Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community » Siapa yang radikal?

Siapa yang radikal?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kemarin (sampai pagi ini) saya baca tulisan beberapa orang yang mengecam istilah “radikal” yang dikaitkan dengan Islam. Intinya, kata mereka, ini akal-akalan “penguasa” untuk membungkam oposisi.

Ya kalau kita balik lagi ke asal kata, radix (akar), makna kata radikal bisa saja baik, yaitu berpikir kritis hingga ke akarnya. Profesor saya dulu pernah menyebut saya ‘berpikir radikal’ setelah membaca paper saya yang mengulik sebuah topik sampai ke akar-akarnya.

Tapi, penggunaan istilah juga bisa disesuaikan dengan keumuman pemakaian saat ini. Umumnya (mungkin ya) orang Indonesia paham bahwa dalam konteks waktu beberapa tahun terakhir (sejak perang “khilafah” di Suriah dimulai 2012) yang dimaksud “radikal” adalah pemikiran sebagian kelompok Muslim yang menginginkan perubahan sistem secara radikal (sampai ke akar-akarnya), misalnya, dari yang sekarang demokrasi ke khilafah. Atau menginginkan perubahan perilaku sampai ke akar-akarnya pada semua orang (kalau tidak sama dengan mereka, auto kafirlah kita). Jadi kalau ada yang tersinggung dikatai radikal, ya mungkin karena dia mengusung ide perubahan sistem sampai ke akar-akarnya itu, atau karena dia abai bahwa ada kelompok seperti ini (dan berkeras pada definisi yang dia pegang soal “radikal”), atau entah apa.

Berikut ini tulisan dari Prof Nadirsyah Hosen yang menurut saya dengan jelas memetakan siapa kelompok radikal itu. Ini penting dipahami bersama supaya di satu sisi, yang punya power (pemerintah) tidak asal babat, dan di sisi lain, mereka yang denial juga paham bahwa ada kelompok radikal yang berbahaya (anehnya yang denial ini juga termasuk mereka yang dikafir-kafirkan oleh kelompok radikal ini lho).

Siapa Kelompok Radikal Islam Itu? [Catatan untuk Menteri Agama yang Baru]

***

Btw, saya pernah nulis juga menyanggah klaim HTI yang menyatakan diri antikekerasan (dan pembubaran HTI ini justru dikecam oleh orang-orang liberal, termasuk pemikir-pemikir Ostrali yang banyak dikutip orang Indonesia untuk berargumen “demokrasi Indonesia sudah mundur” — pdhl HTI ini sadis sekali mengecam liberalisme, sungguh absurd ) –> https://geotimes.co.id/kolom/politik/libya-suriah-dan-keruntuhan-klaim-antikekerasan-hti/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: