Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Panggilan “JIhad”, Kali Ini ke Poso

Panggilan “JIhad”, Kali Ini ke Poso

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Beberapa hari yang lalu, akun Syria News memposting foto orang ini, diberi caption (ini terjemahannya): “Abu Walid Indonesian (Mohamed Karim Fayez). Saat ini dia adalah Emir ISIS di Indonesia timur. Note: Tangannya berlumuran darah warga Suriah dan Irak.”

Baru saja saya menemukan poster ini, sumber dari akun Twitter TRACterrorism.org. Poster ini berbahasa Inggris, “Join us in Poso region” (bergabunglah dengan kami di Poso). Lalu ada kutipan ayat Quran tanpa terjemahan. Artinya: seruan ini adalah untuk orang-orang di luar sana yang berbahasa Inggris dan Arab.

Bila sebelumnya orang-orang radikal dari berbagai negara diseru untuk “berjihad” ke Suriah dan Irak, kini mereka diseru untuk datang ke Poso.

Orang biasa seperti kita, tidak bisa berbuat apa-apa. Ini tugas pemerintah, TNI, Polri. Semoga saja mereka bisa melindungi kita warga sipil Indonesia dan NKRI. Untuk deradikalisasi (menyembuhkan orang-orang yang sudah terlanjur teradikalisasi) juga perlu ilmu khusus.

Yang bisa kita lakukan adalah mencegah agar anak-anak kita dan anak-anak di sekitar kita tidak tertular virus radikalisme.

Caranya:

Pertama, ajarkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah ajaran yang welas asih. Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat welas asih. Kalaupun beliau berperang, selalu atas dasar alasan yang valid (bukan tuduhan membabi-buta) dan dengan etika perang yang ketat (bukannya membantai rakyat sipil secara membabi-buta dengan bom bunuh diri).

Kedua, waspadai pemakaian internet anak-anak. Saya menemukan kasus seorang remaja putri yang amat pintar tapi dibiarkan oleh ortunya berselancar sendirian di dunia maya, akhirnya menjadi sangat radikal. Dia bahkan punya keinginan membunuh tokoh-tokoh yang dia benci (antara lain: Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei). Seorang teman menceritakan bahwa grup WA keponakannya (masih SMP, di sekolah Islam), sudah biasa menyebarkan foto-foto kepala terpenggal dan ujaran-ujaran kebencian.

Ketiga, mulailah dari diri sendiri. Jangan menyebarkan kebencian pada sesama manusia, karena akar radikalisasi adalah kebencian kepada orang yang dianggap kafir; atau takfirisme [suka mengkafirkan orang lain dan di tahap selanjutnya: menghalalkan darah orang yang dianggap kafir].

Atau, kalau ditemukan ada akun-akun yang secara provokatif menunjukkan kesesatan (misal, ada akun mengaku Syiah dan menyuarakan hal-hal yang jelas-jelas sesat), jangan langsung terpengaruh. Atau tokoh tertentu dikatai PKI atau antek China. Dll. Sangat mungkin akun-akun itu memang berupaya mengadu domba, atau info yang disebar memang rekayasa/hoax.

Saya pernah menemukan seorang ibu menshare sebuah video sambil meratap-ratap, katanya “orang Suriah dipaksa menyembah Assad”. Saat saya klik videonya, isinya hanya seseorang yang sedang bicara kesana-kemari, sama sekali tidak terkait dengan ‘penyembahan’. Si ibu hanya menshare tanpa menonton.

Keempat: beranikan diri melawan. Bukan saatnya lagi untuk diam. Bila ada orang (ustazah sekalipun) yang men-share berita fitnah, proteslah. Jangan ragu mengkonter berita negatif di grup-grup WA. Bantah saja dengan santun. Niatkan untuk melindungi orang-orang yang belum teradikalisasi (bukan diniatkan menyadarkan orang yg sudah terlanjur; seperti saya bilang, mereka sudah sulit ditembus, perlu ilmu khusus).

Dibully? Apa ruginya? Lebih baik dibully daripada negeri ini dilanda perang seperti Suriah.

Ingatlah selalu bahwa media sosial adalah alat utama para teroris dalam melakukan radikalisasi. Artinya, kita harus melawannya pun lewat media sosial. Lawanlah konten negatif yang mereka sebarkan, dengan konten positif dari kita, sebanyak-banyaknya

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: