Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina Pendudukan (a.k.a Israel) » Diskriminasi Terhadap Warga Arab di Israel

Diskriminasi Terhadap Warga Arab di Israel

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Kemarin ada komentator yang bertanya, apa saya pernah menulis tentang kehidupan kaum Muslim di Israel? Saya jawab, secara khusus belum. Di postingan sebelumnya, saya tulis sedikit sejarah mengapa sampai ada orang Arab-Muslim di Israel (bahkan ada yang jadi tentara Israel). Saya tulis bahwa mereka mengalami diskriminasi, tidak diperlakukan setara dengan warga Israel yang beragama Yahudi.

Apa buktinya? Kebetulan sekali awal Juni lalu, parlemen Israel (Knesset) menunjukkan secara terang-terangan diskriminasi itu. Padahal selama ini mereka selalu menyebut Israel sebagai negara demokratis.

Ceritanya begini, ada anggota Knesset keturunan Arab-Palestina mengajukan rancangan UU berjudul “Hukum dasar: Israel adalah negara untuk semua warganya” (Basic Law: Israel [is a] State of All Its Citizens). Seperti tersirat di judulnya, RUU ini kalau disahkan akan mendeklarasikan bahwa Israel adalah milik semua warganya, bukan hanya milik orang Yahudi. Artinya, diskriminasi terhadap warga non-Yahudi harus dihapuskan.

[Di antara 120 anggota Knesset, ada 18 Arab-Palestina, mereka ini Muslim, Kristen, Druze, Badui, dan tidak beragama]

Rancangan UU itu diveto (ditolak untuk dibahas) oleh Dewan Pimpinan Knesset. Jadi, bahkan belum didiskusikan pun, sudah ditolak. Menurut Dewan Pimpinan itu, “rancangan UU ini terlalu berbahaya diloloskan, bila sampai ada voting.”

Yang mengajukan RUU itu adalah Joint List, koalisi 3 partai Palestina-Israel [yaitu, orang Palestina yang jadi warga Israel; mengapa kok bisa ada orang Palestina jadi warga Israel, baca postingan saya sebelumnya ya]. Tiga partai ini harus berkoalisi karena untuk duduk di parlemen, partai harus meraih suara minimal 4%.

Bilapun RUU ini dibolehkan untuk dibahas di parlemen, peluang untuk lolos tahap awal pun sebenarnya sangat kecil, karena memang jumlah pendukung RUU ini sangat-sangat sedikit. Sebaliknya, partai-partai Yahudi mendukung keputusan veto Dewan Pimpinan Knesset: Likud, Labor, Yesh Atid, Kulanu, Israel Beteinu, dan Torah Judaism.

Hitung-hitungannya, kalaupun ada voting, sudah pasti pendukung RUU ini akan kalah. Tapi, pimpinan Knesset tetap ketakutan atas RUU ini. Mengapa?

Menurut Eyal Yanon, penasehat hukum Knesset, “[RUU ini] mengandung sejumlah pasal yang bermaksud mengubah karakter Israel, dari ‘negara untuk Bangsa Yahudi’ menjadi negara yang menjamin kesetaraan..”

Divetonya RUU ini menunjukkan bahwa frasa “Israel adalah negara yang demokratis” adalah sebuah contradictio in terminis (frasa yang mengandung kontradiksi). Parlemen Israel jelas-jelas menolak kesetaraan antara warga Yahudi-Israel dengan warga Arab-Israel; artinya: TIDAK DEMOKRATIS.

Di saat yang sama, anggota parlemen bernama Yuli Edelstein, sedang sibuk mempromosikan RUU Kebangsaan (the Nationality Bill) yang, bila disahkan, akan semakin membatasi ruang gerak warga Israel keturunan Arab.

Sekedar cerita tambahan, bulan Februari lalu, anggota Knesset keturunan Arab, perempuan bernama Haneen Zoabi (Sunni-Muslim) diusir dari ruang sidang karena dia mengkritik pembunuhan yang dilakukan tentara Israel terhadap orang-orang Palestina. Haneen menyebut tentara Israel sebagai ‘pembunuh’.

Anggota Knesset bernama Yakov Margi menjawab Haneen, “Tentara Israel bukan pembunuh. Mereka sedang bekerja di kondisi yang sulit.”

Berdasarkan UU Israel yang disahkan pada tahun 2016, seorang anggota Knesset bisa dipecat jika mengeluarkan pernyataan ‘rasisme’ (tentu saja, rasisme terhadap Yahudi; bukan sebaliknya) dan ‘mendukung perjuangan bersenjata orang Palestina’, jika disetujui oleh 90 anggota Knesset.

Demikian.


Foto: anak Arab-Badui warga Israel (sumber:AFP)
Menurut Unicef, 27,5 % anak-anak di Israel (tidak disebut etnisnya) hidup di bawah garis kemiskinan; laporan lain menyebut bahwa 80% anak Arab warga Israel hidup di bawah garis kemiskinan

Ref:
http://mondoweiss.net/2018/06/officially-declares-democracy/

https://www.middleeastmonitor.com/20180213-arab-mk-zoabi-removed-from-knesset-after-criticising-israel-army/

Tulisan saya yang menjelaskan mengapa ada orang Palestina yang jadi warga Israel: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/posts/452438798515714

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: