Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » Rojava, Kurdi, dan Anarkisme (2)

Rojava, Kurdi, dan Anarkisme (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Rojava, sebuah “negara otonom” yang dideklarasikan sepihak oleh sebagian populasi Kurdi di utara Suriah pada tahun 2012 telah menjadi semacam laboratorium bagi implementasi konsep ‘negeri impian’ kaum anarki. Konsep politik yang digunakan Rojava disebut ‘libertarian municipalism’ (dikemukakan Murray Bookchin), yang ‘di atas kertas’ memperjuangkan demokrasi sekular, pemberdayaan perempuan, komunalisme (tatanan yang diatur bersama oleh masyarakat; yang merupakan antitesis dari birokrasi pemerintahan ala negara).

(1) Kritik Filosofis

Di dalam Piagam Kontrak Sosial Rojava, tertulis:
“Di bawah piagam ini, kami, orang-orang dari Daerah Otonomi [Rojava] …. membangun masyarakat yang bebas dari otoriterisme, militerisme, sentralisme, dan intervensi otoritas agama dalam urusan publik, Piagam ini mengakui integritas wilayah Suriah…”

Di Pasal 3 disebutkan bahwa Daerah Otonomi ini terdiri dari tiga “canton”, yaitu Afrin, Jazirah dan Kobane, dimana komunitas etnis dan agama, (Kurdi, Arab, Syria, Chechen, Armenia, Muslim, Kristen, dan Yazidi) secara damai hidup berdampingan dalam persaudaraan.

Dari kutipan di atas, perhatikan kata “wilayah” dan “komunitas”. Di tulisan bagian 1 saya sudah menjelaskan filosofi dasar anarki, yaitu menolak segala bentuk otoritas.
Apa itu wilayah? Siapa yang menetapkan wilayah X berada di bawah pemerintahan tertentu? Siapa yang berhak menjadi penduduk di wilayah X? Tidakkah konsep wilayah meniscayakan otoritas? Lalu, tidakkah komunitas dibatasi oleh aturan dan otoritas? Apa yang membedakan komunitas Kurdi dengan Arab, komunitas Muslim dengan Kristen? Tidakkah di dalamnya ada aturan, ada batasan, ada hirarki?

Andrea Glioti, jurnalis yang pernah datang dan tinggal beberapa waktu di Rojava, menceritakab bahwa potret Ocalan (pemimpin PKK, partai separatis Kurdi di Turki) ada di mana-mana, sering disertai dengan slogan “Tidak ada kehidupan tanpa pemimpin” (be serok jiyan nabe). Lho, katanya tidak mau ada ‘pemimpin’/hirarki?

Dan masih banyak hal kontradiktif lain yang bisa dipertanyakan, misalnya, bagaimana Rojava berinteraksi dengan negara lain; bahwa ternyata di Rojava juga ada militer, yaitu YPG [lihat pasal 15]; dll (dan silahkan dijawab oleh pendukung anarki).

(2) Kekerasan yang Dilakukan Rojava

Supaya tidak bingung:
-YPG adalah milisi bersenjata yang berafiliasi dengan partai Kurdi “PYD”.

-PYD adalah ‘cabang’ Suriah dari partai PKK (partai Kurdi di Turki yang oleh Turki dianggap kelompok teroris).

-Sejak 2015, YPG membentuk SDF (Syrian Democratic Forces) yang didanai dan dipersenjatai AS, dengan tujuan melawan ISIS. Anggota SDF mayoritas orang Kurdi, sisanya milisi Arab.

-Sesuai kesaksian Glioti dan berbagai laporan media, Rojava mengibarkan bendera wajah Ocalan; di Raqqa, setelah ISIS terusir foto besar Ocalan juga dikibarkan. Artinya, PKK dan PYD dan Rojava satu haluan.

-TIDAK SEMUA orang Kurdi Suriah pro PKK/PYD/Rojava. Banyak di antara mereka yang pro pemerintah Suriah, bahkan bergabung dengan SAA (tentara nasional Suriah). Mirip gerakan separatis di negara-negara lain (termasuk Indonesia), jumlah mereka minor, tapi suaranya sangat nyaring karena didukung media & pemerintah Barat; sehingga seolah semua warga Kurdi ingin mendirikan negara sendiri.

– Populasi Kurdi di dunia: 14,5 juta di Turki, 6 juta di Iran, 5-6 juta di Irak, dan kurang dari 2 juta di Suriah. Namun sejak perang Suriah, populasi Kurdi Suriah tersisa 1,2 juta sementara sisanya mengungsi ke negara lain.

Glioti menyaksikan bagaimana milisi YPG ini membantai warga di Amuda yang tidak setuju dengan mereka (Juni 2013). Kesaksian Glioti ini bersesuaian dengan laporan Human Rights Watch tahun 2014 yang menyebut bahwa YPG melakukan penahanan semena-mena, kekerasan dalam penjara, pembunuhan, penghilangan orang, serta merekrut anak-anak untuk dijadikan milisi.” Juga bersesuaian dengan laporan Amnesty Internasional 2015 bahwa YPG membakar rumah-rumah warga non-Kurdi tanpa ada alasan militer yang dapat dijustifikasi.

Tahun 2017, SDF menyerbu pusat ‘pemerintahan’ ISIS di Raqqa (mayoritas penduduknya adalah orang Arab), yang terjadi adalah:
-Alih-alih menghancurkan para teroris yang sudah membunuh ribuan warga sipil Suriah, SDF malah berkolusi dengan pimpinan ISIS; ISIS menyerahkan wilayah kekuasaan mereka kepada SDF tanpa pertempuran dan pindah ke daerah yang dikontrol tentara Suriah.

-Target SDF adalah mengambil alih kontrol atas Raqqa (supaya tidak dikuasai oleh pemerintah Suriah) demi kepentingan geopolitik AS dan Israel yang sejak lama mengupayakan pemecahan Suriah menjadi wilayah-wilayah kecil.

-Saat SDF masuk, yang dilakukan adalah pembersihan etnis (orang-orang Arab dibantai dan diusir dari Raqqa) sehingga wilayah Raqqa total dikuasai Kurdi untuk digabungkan dalam wilayah Rojava.

Dengan demikian, minimalnya dapat disimpulkan bahwa masih banyak kritikan terhadap tatanan anarki ala Rojava, serta kecaman atas kejahatan/kekerasan yang dilakukan kepada non-Kurdi, yang jelas bertentangan dengan klaim-klaim utopis mereka soal perdamaian dan demokrasi.


Bacaan lebih lanjut:

Kurdi: Senjata Washington untuk Mendestabilisasi Timur Tengah


https://www.aljazeera.com/indepth/opinion/2016/08/rojava-libertarian-myth-scrutiny-160804083743648.html
https://www.globalvillagespace.com/the-kurds-are-ethnically-cleansing-arabs-from-raqqa-and-the-world-is-silent/
https://tass.com/defense/950769


Foto: bendera wajah Ocalan dikibarkan SDF di Raqqa, 2017 https://www.middleeasteye.net/news/kurdish-fighters-raise-flag-pkk-leader-centre-raqqa

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: