Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community » Menolak Buta Sejarah: Palestina 1896

Menolak Buta Sejarah: Palestina 1896

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan
Sebenarnya, konflik Palestina-Israel ini mudah dipahami, siapa yang salah, siapa yang benar. Pakai logika pun cukup. [1]
 
Yang bikin orang gagal paham adalah karena terlalu banyak noise (kebisingan gak jelas, mengaburkan akar masalah). Ada ahli kimia, ahli geologi, atau ahli saluran air mendadak berlagak jadi “pengamat Palestina-Israel”. [2]
 
Kalau untuk jadi dokter, orang musti kuliah bersusah-payah bertahun-tahun, tapi untuk jadi “pengamat Palestina-Israel”, banyak yang merasa, sekedar modal googling pun sudah jadi “ahlinya ahli”, lalu berlagak menjadi “pejuang toleransi” demi membela Israel.
 
Akhir-akhir ini entah mengapa, tiba-tiba saja para jubir lokal Israel meraung-raung. Ada masalah apakah, kok mendadak stress begitu? Sampai-sampai tak malu lagi membuka kedok, bahwa mereka sebenarnya tak lebih dari bigot yang menjustifikasi pembunuhan dengan dalih “ini kata Tuhan”.
 
Mereka selama ini berlindung di balik kata “toleransi” dan kemana-mana seolah berjuang menyebarkan toleransi. Mengajari publik agar toleran, termasuk toleran pada Israel. Tentu dulu mereka tidak menyebut “Israel”, mereka sebut “Yahudi”. Padahal orang Yahudi sendiri banyak yang mengecam rezim Israel.
 
Akhir-akhir ini, para jubir lokal itu terang-terangan membuka kedoknya: mereka membela Israel atas dasar fanatisme agama, atas dasar “penafsiran fundamentalis atas Kitab Suci” (istilah ini dipakai oleh pakar HI AS, Robert Gilpin).
 
Nah, akankah para “ahlinya ahli” (yang biasanya menampilkan diri sebagai muslim-sejati-toleran-pluralis-antiradikalis) yang selama ini mendukung mereka, tetap pada sikapnya?
 
Toleransi macam apa yang harus diberikan kepada sebuah rezim pelaku kejahatan kemanusiaan?
 
Silahkan simak potongan film jadul ini.
 
Bangsa Palestina tidak perlu diajari toleransi. Para penganut 3 agama samawi itu sudah hidup damai bersama sejak 1800-an (film ini dibuat 1896).
 
Pangkal masalahnya adalah ketika ada segerombolan bigot dari Eropa yang mengklaim bahwa semua tanah itu adalah milik mereka lalu mengusir dan membunuh penduduk yang hidup di sana.
 
“Ini tanah yang dijanjikan Tuhan untuk suku kami,” kata mereka sambil mengutip Kitab Suci. Apapun kecaman yang diberikan pada mereka, itulah jawabannya: ini kata Tuhan.
 
Lha kok sama kelakuannya dengan kaum Wahabi: menafsirkan ayat Al Quran seenaknya sebagai alasan untuk membantai sesama manusia??
 
***
 
video: pinjam dari fanpage Cerdas Geopolitik
 
***
[1] Untuk penstudi Timteng, di buku Hinnebusch disebutkan bahwa salah satu sumber utama ketidakstabilan di Timteng adalah Palestina-Israel. Jadi pemahaman atas kasus ini penting sekali.
Ini ada 3 tulisan saya “Falasi Logika Para Pembela Israel” :
 
[2] untuk 3 profesi yang saya sebut ini, harap jangan tersinggung, sama sekali tidak ada niat merendahkan; hanya contoh mengenai banyak orang yang “pindah jurusan” 🙂

 

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: