Kajian Timur Tengah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Presiden Turki Erdogan dijuluki oleh beberapa analis geopol (misalnya, Pepe Escobar) ‘Sultan Teflon’ karena dia licin sekali, anti lengket, bisa berpindah haluan dengan sangat enteng. Kalau pakai perspektif HI, Erdogan ini bisa disebut tipe realis tulen, apapun yang penting buat negaranya, itulah yang ia lakukan, bahkan bila harus membantai tetangga sendiri. Baru hari ini Erdogan tertawa-tawa bersama Assad dan istrinya, menyebut Assad ‘my brother’, esoknya dia sudah memberi dukungan pada milisi bersenjata untuk menggulingkan Assad.
 
Selama bertahun-tahun (sejak 2012) ia membuka perbatasan Turki-Suriah untuk lalu-lalang pasukan teror termasuk ISIS untuk keluar-masuk Suriah, serta membeli minyak yang dicolong dari kilang-kilang Suriah, namun kini (17 September 2019) ia menceramahi para pemimpin negara Muslim soal ukhuwah. Padahal dulu Maret 2015, dia menyatakan mendukung intervensi Saudi di Yaman dan bahkan siap bantu logistik. Benar-benar sultan anti lengket.
 
Anda bisa tonton di video ini, pernyataan terbaru Erdogan soal Yaman. Patut diakui, apa yang dikatakan Erdogan kali ini benar adanya. Kata dia, “Kita harus melihat bagaimana konflik ini dimulai, siapa yang menyebabkannya? Mereka telah menghancurkan Yaman.” Siapa? Tak lain, Arab Saudi. Saat Yaman mengalami konflik internal, Saudi ikut campur dengan membombardir warga sipil serta infrastruktur sipil. Sebelum menjatuhkan bom pertama kalinya (Maret 2015), Menlu Saudi saat itu, Adel Al Juber ke Washington dan bertemu Obama, minta restu.
 
Adel al-Jubeir juga mengakui, “Ada pejabat-pejabat Inggris dan AS dan negara-negara lain di pusat komando kami. Mereka tahu daftar target pengeboman…”
 
Bom yang digunakan adalah bom cluster buatan AS, jenis bom yang dilarang PBB karena dampaknya yang sangat mematikan, sehingga Sekjen PBB menilai aksi Saudi hampir dapat dikategorikan ‘kejahatan perang’ (may amount to a war crime). [1]
 
Sayangnya, Kementerian Luar Negeri Indonesia tidak bersuara tegas atas kejahatan kemanusiaan ini. Padahal PBB mengatakan, “Yemen is the largest humanitarian crisis in the world.” Setiap 10 menit ada 1 anak balita Yaman yang tewas. [2] Sebaliknya, ketika 14 Sept lalu Houthi melakukan serangan balasan kepada Saudi dengan membombardir kilang minyak Aramco, website Kemenlu Indonesia sigap merilis pernyataan “Indonesia Kecam Penyerangan Terhadap 2 Fasilitas Minyak Aramco di Arab Saudi”, dipublish pada hari Minggu 15/9.[3]
 
Sungguh ironis. Tahun 2015, saat gedung KBRI di Sana’a luluh lantak kena bom Saudi pun, Kemenlu tidak mengeluarkan kecaman, hanya “menyampaikan sejumlah keberatan kepada pemerintah Arab Saudi”.
 
(Sekedar info, dalam pernyataan diplomatik, istilah ‘menyesalkan’, ‘menyampaikan keberatan’, ‘mengecam’, ‘mengutuk’, itu beda-beda levelnya, tidak asal dipakai.)
 
Kalau Kemenlu berkenan mengadakan FGD untuk mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi di Yaman, saya siap membantu.
 
Sekarang, untuk jamaah Fesbuk pemerhati geopol Timteng, mari ‘belajar’ dulu dari petuah Pak Erdogan, yang ajaibnya, kali ini 100% benar.
 
**
 
NB:
 
-Ini paper yang penting dibaca soal Yaman, menjawab pertanyaan, mengapa perhatian dunia pada nasib warga Yaman sedemikian minim: “Efek CNN dalam Perang Yaman” https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/article/view/30/31

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: