Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Solusi untuk Palestina

Solusi untuk Palestina

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Secara umum, ada dua jenis opsi yang ditawarkan para pemikir dan pengkaji Timteng sebagai solusi untuk Palestina.

OPSI PERTAMA

PBB mendukung two-state solution (dua negara berdiri berdampingan). Ada lubang besar dalam tawaran ini, yaitu sifat alami (nature) dari Rezim Zionis sendiri.

Seperti ditulis sejarawan Yahudi, Ilan Pappe, sifat alami Rezim Zionis sejak didirikan adalah menyerang, mengusir, dan menduduki wilayah milik orang-orang Palestina. Terbukti, hingga hari ini, Israel masih terus melakukan kekerasan, pembangunan permukiman illegal, bahkan ditambah pula dengan pembangunan Tembok Zionis. Tembok ini bahkan juga memblokade nghalangi warga desa-desa Kristen di Betlehem.

Hamas, yang selalu dicitrakan oleh Israel dan para pendukungnya sebagai teroris, sebenarnya bahkan pernah menerima opsi ini. Hamas bersedia berhenti angkat senjata, ikut dalam proses demokratis (pemilu), dan mau mengakui Israel, asal Palestina juga dibiarkan berdiri menjadi sebuah negara merdeka. Namun yang terjadi: Hamas menang pemilu di Gaza pada 2006 (pemilu yang amat demokratis, diawasi oleh pengamat dari berbagai negara/organisasi internasional) dan Israel pun memblokade Gaza, sampai hari ini. Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia; sewaktu-waktu Israel melancarkan operasi militer membombardir Gaza.

Sementara di Tepi Barat, Israel terus merampas rumah dan tanah milik Palestina (6 bulan pertama thn 2016 saja, yang dirampas 3000 hektar dan 450 rumah), kemudian di atasnya dibangun permukiman khusus Yahudi, yang dijaga oleh militer Israel.

Inilah yang banyak diabaikan orang: Palestina sudah mau berdamai, tapi Israel-lah yang memang lebih memilih untuk terus menjajah. Meski ada sederet resolusi dan perjanjian, Israel tetap melakukan kejahatan kemanusiaan secara terang-terangan, seolah mengejek dunia internasional yang tidak mampu berbuat apa-apa.

Karena itu, perlu dicari solusi lain yang lebih masuk akal.

OPSI KEDUA

Opsi kedua adalah one state solution, yaitu ide untuk mendirikan sebuah negara bersama Palestina-Israel, dengan dihuni oleh semua ras dan agama yang semuanya memiliki hak suara. Bila ide ini diterima, konsekuensinya, Rezim Zionis dibubarkan, begitu pula Otoritas Palestina; semua batas wilayah Palestina-Israel dihapus dan dilebur ke dalam satu negara; para pengungsi diizinkan kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing; serta dilakukan referendum untuk menentukan bentuk pemerintahan dan menetapkan pejabat pemerintahan itu.

Ide kedua ini (one state solution) dilandaskan pada pemikiran berikut:
1. Bila Rezim Zionis terus berdiri, perang tidak akan pernah berhenti karena cita-cita Zionis adalah mendirikan negara khusus Yahudi dan untuk itu, mereka akan terus mengusir orang-orang Palestina demi memperluas wilayahnya.
2. Bila Palestina ingin mendirikan negara khusus Palestina dan mengusir keluar orang-orang Yahudi, perang juga akan terus berlanjut. Namun dalam perang ini, Palestina berada dalam posisi yang lebih lemah: wilayahnya lebih kecil dan terpisah, dikepung oleh wilayah Israel, serta kekurangan logistik karena blokade Israel. Akibatnya, lagi-lagi, penindasan akan terus berlangsung di Palestina.

Pertanyaannya, mungkinkah kedua pihak mau menerima ide ini? Jangan pesimis. Saat ini sudah banyak gerakan-gerakan sipil di Israel dan Palestina yang mengusung ide ini. Yang menolak adalah kalangan radikal (baik dari Yahudi maupun Muslim) dan politisi yang diuntungkan oleh status quo.

Sebagian orang mengkhawatirkan nasib orang-orang Yahudi bila para pengungsi Palestina kembali ke tanah/rumah mereka masing-masing. Namun, hal itu bisa diatasi dengan undang-undang yang adil. Di antara solusinya adalah ganti rugi yang layak bagi orang-orang Palestina yang rumah/tanahnya ternyata sudah diduduki orang Yahudi. Dengan uang ganti rugi itu, mereka bisa membeli tanah/rumah baru di lokasi yang berdekatan atau di tempat lain. Tidak perlu ada pengusiran di manapun karena akan menimbulkan konflik baru.

Di sini, poin utama yang dibutuhkan adalah kesamaan pandangan dan motivasi dari semua pihak yang bertikai, yaitu motivasi untuk menciptakan negara yang demokratis dan adil. Untuk mencapai kondisi seperti ini, Dr. Ilan Pappe (akademisi asal Israel) mengatakan diperlukannya ‘pendidik’ (educator).

“Ada perbedaan besar antara two state solution dan one state solution. Untuk two state solution, diperlukan politisi, tapi untuk one state solution, diperlukan pendidik. Pendidik adalah orang-orang yang tidak mengharapkan hasil dalam satu-dua tahun. Bahkan mungkin terjadi, para pendidik itu tidak melihat hasil kerja mereka sampai mereka mati. Apa yang tidak bisa dilakukan Yossi Beilin, saya bisa lakukan: mati tanpa mengetahui apakah benih pendidikan tentang satu negara bersama Yahudi-Arab akan berbuah atau tidak. Seorang politisi tidak bisa melakukan hal seperti ini, bukan karena dia tidak mau konflik berakhir, tapi karena dia tidak mau karir politiknya berhenti.” (Ilan Pappe)

Perkataan Pappe senada dengan seruan Ahmadinejad,
“Saya pikir, semua pembunuhan dan perang sudah cukup. Telah tiba waktunya (untuk menegakkan) semua sisi persaudaraan dan perdamaian. Tentu saja, yang mengambil langkah awal dalam menegakkan keadilan adalah para pemikir, cendekiawan, ulama, dan orang-orang yang hatinya dipenuhi hanya oleh cinta kepada kemanusiaan, kemuliaan kemanusiaan, dan perdamaian. Kita harus saling bergandengan tangan dalam melakukan usaha global untuk menegakkan perdamaian dan mengikis akar ketidakamanan dan ketidakadilan di dunia.”


Dikutip dari buku Ahmadinejad on Palestine, file-nya bisa dibaca di sini: http://ic-mes.org/politics/unduh-gratis-ahmadinejad-on-palestine/

Foto: Razan Ashraf Al Najjar, beberapa saat sebelum ia ditembak tentara Israel (1 Juni 2018)

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: