Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Suriah dan Orang-Orang Prancis

Suriah dan Orang-Orang Prancis

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Kerusuhan di Prancis yang sudah berlangsung sekitar 3 pekan memunculkan deja vu bagi orang-orang yang intens mengamati Perang Suriah; bisa terlihat di berbagai komentar netizen [umumnya yang dari Barat/Timteng] di Twitter.

Rana Harbi, selebtwit cantik dari Lebanon menulis, “Bayangkan bila beberapa negara memutuskan mengirimkan senjata senilai miliaran [dollar] kepada para demonstran di Prancis, memaksakan berbagai sanksi [terhadap pemerintah Perancis], dan membantu semua kelompok antipemerintah; termasuk kelompok-kelompok dengan ideologi ekstrim; lalu membuat koalisi untuk mengebom Prancis. Keterlaluan? Nah, itulah yang sedang terjadi di Suriah sejak 2011!”

Seseorang entah siapa, membuat akun bernama ‘Benoite Abedoux’ [plesetan dari selebtiwit cilik asal Suriah, Bana Al Abed]. Isi tweet-nya bikin saya tertawa miris; mirip sekali dengan apa yang selama ini dicuit oleh Bana yang mengaku berada di Aleppo timur.

[Kisah Bana: dalam sekejap, saat Aleppo timur kembali direbut oleh tentara Suriah, muncul foto Bana dipangku Erdogan. Padahal, menurut kesaksian Carla Ortiz, saat itu [detik-detik ketika Aleppo timur direbut kembali] banyak wartawan asing yang menanti di perbatasan, ingin bertemu Bana yang sangat terkenal itu. Tapi Bana tak pernah muncul.]

Di antara cuitan Benoite yang ‘Bana banget’:
#Macronist forces have just dropped many barrel bombs on the Louvre!

My friends, please pray for #Paris and my family. We don’t know what #Macron might do next to keep us silent. Support the #YellowVests. Macron’s regime are killing us. #MacronMustGo

Eva Bartlett, jurnalis independen yang aktif melawan pemberitaan media mainstream soal Suriah [dia dulu juga aktif meliput nasib orang Gaza yang dibombardir Israel] memposting meme seorang “jihadis” dengan tulisan: Macron Must Go, Paris is Burning, Save Paris.

Kebalikannya, the so called filsuf Perancis, Bernard Henry Levy-BHL, malah mencuit [maaf ini dari bhs Perancis, diterjemahkan oleh Google translate]: “Gendarme mobile, perusahaan keamanan Republik, kekuatan ordo pada umumnya, hari ini adalah benteng Republik: melawan ultra-kanan dan ultra-kiri kerupuk; Terhadap #GiletsJaunes radikal. #SoutienAuxForcesDeLOrdre “

Maksudnya: tentara Perancis adalah benteng pertahanan negara melawan ultra kanan dan ultra kiri.

BHL seolah amnesia dengan apa yang dia lakukan di Suriah. Ketika aksi-aksi demo mulai muncul di Suriah [awalnya, seruan demo di sana bukan “khilafah” tapi demokrasi], BHL sangat berisik, memberikan dukungan kepada ‘gerakan demokrasi’. Mengapa ketika rakyat Prancis sedang berdemo, dia menyerukan dukungan pada tentara?

Pada Juli 2011, BHL menggelar konferensi internasional anti-Assad pertama, di Paris. Kouchner, Frederik Ansel (anggota partai Likud, Israel), Alex Goldfarb (penasehat Menhan Israel), dan Andre Glucksmann (penulis Islamophobia) hadir dalam konferensi itu. Tahun 2013, Koucher, Alain Juppe, dan Bernard-Henri Levy, dalam “konferensi internasional untuk Suriah” menyerukan agar masyarakat internasional mengintervensi Suriah [=serangan militer], dengan atau tanpa PBB.

Tangan elit Prancis memang sangat berdarah-darah di Suriah. Pasca PD I, Prancis mendapat ‘jatah’ menduduki Suriah. Tahun 1941, Suriah menyatakan kemerdekaannya namun baru 15 April 1946 tentara Prancis benar-benar meninggalkan Suriah.

Kalau Anda perhatikan, bendera era mandat Prancis (hijau-putih-hitam dengan 3 bintang) selalu dikibarkan oleh ‘pemberontak’ Suriah [terutama yang berafiliasi dg IM] dan juga oleh beberapa lembaga pengepul donasi untuk Suriah di Indonesia (antara lain, ACT, Misi Medis Suriah; Ustadz Bakhtiar Nasir & Peggy Melati Sukma juga pernah berfoto dengan bendera itu, Anda bisa cek rekam jejak digital mereka).

Mengapa? Karena memang Prancis sangat terlibat dalam operasi penggulingan Assad. Prancis sangat aktif dalam menggalang bantuan internasional bagi kelompok oposisi, termasuk dengan mendorong AS, Inggris, dan NATO mengirimkan pasukan ke Suriah. Prancis juga meminta agar Uni Eropa membatalkan embargo senjata atas Suriah supaya Prancis dan negara-negara Barat bebas mengirim senjata kepada pasukan pemberontak.

25 Sept 2011, Presiden Prancis saat itu, Hollande, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap oposisi Suriah, di depan Sidang Umum PBB. “Tanpa ditunda-tunda lagi, saya serukan kepada PBB untuk menyediakan semua dukungan yang diminta rakyat Suriah kepada kita dan untuk melindungi liberated zone,” kata Hollande.

Yang dimaksud liberated zone adalah daerah-daerah yang sudah dikuasai oleh para pemberontak [saat itu belum terungkap di media massa bahwa ‘pemberontak’ = milisi ‘jihadis’].

Selain itu, Prancis juga memberikan tekanan diplomatic kepada pemerintah Suriah dengan secara sepihak mengakui bahwa perwakilan sah rakyat Suriah adalah SNC (Syrian National Coalition). SNC, senada dengan Prancis, menyerukan adanya intervensi militer PBB. Namun, karena resolusi DK PBB selalu diveto China dan Rusia, scenario mengundang tentara asing itu gagal.

Akhirnya, SNC pun beraliansi dengan FSA. SNC bertugas mencari bantuan dan senjata untuk FSA. Negara-negara yang aktif memberikan bantuan dana dan senjata adalah AS, Inggris, Prancis, Turki, Qatar, dan Arab Saudi.

Sebagian besar anggota SNC adalah orang-orang IM. Tahun 2012, SNC berganti menjadi SNCORF, yang dipilih sebagai ‘presiden’-nya Moaz Al-Khatib, ulama IM. Hollande pernah mengundang Al Khatib ke istana presiden Prancis.

Nah, sekian dulu, sekedar deja vu. Kalau mau cerita lebih lengkap, baca di buku saya aja.. atau ubek-ubek lagi tulisan lama di Fanpage ini atau blog saya.

**
sumber foto: twitter Eva Bartlett; ini plesetan dari cuitan netizen pro-jihadis/pro-NATO selama ini (Assad must go, Aleppo is burning, Save Aleppo)

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: