Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Paus dan Palestina

Paus dan Palestina

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dalam tulisan saya sebelumnya (‘Imam Palestina’), saya menulis kalimat ini: Jangan salahkan kaum muslim bila membantu atas dasar sentimen ke-Islam-an. Bukankah Israel (termasuk para fans-nya di Indonesia, yang oleh netizen dijuluki ‘Zionis Sawo Matang’) juga selalu membawa Alkitab saat menjustifikasi penjajahan Israel?

Ya, memang inilah yang saya dapati. Bahkan ada yang sedemikian ngaconya, setelah terdesak dibombardir argumen rasional dan data, ZSM berkata, “Salahkan saja Nabi Musa!”

Mereka sedemikian yakinnya, konon berdasarkan ayat Alkitab, Nabi Musa dulu mewariskan tanah Palestina kepada bangsa Yahudi, sehingga setelah ribuan tahun berlalu, Yahudi berhak datang lagi mengambil tanah itu dan mengusir populasi yang hidup di sana.

Waktu saya ke Papua, saya dapat cerita dari seorang mahasiswa bahwa banyak gereja baru dibangun yang dindingnya dipasangi bendera Israel (Bintang Daud). Natalius Pigai, aktivis HAM asal Papua mengatakan bahwa bintang Daud adalah ‘simbol tauhid umat Kristen’.

Pertanyaannya, Kristen yang mana?

Di sini saya ingin menjelaskan, bahwa umat Kristiani itu ada banyak ‘aliran’ (denominasi). Khusus untuk ‘aliran’ yang getol sekali membela Israel, saya kutip penjelasan dari artikel jurnal yang ditulis pakar Hubungan Internasional asal AS, Robert Gilpin:

***
Dukungan kuat kaum Kristen Evangelis kepada Israel didasarkan pada pembacaan Alkitab secara fundamentalis. Mereka sangat percaya pada ‘Kedatangan Kedua Kristus’ dan Apokaliptus, atau ‘akhir zaman’, yang akan menyertai kedatangan Kristus ke bumi. Interpretasi Alkitab seperti ini diperdebatkan hingga terbentuknya Israel pada 1948. Sebelum 1948, keyakinan Evangelis soal ‘Kedatangan Kedua’ umumnya sebatas teologis dan tidak dianggap sebagai alasan bagi tindakan politik.

Namun, ketika Israel ‘dibangun kembali’ pada 1948, kaum Evangelis menyadari bahwa tafsir mereka atas Alkitab mengindikasikan bahwa ‘Kedatangan Kristus’ mungkin terwujud di masa kini. Karena ‘berkumpulnya kembali kaum Yahudi di Tanah Suci’ adalah syarat yang disebutkan dalam Alkitab sebagai syarat turunnya Yesus, kaum Evangelis menghendaki agar pemerintah AS mendukung dan melindungi Israel di hadapan kaum Muslim-anti-Kristen.
***

Gilpin dalam artikel itu sebenarnya menjelaskan, faksi politik mana saja yang mendukung Perang Irak (yang sebenarnya sangat merugikan AS)? Ada 3, yaitu neokonservatif, ultranasionalis, dan Kristen Evangelis. Salah satu tujuan utama AS memerangi Irak adalah demi keamanan Israel (karena didesak oleh faksi Kristen Evangelis). [1]

Gilpin menggunakan frasa ‘pembacaan fundamentalis’. Maksudnya, pembacaan tekstualis. Kira-kira, sama dengan kaum Wahabi/takfiri: apa yang tertulis di Kitab Suci, itu pula yang ditelan mentah-mentah, tanpa peduli tafsir dan metodologi perumusan fatwa. Contohnya, Wahabi saat baca ayat ‘orang kafir harus dibunuh’, kan langsung kasih fatwa ‘orang kafir itu halal darahnya’ (tanpa mau peduli sejarah turunnya ayat, tafsir ayat, dan konteks zaman).

Untuk paham lebih jauh, bagaimana sih sebenarnya tafsir ayat Alkitab terkait Israel, silahkan baca tulisan-tulisan di fanpage Bapa Felix Irianto Winardi yang lulusan Seminari Tinggi Kentungan Yogya [2]

Yang perlu kita pahami: TIDAK SEMUA Kristiani berpaham Evangelis, sebagaimana tidak semua Muslim berpaham Wahabi/takfiri.

Foto-foto yang saya kompilasi ini adalah kunjungan Paus Francis ke Bethlehem (Tepi Barat), 2015. Bethlehem adalah kota kelahiran Isa Al Masih dan gereja tempat lahirnya, masih tegak sampai sekarang dan menjadi pusat peziarahan, Gereja Nativity.

Umat Kristiani masih banyak yang tinggal di Bethlehem dan berbagai kota Palestina lainnya. Sebagaimana kaum Muslim, mereka juga mengalami pengusiran dan penjajahan. Saat terjadi aksi-aksi pengeboman, gereja di Gaza membuka pintunya untuk para pengungsi Muslim. [3]

Di foto ini, terlihat Paus berdiri di depan Tembok Pemisah (yang dibangun Israel memisahkan kawasan Tepi Barat dengan Yerusalem). Beliau menundukkan kepala, berdoa, dan menyentuh tembok itu.

Menurut Father Lombardi, jubir Vatikan, “Itu adalah cara yang sangat signifikan untuk menunjukkan partisipasi Paus dalam penderitaan … Itu adalah momen spiritual yang mendalam di depan simbol perpecahan.” [4]

Seperti ditulis The Guardian, setelah itu, Paus menuju Bundaran Manger yang dipadati ribuan umat Kristiani untuk mengadakan misa. Misa dimulai dengan menyanyikan lagu Palestina ‘Mawatani’ (Tanah Airku) yang berbicara tentang keinginan Palestina untuk merdeka. Suara para penyanyi bergema di seluruh plaza yang digantungi gambar-gambar yang menghubungkan penderitaan Kristus dengan penderitaan rakyat Palestina.

Altar dimana Paus menyampaikan pesannya dihiasi gambar bayi Yesus yang dibungkus dengan keffiyeh, syal tradisional Arab yang merupakan simbol nasionalisme Palestina.

See? Betapa umat Kristiani (non-Evangelist) pun sangat mendambakan kemerdekaan Palestina. Lalu mengapa mereka seolah diam dan tak peduli?

Ah siapa bilang? Mungkin di Indonesia yang demikian, karena narasi pro-Palestina selama ini seolah memang dikuasai kubu ‘radikal’ (yang saya ceritakan dalam ‘Imam Palestina’). Jangankan non-Muslim, saya aja males sama mereka.

Tapi di luar negeri, saya perhatikan tidak ada lagi dikotomi agama dalam membela Palestina. Orang-orang Amerika Latin yang mayoritas Kristiani selama ini terang-terangan mendukung Palestina. Presiden Maduro pernah mengomeli pemimpin Arab yang diam saja melihat pembantaian yang dilakukan Israel.[5]

Orang-orang Irlandia (mayoritas Katolik) melakukan aksi boikot yang serius terhadap barang-barang produksi wilayah pendudukan [wilayah Palestina yang diduduki Israel] dan parlemennya meloloskan UU boikot produk Israel [6].

Jadi, apapun agama kita, dukungan pada kemerdekaan Palestina adalah keniscayaan, kewajiban. Karena, semua agama pastilah mengajarkan kasih sayang, empati, cinta pada sesama manusia, dan perlawanan terhadap kejahatan. Yang menyimpang dari semua ajaran kebajikan itu, mungkin mereka yang salah tafsir atas ajaran agamanya sendiri.


[1] Gilpin (2005), https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0047117805050059
[2] https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/
[3]https://www.timesofisrael.com/gaza-church-opens-doors-to-war-refugees/
[4] https://www.theguardian.com/world/2014/may/25/pope-francis-israeli-separation-wall-bethlehem
[5] https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/351120852201920/
[6] https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/283034262516214/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: