Kajian Timur Tengah

Beranda » Suriah » PDF Prahara Suriah

PDF Prahara Suriah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

dumb2

Buku ini terbit Juni 2013. Sudah berlalu 5 tahun, hak terbitnya sudah kembali ke saya. Jadi, saya sudah boleh mempublikasikannya di blog ini.

Silahkan diunduh (link ada di bawah)

Pengetahuan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Suriah penting sekali diketahui semua pihak karena:

  1. Pihak yang “berjihad” menggulingkan rezim di Suriah adalah Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan ormas-ormas yang didanai Saudi, yaitu yang berafiliasi dengan Al Qaida, ISIS, dll. Ketiga faksi ini ada cabangnya di Indonesia, dan sangat aktif menguasai wacana publik. Mereka sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap kaum Syiah di Indonesia (mengaitkannya dengan Suriah) sejak 2011. Pada 2012, peristiwa Sampang terjadi, pemerintah tak mampu melakukan rekonsiliasi sampai sekarang.
  2. Dari info A1 yang saya dapatkan, Arab Saudi sejak 2012 juga menggelontorkan dana besar-besaran (bahkan di puncak “panas”-nya isu ini di Indonesia, langsung diantar oleh Bandar bin Sultan, ketua intel Saudi) kepada ormas-ormas itu dengan tujuan “memerangi” Syiah. Sebagai bukti, lihat betapa masifnya spanduk anti-Syiah dipasang di seluruh Indonesia, satu spanduk 200rb, di satu kota saja bisa habis 2M. Ini di seluruh Indonesia. Buku anti-Syiah dicetak jutaan copy, dibagikan gratis. Tentu naif sekali bila mengira penganut Syiah adalah target akhir karena penganut Syiah di Indonesia sangat sedikit. Target besarnya tentu sesuatu yang lain.
  3. Dalam diskusi di Masjid Salman, seorang pakar IT, Ismail Fahmi yang meneliti percakapan twitter terkait Save Aleppo Desember 2016, memaparkan data: tingginya cuitan ‘Save Aleppo’ bersamaan dengan tingginya cuitan ‘Save Aleppo’ di dunia, dan ketika di dunia diam, di Indonesia juga diam. Uniknya, terlihat pula dari paparan data itu bahwa buzzer-buzzer Indonesia yang mencuit ‘Save Aleppo’ itu ternyata juga mencuit “lengserkan Jokowi”. Kesimpulan saya: isu lengserkan Jokowi ternyata disuarakan oleh pihak yang sama, yang aktif menyuarakan Save Aleppo. Ini hanya sekedar bukti menguatkan poin 1 bahwa hebohnya publik Indonesia soal Suriah bukan proses ‘organik’ (alami), melainkan “suruhan”/instruksi dari afiliasi ormas-ormas yang saya sebut itu.
  4. Terjadi peniruan perilaku : para ‘jihadis’ di Suriah terang-terangan di depan kamera memenggal, menggantung, membakar pihak yang dianggap kafir (video dan fotonya viral di medsos), publik di Indonesia pun terbiasa dengan perilaku itu. Salah satunya, aksi demo melawan Ahok 2017 juga dipenuhi orasi berisi kata ‘gantung’ atau ‘bunuh’.
  5. Kelompok-kelompok yang sama, sejak 2014 juga aktif menyerang pemerintah Jokowi dengan isu agama. Dan akhir-akhir ini ketika kubu Jokowi membalas, misalnya dengan memviralkan video Prabowo berdansa Natal (yang direkam langsung oleh keponakannya sendiri) atau menantang adu baca Quran, sontak diteriaki lawannya: stop isu SARA! Jangan bawa-bawa agama! Betul sekali, stop mempolitisasi agama, dan ini berlaku untuk KEDUA PIHAK.  Mempolitisasi agama hanya memunculkan perpecahan dan kebencian di antara sesama anak bangsa; karena yang ‘dimainkan’ adalah sentimen dan emosi, bukan akal dan kecerdasan.
  6. Kelompok-kelompok yang sama, selalu membawa konflik di luar negeri dengan narasi yang tendensius menyerang kelompok minoritas di dalam negeri. Kasus Suriah, dibawa ke Indonesia dengan menyerang kelompok Syiah di Indonesia; kasus Rohingya dengan menyerang kelompok Budha di Indonesia; kasus Uyghur dengan narasi menakuti-nakuti “Indonesia akan dijajah China” atau “rezim Jokowi pro-China”. Kasus Uyghur pun sangat terkait dengan Suriah&Indonesia: puluhan ribu orang Uyghur bergabung dengan “jihad” Suriah; sebagian yang lain bergabung dengan ISIS cabang Indonesia.

7. Di era globalisasi ini, terlalu naif bila memandang apa yang terjadi di Indonesia tidak ada kaitannya dengan geopolitik & ekonomi-politik global. Tapi sayangnya, sampai kini pun, komentator di fanpage saya masih banyak yang menunjukkan keawaman mereka soal Suriah. Diskusi/seminar soal radikalisme seringkali tidak banyak menyentuh salah satu faktor penting: hoax soal Suriah. Bahkan ada kelompok antihoax yang menolak membahas hoax Suriah dengan alasan ini ‘isu luar negeri dan sulit diverifikasi’ (mungkin karena sebagian tokohnya ada yang diam-diam simpatisan IM).

Apakah dengan berbusa-busa ceramah soal “Islam adalah rahmatan lil alamin”, orang-orang yang sudah mulai teradikalisasi itu mau mendengar, sementara kepada mereka terus-menerus disodori foto-foto dan video-video berisi kisah penindasan kaum Muslim di berbagai negara, plus narasi hipnotik: rezim Jokowi komunis-Syiah-pro China?

**

Semua yang mengaku cinta NKRI harus berperan, termasuk media mainstream. Para wartawan dan analis/pengamat, saya harap, sedikit be-rendahhati-lah, coba simak media-media alternatif, simak liputan jurnalis-jurnalis independen, jangan melulu copas-terjemah berita dari media Barat.

Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi salah satu ‘pintu’ pembuka untuk memahami betapa pentingnya melawan hoax terkait isu Suriah, karena dampaknya sudah sangat dalam mempengaruhi kehidupan bangsa ini.

Silakan unduh:

Prahara Suriah_Dina Sulaeman

 

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: