Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community » Menyambung Status Kemarin…

Menyambung Status Kemarin…

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Menanggapi berbagai komen (sebagian sih sudah saya jawab langsung), ada yang perlu saya jelaskan. Ingat, ini bukan dalam rangka membela teroris atau tidak bersimpati sama korban ISIS ya (saya akan blokir orang-orang yang berani komen kayak gini lagi, sialan bener).

1. Kasus yang kita bahas adalah: petempur ISIS dan keluarganya asal Indonesia yang SEDANG DITAWAN oleh otoritas Kurdi Suriah (=pemerintah daerah). FYI, Kurdi itu suku, agamanya mayoritas Muslim Sunni.

2. Mereka ini ditahan karena MENYERAH. Jadi, secara hukum internasional, mereka harus “dilindungi”, ga bisa ditembakin semena-mena oleh SAA (tentara Suriah). Coba saja Assad berani melakukan pembantaian massal kepada mereka, besoknya pesawat tempur NATO akan langsung menyerbu dengan tuduhan “Assad melakukan kejahatan kemanusiaan”.

3. Kalau saja para teroris (ISIS, Al Nusra, dll, ada ratusan nama) terus bertempur, sudah pasti bakal dibantai sekalian semuanya oleh SAA. Tapi sikon berbeda karena mereka menyerah. Mungkin ada yang bilang, ya udah kenapa saat itu ga dibantai aja? Ingat juga, Suriah itu setiap incinya diawasi oleh AS dkk, mereka menunggu-nunggu kapan SAA terbukti melakukan kejahatan kemanusiaan.

Selain itu, kebijakan Assad sejak awal selalu mengedepankan kesempatan untuk “tobat’ kepada warganya yang gabung dg teroris, asal mereka mau serahkan senjata, lalu bergabung kembali dengan pemerintah, akan diberi amnesti (tentu ada proses-proses hukum dan deradikalisasi juga, tapi jelas tidak dibantai, seperti saran para komentator kemarin).

4. Apakah orang-orang ISIS-Indonesia ini masih WNI (kan sudah bakar paspor, kan sudah baiat sama ISIS)? Kabar buruknya: YA, secara UU, MASIH WNI. Jangan ngomel ke saya, emangnya saya yang bikin hukumnya?

5. Kalau masih WNI, berarti, memang TANGGUNG JAWAB pemerintah Indonesia untuk mengurusnya. Ada yang bilang, tapi kan tidak ada resiko apapun (selain dinyinyirin PBB) kalau kita tidak memulangkan? Biarin aja mati sangit semua di sana!

Kabar buruknya: mereka tidak akan mati sangit karena sekali lagi, dilindungi oleh pemerintah (karena diawasi juga oleh PBB). Jadi mereka ini BEBAN berat buat pemerintah Suriah (kalian pikir, gampang ngurusin puluhan ribu orang asing yang profesinya teroris+keluarganya?).

6. Ada yang bilang: toh tidak ada kewajiban SEGERA menjemput para teroris sialan ini, ya sudah biarin aja di sana. Ya, itu memang salah satu opsi, kalau kita tidak peduli dengan sikon no.5 (bahwa mereka amat membebani pemerintah Suriah).

7. Di liputan Tempo, otoritas Kurdi mengatakan, siap melepas ISIS Indonesia ini asal ada PERMINTAAN dari pemerintah Indonesia. Ada yang sensi dengan kalimat ini, tapi, ini justru logis banget: memang harus ada PERMINTAAN resmi dari negara asal sehingga mereka benar-benar pulang.

Pemerintah Suriah harus waspada karena siapa yang jamin kalau mereka mengaku akan pulang, tapi ternyata di tengah jalan bergabung lagi dengan milisi teror yang masih tersebar di beberapa kawasan Suriah?

8. Secara umum respon orang Indonesia ada 3:

A. Mereka yang sejak awal perang sudah paham dan bersuara untuk mengkonter hoax (bahwa Assad kejam, bahwa di sana perang agama) serta menjelaskan aspek geopolitik perang Suriah, bahaya paham wahabi-salafi (ideologi dasar para radikal&teroris), dan khilafah palsu.

Mengapa harus dikonter hoax ini? Karena gara-gara hoax inilah orang-orang jadi teradikalisasi dan sebagian memutuskan gabung dengan teroris. Bahkan sejak awal kami bilang, bangsa Indonesia bisa terpecah belah kalau masifnya persebaran hoax soal Suriah ini tidak diatasi. Sekarang, kalian lihat sendiri bukti dari perkataan kami dulu.

B. Mereka yang sejak awal ga peduli, percaya saja pada narasi media Barat soal Suriah. Kata mereka: ini media kredibel, ga mungkin bohong! Yang bilang gini tidak pernah baca sejarah betapa sering media Barat memfabrikasi berita demi memuluskan agenda penggulingan rezim.

Media-media besar di Indonesia juga termasuk yang bertanggung jawab soal penyebaran narasi versi Barat ini, yang semakin membuat yakin para radikal dan publik bahwa “diktator Assad” di Suriah melakukan pembantaian massal terhadap orang Sunni.

Yang saya protes dil status kemarin: mereka ini kok sekarang sok-sok humanis, cuci tangan, dan menyerukan: BAWA PULANG WNI kita.. kasian om, mereka dalam nestapa..

C. Mereka yang sama seperti kelompok B (tidak peduli, percaya saja pada media besar), tapi sekarang teriak-teriak: JANGAN TERIMA ISIS pulang!!

Di status kemarin, saya mengingatkan, woy, ini adalah HARGA yang musti kita tanggung bersama gara-gara kalian-ga mau dengar omongan kami (kelompok A). Jadi, ingatlah kesalahan kalian, jangan cuci tangan seolah bebas dosa dengan berteriak: tolak teroris!

Terakhir.. jadi, gimana? Apakah yang harus dilakukan pemerintah Indonesia? Ya, kita serahkan saja ke pemerintah, bagaimana keputusannya. Mereka sudah punya banyak pakar yang memang digaji untuk mikirin negeri ini.

Demikian.

Foto:
perempuan Kristen Suriah yang ikut bertempur melawan ISIS, mereka berjuang bersama milisi Kurdi (Muslim Sunni).
(sumber foto: The Independent)

***
Yang mau baca buku saya Prahara Suriah (2013) bisa download gratis soft filenya:

https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/01/01/pdf-prahara-suriah/

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: