Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

Diskusi dengan Kaum Bigot Itu Pekerjaan Sia-Sia

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Iklan

[Bigot adalah kata dalam bahasa Inggris, artinya fanatik buta. Bigot bisa berasal dari agama apa saja, atau ‘isme’ apa saja.]

Suatu hari, saya pernah hadir di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan sebuah ormas besar untuk bicara soal Suriah. Saya dipanelkan dengan seorang ustadz terkemuka di daerah itu (dari kalangan pro “jihadis”) dan seorang ustadz Syiah. Si ustadz Syiah mengklarifikasi (membantah) semua tuduhan-tuduhan yang diberikan ustadz anti-Syiah dengan argumen dan data.

Lalu, saya menjelaskan panjang lebar soal konflik Suriah. Saya tampilkan foto-foto dan video-video untuk memperlihatkan betapa banyak hoax yang tersebar. Saya jelaskan soal geopolitik Timteng. Saya bicara soal perebutan jalur pipa gas. Semua itu saya sampaikan untuk mendukung argumen saya bahwa konflik Suriah bukan konflik antarmazhab.

Anda tahu apa yang terjadi? Si ustadz anti-Syiah mengabaikan sama sekali semua paparan ustadz Syiah dan mengulangi tuduhannya. Jadi misalnya, “Qur’an-nya Syiah itu beda”. Padahal sudah diklarifikasi dengan argumen yang sangat logis, tapi si ustadz kembali mengulangi tuduhannya: “Qur’an-nya Syiah itu beda”.

Lalu soal Suriah, dia mengabaikan semua penjelasan saya dengan kata-kata, “Saya pernah ke Suriah, saya lihat sendiri masjid-masjid di sana dindingnya kusam-kusam. Orang di sana solatnya pake batu.” Seolah dengan kalimat ini dia ingin menceritakan betapa rezim Assad tidak memelihara masjid dan sesat.

Tentu saja saya punya jawaban untuk pernyataan koplak itu. Saya juga pernah ke Suriah. “Jadi maksud antum, masjid-masjid kuno berusia ratusan tahun itu dihancurin aja dan dibangun masjid baru yang dindingnya mengkilat-kilat??”

Tapi yang terjadi, moderator langsung menutup diskusi begitu ustadz itu selesai bicara, tidak memberi saya kesempatan menjawab.

Inilah sikap orang bigot: mengabaikan argumen apapun; sejelas apapun bukti yang diberikan, yang dia pegang tetap pendapatnya semula.

Silahkan Anda tonton video ini. Ini adalah Dubes Israel untuk PBB. Bayangkan, di forum resmi PBB, dimana orang berpendidikan tinggi bicara dengan argumen hukum internasional, HAM, dan sejenisnya, dia malah membacakan ayat di Torah yang isinya “janji Tuhan kepada bangsa Israel/tentang tanah Kanaan”.

Dan inilah yang dilakukan oleh para bigot suporter Israel yang semakin blak-blakan membawa ayat kitab suci. Anda sudah capek-capek kasih data sejarah, kasih resolusi PBB, mengutip pernyataan para akademisi Yahudi sendiri, bahkan pernyataan para Rabi dan Pendeta Kristiani yang pro Palestina. Semua kemampuan intelektual sudah dikerahkan, tapi semua itu dijawab dengan: “pokoknya menurut kitab suci saya, tanah di sana memang buat Yahudi”.

Jadi, buat saya, berdiskusi dengan bigot pro Israel atau pro Wahabi itu sia-sia saja. Sama seperti bicara dengan tembok, tidak punya telinga: apapun yang saya bilang mereka akan menyodorkan ayat versi mereka. (Padahal saya tidak bawa ayat dalam berargumen.)

Kalau kita mau diskusi soal kesehatan, tentu sebaiknya dengan dokter yang sudah kuliah bertahun-tahun di bidang kedokteran. Kalau mau diskusi dengan membawa argumen ayat kitab suci, tentu berdiskusilah dengan para ahli di bidang agama.

Sebenarnya, karena para pembela Israel gemar membawa ayat kitab suci mereka, yang paling logis adalah mereka berdebat dengan sesama penganut kitab itu. Di antara para Rabi Yahudi (atau di antara sesama umat Kristiani) kan juga ada perbedaan pendapat soal penafsiran ayat yang terkait Palestina-Israel. Jadi Anda berdebatlah dengan “ulama” di kalangan Anda tentang ayat yang sama, buka hati dan pikiran lebar-lebar. Masa sama “ulama” kalian tetap ga mau dengar?

Tapi bahkan untuk opsi yang masuk akal ini pun saya pesimis. Saya pernah membaca debat di facebook, seorang suporter Israel (mengaku Kristen) versus seorang lulusan seminari (Katolik). Tentu saja dua-duanya bawa ayat. Si bigot fans Israel berkeras dengan penafsirannya sendiri dan menyuruh bapak lulusan seminari itu belajar lagi soal kitab suci. Persis debat dengan bigot Wahabi pendukung ISIS/jihadis, apapun argumen kita, ujungnya kita disuruh “ngaji lagi”. Sia-sia saja.

**
Ini PDF kompilasi status fb saya, yang isinya menjawab sesat pikir (falasi) fans Israel, dijamin tidak pakai ayat, karena memang saya bukan ahli ayat, apalagi ayat kitab sucinya orang lain.

https://dinasulaeman.wordpress.com/…/jawaban-untuk-pembela…/

**
video bersubtitle saya pinjam dari Fanpage Cerdas Geopolitik

 

Iklan

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: