Kajian Timur Tengah

Beranda » Afrika Selatan » Kekuatan Olahraga

Kekuatan Olahraga

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Asian Games 2018 berakhir dengan kebanggaan besar bagi Indonesia: menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk 10 besar, bahkan duduk di rangking ke-4 setelah China, Jepang, dan Korsel; meraih emas 8x lipat lebih banyak daripada AG 2014 (31 emas).

Sisi menarik dari AG, selain hitung-hitungan kemenangan, adalah dampak sosialnya.

Nelson Mandela pernah mengatakan, “Olahraga memiliki kekuatan untuk mengubah dunia … ia memiliki kekuatan untuk menginspirasi. Ia memiliki kekuatan untuk menyatukan orang-orang dengan cara yang tidak dimiliki oleh yang lain. Olahraga berbicara kepada para pemuda dalam bahasa yang mereka pahami. Olahraga dapat menciptakan harapan di saat ketika yang ada hanya keputusasaan. Olahraga lebih kuat daripada pemerintah dalam merobohkan penghalang rasial.”

Afrika Selatan dulu adalah negara yang rasial, apartheid, dimana kaum kulit putih menindas kaum kulit hitam. Rezim apartheid Afsel runtuh tahun awal 1990-an berkat aksi boikot ekonomi dari berbagai negara dan masyarakat sipil dunia (hal inilah yang kini tengah diupayakan para aktivis antipenjajahan di seluruh dunia terhadap Israel; sebuah negara apartheid dan rasis; di antaranya melalui gerakan #BDS ).

Namun luka akibat rasialisme yang sudah berlangsung lama tak bisa sembuh begitu saja. Yang dilakukan Presiden Mandela antara lain adalah menggunakan pertandingan rugby sebagai upaya menjebol tembok kebencian. Secara tradisional, rugby sebagai olahraga kaum kulit putih dianggap sebagai simbol dari opresi terhadap warga kulit hitam, sehingga rugby tidak mereka sukai. Mandela hadir dalam Rugby World Cup 1995 dengan menggunakan jersey hijau-emas yang saat itu sangat diasosiakan dengan rasisme, sementara para anggota tim rugby Afsel berbesar hati belajar menyanyikan lagu kebangsaan baru Afsel (yang semula adalah lagu protes kaum kulit hitam).

Indonesia, yang sejak beberapa tahun terakhir terpecah-belah akibat digunakannya SARA dalam politik membutuhkan sebuah perekat baru, perasaan ‘kekitaan’, harapan, dan perasaan bangga sebagai orang Indonesia. Olahraga bisa menyediakan hal itu.

Selamat kepada seluruh atlet yang telah mempersembahkan perjuangan terbaiknya, yang telah mengajari anak-anak kami tentang keberhasilan dan kebanggaan sejati yang hanya bisa dicapai dengan kerja keras dan sikap pantang menyerah; selamat kepada Pemerintah RI dan seluruh Panitia AG 2018; selamat untuk kita, Indonesia.


sumber gambar: mojok.co

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: