Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Israel di Balik Kisruh Venezuela (2)

Israel di Balik Kisruh Venezuela (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Kudeta (gagal) di Venezuela awal 2019 ini dipimpin oleh Presidan AS, Donald Trump dan kubu neokonservatif (neocon) AS. Kubu ini awalnya tidak menyukai Trump, namun kini mereka kembali mendominasi arah kebijakan luar negeri AS.

Apa itu kubu neocon? Ini adalah kelompok elit di pemerintahan AS yang punya tujuan ideologis menjaga keamanan Israel. Pakar HI, Robert Gilpin, pernah menulis artikel jurnal berjudul “War is Too Important to Be Left to Ideological Amateurs’ [Perang terlalu penting untuk diserahkan kepada amatir ideologis] blak-blakan menyatakan bahwa arsitek perang Irak adalah kelompok neocon yang bertujuan untuk melakukan “restrukturisasi radikal atas relasi geopolitik di kawasan dengan tujuan untuk menciptakan keamanan jangka panjang bagi Israel.”

Itu kan perang Irak, apa kaitannya dengan Venezuela? Nah, itulah mengapa dipakai istilah ‘ideologi’: ideologi neocon adalah ideologi perang demi Israel, namun sejalan dengan itu, ada uang besar yang bermain dalam industri perang. Kelompok neocon yang berlumuran darah di Irak, Libya, Yaman, dan Suriah, dan sejak 40 thn yll berupaya menumpahkan darah di Iran, adalah kelompok yang sama yang secara terbuka melakukan upaya kudeta di Venezuela.

Peran neocon diungkap oleh media AS, Wall Street Journal (25/1), yang melaporkan bahwa Bolton, Pompeo, dan Pence [tokoh-tokoh neocon] melakukan perundingan dengan kelompok oposisi Venezuela. Malam sebelum Guaido mengangkat dirinya sendiri sebagai ‘presiden interim’, Wapres Pence menelpon Guaido menjanjikan dukungan AS. Esoknya, Guaido (23/1) melakukan deklarasi dan Trump memberikan pernyataan ‘mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela dan Maduro –yang menang pilpres- bukan lagi pemimpin negara itu’.

Selanjutnya, Menlu Pompeo mengumumkan bahwa Elliot Abrams ditunjuk sebagai utusan khusus pemerintah AS untuk menangani krisis Venezuela.

John Bolton, arsitek perang Irak, dan saat ini menjabat sebagai Penasihat Keamanan Nasional AS menulis di Twitternya (25/1), “Pleased to hear that my good friend Elliott Abrams is rejoining State as Special Envoy for Venezuela. Welcome back to the fight.”

Bolton menyebut ‘rejoining’ (bergabung kembali) karena Abrams sebelumnya memang pengkritik Trump. Tapi kini ketika Trump menuruti kemauan neocon, Abrams bersedia bergabung untuk ‘berjuang’ (=berperang).

Pada 28 Jan, Bolton diwawancarai Fox News dan mengatakan: “Kami sedang berbincang dengan perusahaan-perusahaan besar Amerika sekarang… Akan terjadi perubahan besar bagi ekonomi AS jika kita bisa meminta perusahaan-perusahaan Amerika berinvestasi dan memproduksi minyak di Venezuela.”

Artinya: Bolton mengakui bahwa dukungan AS pada kudeta Venezuela adalah karena minyak. [Venezuela dalam pemilik cadangan minyak terbesar di dunia].

Lalu, siapa Abrams? Media Israel menulis, “He is known for his closeness to the Israeli establishment and the pro-Israel community, and is close to Israeli Prime Minister Binyamin Netanyahu.” [Dia dikenal karena kedekatannya dengan Israel dan komunitas pro-Israel, dan dekat dengan Perdana Menteri Israel Binyamin Netanyahu.]

Jadi, selain punya rekam jejak sebagai arsitek genosida Amerika Latin [lihat video yang saya share kemarin], ideologi utama Abrams adalah menjaga keamanan Israel. Pada Des 2016, karena Obama ‘membiarkan’ resolusi anti-Israel lolos di DK PBB, Abrams menulis artikel yang isinya habis-habisan mengecam Obama, menyebut resolusi itu ‘warisan Obama yang memalukan dan berbahaya bagi Israel’. Padahal isi resolusi itu mengecam pembangunan permukiman illegal Israel di atas tanah warga Palestina, yang memang melanggar hukum internasional.

Bahwa Abrams adalah neocon dan mendukung penuh Israel juga ditulis oleh MSM, New York Times, “Mr. Abrams, a neoconservative with strong ties to Mr. Cheney, has pushed the administration to throw its support behind Israel.”

Lalu apa kaitan kubu neocon AS – Israel – Venezuela?

1. Ideologi kubu neocon adalah perang demi Israel, namun seiring dengan itu mereka juga meraup uang dari industri perang. Kubu neocon pada dasarnya berupaya mengeruk uang sebanyak mungkin dari uang pajak rakyat AS untuk membiayai proyek-proyek perang mereka. Tanpa perang di luar negeri, ATM mereka bisa mengering. Seiring dengan itu, perusahaan-perusahaan raksasa yang sahamnya dikuasai Zionis mengambil untung jauh lebih besar lagi dari perang dan minyak.

2. Venezuela, sejak era Chavez telah menjadi pusat perlawanan terhadap imperialisme neocon/Barat. Venezuela menjadi pembela utama Palestina dan menjadi pusat gerakan pro-Palestina di kawasan Amerika Latin. Dampaknya, dalam berbagai pemungutan suara di PBB beberapa tahun terakhir, negara-negara Amerika Latin mendukung keputusan-keputusan yang pro-Palestina. Pada tahun 2009, ketika Israel secara brutal membombardir Gaza, Chavez memutuskan hubungan dengan Israel.

Dalam wawancaranya dengan media Hezbollah, Al Mayadeen, Maduro menegaskan kecintaannya pada Palestina. Ia menyebut Juan Guaido sebagai “agen CIA yang melayani kepentingan Amerika Serikat dan Zionis”.

3. Setelah Netanyahu memberikan dukungan kepada Guaido, Guaido berjanji akan menormalisasi hubungan Venezuela-Israel. Guaido juga mencuit ala ZSM, “74 tahun yang lalu, kamp konsentrasi Auschwitz dibebaskan, dan hari ini, negara kami juga berjuang untuk kebebasan, kami berterima kasih kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas pengakuan dan dukungannya.”

Lalu bagaimana sih akhir konflik ini? Sementara ini, bisa disimpulkan bahwa kudeta neocon telah gagal. Penyebab utamanya adalah karena militer Venezuela tetap setia kepada tanah airnya (tidak mau tunduk pada neocon AS dan kompradornya). Tapi krisis ekonomi terus berlanjut. Sementara ini, Venezuela punya teman (Rusia, dll) yang mau memberi bantuan logistik (makanan, obat-obatan). Presiden Maduro sedang mengupayakan dialog nasional dan dikabarkan telah meminta bantuan kepada Paus di Vatikan untuk memediasi. []

Ref:
https://www.wsj.com/articles/a-call-from-pence-helped-set-an-uncertain-new-course-in-venezuela-11548430259
https://www.weeklystandard.com/elliott-abrams/obamas-disgraceful-and-harmful-legacy-on-israel
http://www.israelnationalnews.com/News/News.aspx/258234

dll.

Foto: demo warga Venezuela mendukung Palestina

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: