Kajian Timur Tengah

Beranda » Palestina » Felicia-Amalia Langer in Memoriam

Felicia-Amalia Langer in Memoriam

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Tanggal 21 Juni lalu, seorang pembela Palestina meninggal dunia. Namanya Felicia Amalia Langer, ia seorang pengacara Yahudi. Ia adalah survivor [orang yang selamat dari] Holocaust. Ia pindah ke Israel pada 1950, setelah menikah dengan Mieciu Langer, juga seorang survivor Holocaust. Di Israel, ia kuliah di fakultas hukum, lalu tahun 1966 ia membuka kantor pengacara.

Selama 1966-1990, Felicia menjadi pengacara di Israel yang fokus membela orang-orang Palestina warga Israel yang menghadapi kasus perampasan lahan, penghancuran rumah, pengusiran, dan penyiksaan oleh tentara Israel. Felicia adalah pengacara Israel pertama yang melakukan pembelaan kepada mereka. Namun ia lebih sering kalah di pengadilan.

Tahun 1990, ia menutup kantor pengacaranya lalu pindah ke Jerman karena menurutnya ‘orang Palestina tidak mungkin lagi mengharapkan keadilan di Israel’. Felicia menulis sejumlah buku yang mengkritik pelanggaran HAM yang dilakukan Israel.

Berikut ini saya terjemahkan sebagian pidatonya, yang sangat menarik untuk disimak, antara lain karena menyebut-nyebut Albert Einstein; dan menjadi jawaban bagi orang yang suka berargumen: “orang Muslim aja banyak kok di Israel!”

Saya akan memulai kuliah saya dengan [mengenang] tahun 1950, ketika saya tiba di Israel dalam program ‘reuni keluarga’. Segera saya menyadari bahwa ‘reuni keluarga’ ini adalah program untuk kaum Yahudi saja. Saya tiba di sebuah negara yang tidak dikenal pada usia 20 tahun, menikah dengan seorang survivor Holocaust. Suami saya selamat dari 5 kamp konsentrasi Nazi; dia satu-satunya yang selamat dari keluarganya. Ibu saya dan saya juga orang yang tersisa dari keluarga kami; sebagai pengungsi di Uni Soviet.

Sejak awal, saya menyaksikan diskriminasi terhadap orang Palestina yang hidup di bawah aturan militer Israel. Saya melihat desa-desa yang dihancurkan oleh Israel sejak 1948 hingga setelahnya. Saya telah mendengar nasib pahit para pengungsi Palestina, yang diusir tahun 1948 dan setelahnya, dan mereka yang melarikan diri dari pembunuhan massal yang dilakukan Israel.

Sejak dulu, saya sudah memahami dalamnya tragedi Palestina dan tanggung jawab Israel terhadap hal ini. Pemahaman ini membentuk kehidupan saya hingga saat ini. Sejak dulu, saya menyimpulkan bahwa perdamaian yang adil antara Israel dan bangsa Palestina hanya mungkin terjadi setelah Israel mengakui tanggung jawabnya atas tragedi Palestina dengan segala implikasinya.

Tahun ini [2005] dunia mengenang 50 tahun meninggalnya Albert Einstein; seorang pria yang tidak hanya saintis jenius, tetapi juga pejuang perdamaian yang istimewa. Pada tahun 1954, dia mengatakan, “Orang-orang Yahudi, yang menderita sangat dalam akibat buruk sangka dan kezaliman, seharusnya memahami penuh bahwa minoritas Arab di Israel harus mendapatkan kemerdekaan, demokrasi, dan hak yang setara.” (Albert Einstein, Über den Frieden, Melzer Verlag).

Bagi orang-orang Palestina di Israel, tahun-tahun sejak diproklamasikannya negara Israel telah menjadi tahun-tahun diskriminasi dan perampasan, tahun-tahun “Yahudisasi Galilee.” Demokrasi yang mereka rasakan adalah ‘setengah demokrasi’, demokrasi untuk orang Yahudi saja.

Titik kulminasi dari semua ini adalah pembunuhan secara sengaja atas 13 orang Palestina warga Israel yang berdemonstrasi pada Oktober 2000.

“Semua generasi Israel menetapkan batas baru bagi negara ini,” kata Bapak Zionist, dan karena itulah ‘perluasan wilayah’ menjadi salah satu tujuan utama Israel. Hukum internasional yang melarang perang, termasuk ‘perang [demi] pencegahan’ (lihat Piagam PBB) tidak mengganggu mereka. Mereka menikmati dukungan penuh AS dan veto AS di Dewan Keamanan, yang memblokir semua resolusi kritis.


Ref: https://www.adalah.org/uploads/oldfiles/newsletter/eng/may05/fet.pdf

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: