Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » KONTRA NARASI

KONTRA NARASI

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Aksi teror di Mako Brimob dan aksi teror di 3 gereja Surabaya, membuat kita berduka amat dalam. Mungkin, ada yang berpikir, adakah yang bisa dilakukan?

Untuk menangani mereka yang sudah terlanjur terpapar virus ekstrimisme, jelas sulit. Kita, orang biasa, mungkin berat melakukannya.

Tapi untuk mencegah generasi muda yang masih bersih dan sehat agar tidak terpapar virus itu, kita BISA, asal mau.

Pertama, kita lihat dulu, akar masalahnya dimana.

Dalam video yang saya upload ini, ada paparan menarik atas hasil penelitian yang dilakukan PPIM UIN Jakarta. Pada Sept-Okt 2017 mereka meneliti 2181orang (1522 siswa; 337 mahasiswa; 264 guru/dosen) di 34 provinsi.

Survei itu dilakukan untuk melihat bagaimana generasi Z (kelahiran 1996-2012) memandang agama. Salah satu karakter utama gen Z adalah mereka ini sangat aktif berinternet, rata-rata 3-5 jam sehari.

Hasil survei yang terpenting, di antaranya: sekitar 1/3 siswa Muslim percaya bahwa jihad adalah peperangan melawan nonmuslim, setuju bahwa orang murtad harus dibunuh, dan intoleran kepada minoritas itu bukan masalah.

Satu dari 5 siswa SETUJU bahwa aksi bom bunuh diri adalah jihad.

Penting digarisbawahi: darimana mereka mendapatkan pemahaman seperti ini? Ternyata 50,89% dari MEDSOS !

Di penelitian yang lain disebutkan bahwa setiap hari setidaknya 90 ribu konten bermuatan kekerasan dan ekstrimisme dimuat ke ranah Internet, oleh ISIS dan afiliasinya.

Bayangkan, ISIS saja menyebar 90 ribu konten terorisme perhari. Padahal masih banyak kelompok teror lainnya. Al Qaida, Al Nusra, Jaish al Islam, Jamaah Anshoru Tauhid/Daulah, dll. Betapa banyaknya! Belum lagi yang disampaikan secara langsung lewat pengajian-pengajian.

Konten mereka terutama adalah hoax soal Timteng dan politik-ekonomi dalam negeri. Mereka menanamkan ketakutan dan kebencian atas nama agama & rasisme, sehingga publik terhipnotis dan percaya pada doktrin-doktrin mereka selanjutnya.

Apa yang dapat kita (masyarakat sipil, orang biasa) lakukan untuk melawan semua itu dan melindungi generasi muda dari virus radikalisme/intoleran/ekstrimisme?

Satu yang PASTI: NARASI HARUS DILAWAN DENGAN KONTRA NARASI.

Narasi radikalisme/intolerasi/ekstrimisme harus dilawan dengan menyebarluaskan narasi kontra-nya, misalnya, kasih sayang, persaudaraan, toleransi.

Narasi kontra yang paling tepat untuk Indonesia yang majemuk ini adalah PANCASILA. Di dalamnya terkandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah (tidak mau menang sendiri), dan keadilan.

Ironis sekali, nilai-nilai Pancasila yang sedemikian dalam (dan sebenarnya bersesuaian dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin), hanya tinggal hafalan. Sudah saatnya kita menyebarkan nilai-nilai Pancasila melalui cara-cara yang memang ‘nyambung’ dengan gen Z (kaum muda).

Cara yang ‘nyambung’ itu apa? Sudah pasti, pakai kalimat-kalimat yang mudah dipahami. Jangan membully, mengejek, apalagi menceramahi. Gen Z bete banget sama narasi model begini.

Yang punya skill menggambar, bisa membuat komik atau karikatur yang kocak.

Yang bisa bikin lagu, buatlah lagu yang easy listening buat gen Z.

Yang aktif di institusi/keorganisasian, bisa membuat lomba-lomba seru untuk gen Z yang bisa membuat mereka mengenali nilai-nilai Pancasila.

Yang berkecimpung di dunia film, bisa membuat film yang bertema aktualisasi/implementasi nilai-nilai Pancasila.

Untuk film, artis Lola Amaria sudah memulainya. Dia bersama 4 rekannya (jadi ada 5 sutradara) membuat film berjudul LIMA. Kisahnya tentang sebuah keluarga yang bergelut menyelesaikan perbedaan di antara mereka dan keputusan-keputusan yang mereka ambil sangat bersesuaian dengan nilai-nilai Pancasila.

Dan, banyak lagi yang bisa dilakukan masyarakat sipil. Misalnya, yang punya ilmu agama secara mendalam (mampu mengakses kitab), perlu terjun untuk melawan narasi ekstrim dari para da’i intoleran.

Bila takut/ragu, buat saja akun khusus lalu bergerilya di kalangan gen Z.

Mari kita jaga negeri ini dengan cara menegakkan kelima pilarnya, Pancasila. Lima silanya adalah kontra narasi bagi narasi radikalisme yang mengancam tegaknya NKRI.

 

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: