Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Hoax Demi Kekuasaan

Hoax Demi Kekuasaan

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Denny Siregar baru-baru ini menulis soal Nayirah, gadis 15 tahun yang mengaku sebagai perawat di Kuwait. Dengan sangat meyakinkan, ia menangis menceritakan betapa bayi-bayi dikeluarkan dari inkubator, lalu dibuang ke lantai. Presiden AS saat itu, Bush sr. mengutip ‘kesaksian’ Nayirah berkali-kali dalam pidatonya, sampai akhirnya Kongres menyetujui dimulainya Perang Teluk I.

Sekitar setahun kemudian, ketika semua sudah terlanjur, ketika ratusan ribu nyawa melayang akibat bom AS, baru ketahuan siapa sebenarnya Nayirah. Ia ternyata putri Dubes Kuwait untuk AS. Skenario kesaksiannya dirancang oleh sebuah perusahaan Public Relation besar dan mahal, Hill & Knowlton. [1]

Akting Nayirah bukan satu-satunya kebohongan yang dipakai para kapitalis perang selama ini. Perang Suriah juga menampilkan banyak aktor/aktris yang berbohong.

Saya sudah berkali-kali menulis soal hoax White Helmets. Ada pula aktris cilik, Bana Al Abed. Dia disebut Tempo sebagai ‘Anne Frank dari Suriah’. Saya pun menulis surat kritik kepada redaktur Tempo, ini saya copas sebagian:

===Majalah Tempo edisi 19-25 Desember 2016 memuat artikel berjudul “Anne Frank dari Aleppo Timur” (AFAT). Artikel tersebut ditulis Sita Planasari dengan sumber The Star,The Telegraph, The New York Times. AFAT bercerita tentang seorang anak usia 7 tahun, Bana Alabed yang secara sangat aktif bercuit di Twitter, menceritakan bahwa dia dan keluarganya dalam kondisi gawat karena dibombardir terus oleh tentara Suriah dan Rusia.

Sebagai sebuah media yang dikenal hebat dalam investigasi, artikel AFAT seharusnya juga didasari dengan investigasi online yang lebih lincah. Sejak dari kalimat pertama, penulis seharusnya sudah memiliki kecerdasan untuk mengendus keanehan, mengapa Bana Al Abed yang baru berusia 7 tahun sudah memiliki 200.000 [sekarang bahkan lebih dari 300.000] follower di Twitternya? Dengan sedikit mengecek, akan ketahuan bahwa akun Twitter Bana baru dibuat pada September 2016.

Follower pertama Bana adalah jurnalis Aljazeera, Abdul Aziz Ahmed. Pengecekan di akun Facebook dan Twitter keluarga Bana memperlihatkan bahwa ayah dan ibunya adalah anggota kelompok militan. Kata “militan” adalah eufemisme, karena cara-cara beroperasi mereka bersifat terorisme.

Bana juga pernah berfoto dengan jurnalis Hadi Abdallah (foto mereka dimuat di akun Al Jazeera). Pengecekan foto-foto lain menunjukkan Abdallah kedapatan berpose bersama pasukan Al Nusra dan salah satu pimpinan pasukan teror di Suriah, Abdullah al-Muhaysini (asal Saudi); bahwa anggota keluarga Bana juga pernah berfoto akrab dengan Mahmoud Rslan, fotografer Omran Daqneesh (si “bocah di kursi oranye”). Dan Rslan pun kedapatan berpose riang dengan Norouddin Zinki yang menggorok leher bocah Palestina, Abdullah Isa, sambil tertawa di depan kamera. Dari jejaring Bana ini terlihat bahwa Bana berasal dari kelompok militan sehingga menjadikannya satu-satunya ‘narasumber’ dalam tulisan soal Aleppo sama sekali tidak valid.=== (selengkapnya baca di sini [2])

Aktris lain adalah dokter Saleyha Ahsan. Ia menjadi narsum berita BBC; lalu juga tampil dalam film dokumenter yang dibuat BBC mengenai ‘serangan senjata kimia di Umm Al Kubra’ dengan judul ‘Saving Syria’s Children‘. Ketika dilacak foto-foto di akun facebooknya, ketahuan, Dr Saleyha berpose dengan kelompok “mujahidin” Libya yang angkat senjata menggulingkan Presiden Qaddafi.

Ada dokter lain yang juga digunakan BBC dalam film dokumenter palsu itu, yaitu Dr. Rola (saya ceritakan juga di buku saya Salju di Aleppo).

Dr Rola tampil dalam berita BBC tanggal 29 Agustus 2013. Di dalam berita itu, ditampilkan video amatir dari lapangan (seolah direkam warga), dr. Rola mengatakan ada serangan “bom napalm”. Lalu, esoknya, di film dokumenter Saving Syria’s Children, rekaman yang sama juga ditayangkan BBC, tapi kali ini Dr. Rola mengatakan ‘serangan senjata kimia’. Jadi, ada editan.

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah: SIAPA YANG MEMBONGKAR INI SEMUA?

Tak lain: NETIZEN.

Merekalah yang dengan tekun –tanpa dibayar- membongkar rekam jejak digital White Helmets, Bana Al Abed, dr. Saleyha, dan dr. Rola. Bahkan untuk kasus Dr Rola, netizen bela-belain melakukan cek audio untuk memastikan bahwa yang terjadi adalah editing suara, bukan dua kali rekaman. Seorang netizen Inggris bernama Robert Stuart adalah orang yang paling ngotot menelusuri kasus ini dengan cara melakukan analisis video dan mengungkap berbagai kejanggalan dalam video, dengan amat detil. [3]

Di Indonesia pun, inilah yang sedang terjadi. Hoax Suriah sejak awal perang (2012) sudah dibongkar, bukan oleh wartawan media terkemuka, tapi oleh netizen tanpa bayaran. Setiap kali fanpage (atau seleb fb) pro-teroris posting satu foto, dengan segera mereka lacak keasliannya. Lalu fanpage pro-teroris itu pun balas dendam dengan me-report fanpage yang melawan narasi mereka (saya pernah cerita soal perang antar fanpage itu di sini [4]

Hal yang sama juga terjadi dalam politik dalam negeri. Begitu banyak hoax disebar demi kekuasaan. Entahlah, apa karena ormas-ormas radikal yang sangat berpengalaman dalam menebar hoax Suriah ‘kebetulan’ kini semua bersatu di belakang salah satu capres?

Namun, sebagaimana dulu melawan hoax Suriah, netizen Indonesia pun dengan penuh “militansi” juga bergerak melawan hoax terkait politik dalam negeri. Bau hoax di balik wajah bengep pemain teater berinisial RS itu, juga dengan cepat terendus oleh netizen.

Artinya apa? Sudahlah, skenario hoax berbiaya sangat mahal (White Helmets didanai totalnya ratusan juta USD oleh AS dan Inggris, skenario Nayirah dibuat perusahaan PR besar AS, biayanya juga jutaan USD; kasus dua dokter narsum BBC –gak main-main, BBC!) pun berhasil dibongkar netizen. Apalagi hoax amatiran. Jadi, Anda-Anda politisi yang sedemikian haus kekuasaan dan ingin ganti presiden, sudahlah, bertarung saja dengan jujur. Percuma main hoax.

Zaman now, hoax apapun dengan mudah dipatahkan. Karena selalu ada orang-orang di luar sana yang tak perlu dibayar, tapi punya nurani untuk terus menjaga negeri ini.


[1] Video Nayirah, tonton di sini: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/280578555701740/
[2] https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/12/25/surat-untuk-tempo-tentang-anne-bana-frank-dari-aleppo/
[3] http://liputanislam.com/tabayun/hoax-bbc-lagi-dan-lagi/
[4] https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/01/15/perang-suriah-dan-perang-facebook/


Foto: Suriah (Raqqa), negeri korban hoax terbesar sepanjang sejarah modern

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: