Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

Demo di Irak dan Relasi Iran-Irak

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

Hari-hari ini Irak dilanda demonstrasi besar. Isu yang diangkat, tak jauh bedalah dengan isu-isu demo di berbagai negara berkembang, yaitu mengecam pemerintah yang dituduh korup, tidak menyediakan lapangan kerja, harga-harga mahal, dan bahkan: memprotes kerjasama Irak dengan China. Mirip ya dengan fenomena di sebuah negara di Asia Tenggara?

Pertanyaannya: mengapa harus bakar-bakaran? Mengapa melakukan perusakan fasilitas umum sehingga akhirnya bentrok dengan aparat? Kelihatan ya, “template” demo-nya? (Baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “template”).

Yang tidak banyak orang tahu: kedutaan besar AS di Baghdad adalah kedutaan yang terbesar yang dimiliki AS di seluruh dunia. Luasnya 42 hektar, dengan staf lebih dari 16.000 orang, termasuk 2000-an diplomat asli AS. Belum kalau dihitung “aktivis” dari berbagai negara asing (setahu saya, dulu juga ada tuh orang Indonesia), yang bebas keluar masuk Irak, blusukan kemana-mana. Yang tidak banyak orang tahu juga: massa diprovokasi melalui medsos, 79% cuitan seruan demo berasal dari Arab Saudi. Tentu media massa Barat tak ketinggalan memanaskan situasi.

Kembali ke aksi demo di Irak, kalau dilihat “pola”-nya, sejak 2017, demo di Irak selalu diadakan menjelang prosesi Arbain (ziarah ke Karbala, Irak selatan). Aksi-aksi bom bunuh diri ala ISIS juga terjadi di beberapa titik. Tapi entah mengapa, hal ini tak menyurutkan gelombang kedatangan para peziarah yang amat-sangat banyak itu. Seseorang berkata, “Ini karena kami berziarah dengan membawa perasaan cinta.” Sebuah artikel di Huffington Post menyebutkan, “Untuk menilai Islam, jangan liat aksi biadab ratusan teroris, tapi saksikan pengorbanan tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh puluhan juta peziarah Arbain.” [1]

Menjelang Arbain (peringatan 40 hari gugurnya Sayyidina Husein di Karbala), puluhan juta orang dari berbagai penjuru Irak (sebagian berasal dari luar negeri) berjalan kaki menuju kota Karbala. Istilahnya, “Arbaeen Walk”. Jumlah peziarah Iran yang datang ke Karbala tahun 2018 adalah 2,7 juta, mungkin tahun ini lebih banyak lagi. Peziarah dari berbagai negara Arab, Eropa, Asia Tenggara juga sangat banyak. Jumlah peziarah sedemikian banyak karena memang prosedurnya mudah dan berbiaya murah. Visa didapat dengan mudah (dan murah), dan di sepanjang jalan, makanan gratis dibagikan warga Irak kepada para peziarah. Bahkan mereka juga menyediakan rumah-rumah mereka untuk diinapi para peziarah yang berjalan kaki itu, gratis, dengan bonus makanan.

Meskipun peserta Arbaeen Walk bukan hanya orang Syiah, melainkan juga kaum Ahlus-Sunnah (beda dengan Wahhabi) dan bahkan kaum Kristiani, Yazidi, Sabian, dll, namun fenomena ini sepertinya membuat AS ketakutan dan memandangnya sebagai indikasi “semakin kuatnya dominasi Iran di kawasan”. Dan biasanya koor di media Barat adalah “Iran mempolitisasi kegiatan relijius di Irak”.

Saya pernah menulis sebuah artikel yang membahas relasi Irak-Iran ini. AS selalu memandang relasi ini dengan curiga, berbasis paradigma realis (yang meyakini negara selalu bersifat egois, akan selalu menghalalkan segala cara demi kepentingannya). Saya mempertanyakan, mengapa tidak menggunakan perspektif idealis?

Ini kutipan (terjemahan) artikel saya itu:

***
Dalam perspektif idealis, negara-negara dipandang sebagai aktor yang cenderung bekerja sama karena dengan cara ini mereka dapat mencapai kepentingan nasional mereka. Dengan menggunakan perspektif idealistik ini, gerakan Iran di Timur Tengah, khususnya Irak, akan terlihat sangat berbeda dengan gambaran yang disebutkan para pengamat realis.

Iran adalah negara teokratis yang secara terang-terangan menyatakan bahwa dasar negaranya adalah Islam mazhab Syiah-12 Imam. Kebanyakan orang Iran sangat menghormati Nabi Muhammad dan keturunannya, dan penghormatan ini juga menjadi dasar kebijakan luar negerinya. Dalam perspektif ini, Irak adalah tetangga yang bernilai spiritual bagi Iran. Banyak makam para Imam Syiah berlokasi di Irak dan setiap tahun, 2-3 juta peziarah Iran datang ke Irak untuk mengunjungi makam-makam itu. Untuk alasan spiritual itu juga, setelah jatuhnya Saddam Hussein, Iran membantu tetangganya untuk membangun infrastruktur listrik, air bersih, jalan, dan bandara, di wilayah selatan Irak, terutama di jalur peziarah dari Iran ke Irak, seperti sebagai Najaf, Basra, dan Karbala.

Iran juga mendapat manfaat dari pengembangan kota-kota Irak yang ditinggalkan di selatan. Biasanya, para peziarah Syiah dari banyak negara juga mengunjungi Iran. Agen perjalanan menawarkan paket ziarah Irak-Irak karena beberapa makam Imam Syiah dan keluarganya juga bisa ditemukan di Iran.

Dan tentu saja, peningkatan pariwisata di kedua negara berkontribusi pada peningkatan perdagangan antara kedua negara.

Sekarang Iran adalah pengekspor barang terbesar ketiga ke Irak, setelah Turki dan Cina. Rakyat Irak membeli barang-barang Iran dengan harga lebih murah daripada barang-barang dari negara lain tetapi nilai totalnya masih mencapai 6,6 miliar USD dalam satu tahun (2017). Di masa lalu, Irak dan Iran adalah dua negara yang saling bertarung selama delapan tahun [sebagian besar direkayasa oleh Washington] dan sekarang, berkat ziarah spiritual dan perdagangan ini, kedua negara telah menjadi teman.

Dalam perspektif idealis, ini adalah hubungan ideal antarnegara: kerja sama ekonomi dan perdamaian.

[Tapi mengapa AS selalu julid?]

***
Selengkapnya bisa dibaca di sini (berbahasa Inggris): https://www.globalresearch.ca/washingtons-divide-and-rule-strategy-in-basra-home-of-iraqs-biggest-oil-fields/5653854

[kalau ada yang punya waktu jadi relawan menerjemahkan artikel ini, silahkan, akan saya muat di web ic-mes.org]

Foto: makanan yang dibagikan gratis oleh warga Irak di pinggir jalan selama prosesi Arbaeen Walk.

—-
[1] http://www.huffingtonpost.co.uk/sayed-mahdi-almodarresi/arbaeen-pilgrimage_b_6203756.html

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: