Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Catatan Bedah Buku Prahara Suriah

Catatan Bedah Buku Prahara Suriah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

bedahbukusuriah

Al ilmu nuurun, ilmu itu cahaya. Sebagaimana logo Muhammadiyah, matahari yang bersinar, kemarin di PP Muhammadiyah telah berlangsung sebuah diskusi yang penting, yang pada hakikatnya upaya mencari ilmu atau cahaya terang. Sebaliknya, para penyebar hoax dan pengusung ideologi takfiri&radikalisme, pada hakikatnya  orang-orang yang ingin agar umat terus berada dalam kegelapan, agar tak bertemu dengan cahaya.

Acara yang berlangsung pada Jumat siang-sore itu (18 Jan 2019) bertajuk ‘Prahara Suriah, Hoax, Media Sosial, dan Perpecahan Bangsa.’ Acara ini diadakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, dengan narasumber: Kombes Pol.R.Ahmad Nurwahid, S.E.,M.M., (Kabagbanops Densus 88 AT POLRI), Prof Dr Henry Subiakto (Staf Ahli Menkominfo),  M.Najih Arromadhoni (Sekjen Alumni Suriah), dan Trias Kuncahyono (Penulis Buku ‘Musim Semi Suriah’). Saya sebagai penulis buku Prahara Suriah dan Salju di Aleppo juga hadir dalam acara ini. Moderator diskusi adalah intelektual muda Dr. Ahmad Najib Burhani.

Karena banyak yang ingin tahu isi acara ini, saya coba buatkan catatan singkat ya.

Acara dibuka dengan sambutan panitia, Wakil Ketua MPI, mas Edy Kuscahyanto, Irjen Pol. Drs. Suntana, M.Si. (Wakabaintelkam Polri) dan Ketua PP Muhammadiyah yang baru dilantik menjadi Dubes RI untuk Lebanon, Drs. Hajriyanto Y. Thohari, M.A.

Mas Edy menceritakan latar belakang diadakannya acara ini, yang terpenting tentu saja, sebagai upaya untuk peningkatan literasi di masa-masa ketika hoax dan narasi kebencian meraja lela dewasa ini, demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Sementara itu, Irjen Suntana  mengajak kita semua untuk kembali pada jati diri bangsa. Indonesia didirikan di atas berbagai suku bangsa dan agama. Kini, kita menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan NKRI akibat semakin mudahnya perpindahan informasi melalui gagdet. Di satu sisi, kemudahan akses informasi itu bermanfaat, tapi di sisi lain membuka peluang untuk digunakan oleh pihak-pihak yang  ingin memecah belah Indonesia.

Mengapa ada yang ingin memecah belah Indonesia? Karena, negeri ini ‘seksi’ sekali, punya kekayaan alam yang besar, sehingga banyak pihak yang tidak ingin Indonesia stabil. Apakah Indonesia bisa seperti Suriah? Bisa saja, jika sikap-sikap saling curiga dan saling memusuhi di antara sesama anak bangsa terus meluas.

Karena itulah, persebaran hoax menjadi berbahaya karena berpotensi memecahbelah persatuan. Berdasarkan pengamatan Polri, trend menyebar hoax di Indonesia mulai tinggi sejak 2012.

Namun, menurut Irjen Suntana, Indonesia insyaAllah tidak akan menjadi Suriah karena punya ikatan civil society yang kuat, yaitu ormas-ormas yang besar dan moderat, terutama Muhammadiyah dan NU.

icha2

Contoh hoax Suriah, baca pembahasannya di sini

Bapak Hajriyanto mengeluarkan pernyataan menarik: kebanyakan pengamat Timteng bukan orang HI (akademisi/saintis Hubungan Internasional), melainkan orang-orang dengan basis keilmuan agama, sehingga konflik Timteng melulu dilihat dari kacamata agama. Padahal dalam studi HI, kita akan melihat bahwa semua konflik pada dasarnya perebutan pengaruh atau hegemoni politik dan ekonomi. Pak Hajriyanto bilang, pernah menulis di Kompas artikel berjudul “Politik Di Timteng, Agama di Indonesia”, yang intinya membahas bahwa konflik di Timteng itu sebenarnya konflik politik, tapi oleh orang Indonesia hampir selalu dipandang sebagai konflik agama.

Jadi, saran pak Hajriyanto, kalau tidak ahli sebaiknya jangan mengomentar Timteng, apalagi memberi komen dengan kacamata melulu agama dan membawa-bawa konfliknya ke Indonesia.

Sementara itu Prof Henri menjelaskan berbagai hal tentang hoax dan bahayanya. Ini sebagian saja yg saya catat:

  1. Banyak korban hoax tidak sadar bahwa mereka korban hoax karena ada di ‘ruang gema’. Ruang gema di medsos membuat mereka cenderung mendengar dari sumber yang sepikiran; seperti gema, info itu memantul-mantul sehingga memperkuat dan memperteguh pandangan mereka, bahkan ke tahap yang ekstrim dan keras kepala. Hoax dan media abal-abal pun dianggap sebagai kebenaran karena sesuai dengan suara yang bergema.
  2. Ciri-ciri hoax: menciptakan kecemasan, permusuhan, dan kebencian, atau pemujaan, harapan yang berlebihan. Menggunakan kata provokatif, seperti viralkan, sebarkan, mencengangkan,dll; mengeksploitasi fanatisme SARA (politik identitas) dan trauma masa lalu dengan teknik memunculkan ketakutan (fear arousing), struktur pesan 5W+1H tidak lengkap, terutama ‘kapan’ dan ‘dimana’-nya tidak jelas.

Kemudian, Gus Najih menceritakan pengalamannya selama menuntut ilmu di Suriah, antara lain bahwa ulama-ulama Sunni di Suriah itu banyak yang menjadi ulama terkemuka yang karya-karyanya tersebar luas di berbagai penjuru dunia. Biaya hidup di Suriah sebelum perang sangat rendah; banyak subsidi; rumah sakit gratis, sekolah gratis. Warga di sana juga hidup berdampingan dengan damai, sama sekali tidak ada konflik mazhab. Karena itulah hoax soal perang Sunni-Syiah tidak ‘laku’ di tengah warga Suriah sendiri; sehingga mayoritas “jihadis” yang bertempur dengan alasan “melawan Syiah” adalah orang-orang dari luar Suriah.

Mengenai hoax media, Najih menceritakan pengalamannya sendiri. Suatu saat ia menonton Aljazeera yang memberitakan live bahwa sedang terjadi serangan rezim kepada warga di kawasan X [saya lupa namanya]. Padahal Najih tinggal di kawasan yang disebutkan dalam berita itu dan saat itu sama sekali tidak terjadi apa-apa yang diberitakan itu.

Selanjutnya, Kombes Nurwahid menjelaskan bahwa secara logika, karena semua faktor penyebab konflik di Suriah sebenarnya sudah ada di Indonesia, seharusnya Indonesia ini sudah jadi Suriah kedua. Dibanding Suriah, keragaman di Indonesia jauh lebih kompleks; wilayah jauh lebih luas; paparan radikalisme juga semakin meluas. Tapi mengapa Indonesia sampai saat ini masih aman? Pak Nurwahid yang pernah berkunjung ke Suriah ini menjelaskan ada 5 faktor yang selama ini menjaga Indonesia:

(1)Indonesia punya Pancasila; (2) karena struktur sosial Indonesia kuat dan dijaga oleh ormas-ormas moderat seperti Muhammadiyah dan NU; (3) TNI dan POLRI tetap solid; (4) kultur Indonesia beda dengan kultur Arab, dan (5) perlindungan dari Tuhan.

Kombes Nurwahid berpesan, adalah kewajiban semua elemen bangsa untuk menjaga baik-baik negeri ini, yang merupakan ‘potongan surga di bumi’.

(Oiya, baik Irjen Suntana dan Kombes Nurwahid dengan sangat fasih mengutip ayat-ayat Quran tentang kewajiban kita bertabayun dan menjauhkan diri dari penyebaran fitnah dan hoax).

Sementara itu, Trias Kuncahyono (penulis buku Musim Semi Suriah, terbit 2012) menyatakan bahwa Suriah itu negara polisi; negara yang tidak berdaulat [kalau saja tidak dibantu Iran dan Rusia, Assad sudah kalah dari dulu]. Rusia dan Iran mau bantu Suriah karena masing-masing punya kepentingan. Menurutnya, konflik Suriah tidak dimulai oleh hoax, melainkan rentetan gelombang Arab Spring [menuntut demokratisasi] yang terjadi di Dunia Arab. Trias juga mengingatkan agar konflik-konflik Timur Tengah dijadikan pelajaran bagi kita agar kita menjaga persatuan bangsa sebaik-baiknya.

Terakhir, saya memulai paparan singkat saya dengan mengutip kalimat “Without data, you are just another person with opinion.” Tanpa data, Anda hanyalah seseorang yang sedang beropini. Saya persilahkan hadirin untuk mengunduh buku saya Prahara Suriah dan baca sendiri, apa saya sedang beropini, atau berargumen dengan basis data.

[link download buku Prahara Suriah  kalau Anda klik, ada penjelasan mengenai ‘mengapa penting bagi kita untuk memahami konflik Suriah’]

Saya berikan beberapa contoh hoax soal Suriah, misalnya foto-foto palsu yang pernah dipakai oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia: foto di Irak, Palestina, Azerbaijan, disebut ‘korban kebiadaban Assad’ (saya bahas di buku ‘Prahara Suriah’, terbit 2013).

MHTI

Foto hoax dari MHTI, baca pembahasannya di sini

Juga tentang serangan senjata kimia yang diberitakan BBC 29 Agustus tahun 2013. BBC menggunakan footage (potongan video) yang menampilkan Dr Rola yang berada di ‘lapangan’ (di sebuah lokasi di Aleppo) saat ada senjata kimia. Dr. Rolamengatakan, ada serangan bom napalm. Berita itu disiarkan beberapa saat sebelum Dewan Keamanan PBB bersidang memutuskan apakah Suriah perlu digempur NATO atau tidak (hasil sidang: tidak).

Pada tanggal 30 September, footage yang sama dipakai BBC dalam film dokumenter tapi di situ kata2 ‘bom napalm’ diedit menjadi ‘chemical weapon’.

Mengapa? Karena kalau disebut bom napalm, ketahuan sekali hoaxnya. Dampak bom napalm itu sangat fatal dan pernah terjadi di Vietnam, kondisinya jauh berbeda dari yg terlihat di video itu. Hoax ini sudah dibincangkan luas para netizen. Akhirnya BBC mengeditnya menjadi ‘senjata kimia’; tetapi tetap saja, video itu banyak kejanggalan, misalnya, kalau benar ada serangan senjata kimia, mengapa Dr. Rola pakai masker, tapi orang lain tidak. (dan lain-lain, detilnya ada di buku saya ‘Salju di Aleppo’ terbit 2017)

Nah apa dampak hoax itu di Indonesia? Pertama, kebencian menjalar kemana-mana, orang menjadi tidak rasional lagi, kebencian kepada orang di luar sana ditumpahkan kepada saudara sebangsa. Kedua, semakin benci, semakin teradikalisasi, dan sangat mungkin akhirnya mereka pun bergabung dengan milisi teror (dan memang benar kan, banyak orang Indonesia yang gabung dengan ISIS dan Al Qaida di Suriah). Kita tahu kan, bom tidak hanya meledak di Aleppo, tapi juga di Jakarta dan Surabaya.

Demikian sedikit catatan. Semoga bermanfaat. Mari kita jaga NKRI baik-baik, jangan bawa api kebencian yang membakar Timur Tengah untuk membakar Indonesia.

Bandung, 19 Januari 2019.

 

NB: karena banyak yang nanya, buku Prahara Suriah sudah sold out, bisa download e-book-nya; sedangkan buku Salju di Aleppo bisa dicari di tokopedia atau shopee, atau WA ke Hatim 0878-8299-8696

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: