaku utamanya. [Oiya, mereka ini juga hobi mengusung isu Palestina, terutama untuk menggalang dana, semoga kini Anda sudah tahu posisi asli mereka].

Di Indonesia, ketika publik gaduh bertengkar akibat isu agama/sektarian, adakah yang peduli pada manuver kapitalis global dalam mengeruk kekayaan alam kita? Adakah yang mengawasi apa yang terjadi di pegunungan Kendeng, atau pertambangan-pertambangan yang memperkaya segelitir, tetapi menimbulkan dampak ekologi yang sangat buruk bagi masyarakat? Adakah yang peduli pada nasib masyarakat yang kekeringan karena airnya dikuras oleh perusahaan penjual air yang terafiliasi dengan Israel? Siapakah pemilik saham perusahaan-perusahaan transnasional yang mengeruk kekayaan alam Indonesia?

Tidak ada yang peduli. Karena kita sibuk berdebat soal agama. Rakyat sibuk bertengkar, para kapitalis berpesta pora. Alangkah bodohnya kita.

Tulisan ini sudah terlalu panjang. Tapi semoga bisa dilihat benang merahnya, sehingga bisa paham mengapa Gilad sampai menulis: kita semua adalah Palestina, karena kita menghadapi musuh yang sama.

Kalau masih belum paham, silahkan baca versi yang lebih panjang lagi: http://ic-mes.org/politics/politik-identitas-antara-indonesia-dan-palestina/

atau versi lebih singkat: https://www.facebook.com/dina.sulaeman/posts/10154960632098835

Transkrip perbincangan saya dengan Gilad: http://ic-mes.org/politics/interview-with-gilad-atzmon/

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: