Kajian Timur Tengah

Beranda » epistemic community » Radikalisme itu ada di pikiran, bukan baju.

Radikalisme itu ada di pikiran, bukan baju.

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Dalam konteks Indonesia dan dunia saat ini, yang dimaksud ‘narasi radikal’ adalah narasi Islam yang sudah diselewengkan atau dengan istilah lain, “narasi takfirisme” [mengkafir-kafirkan pihak lain yang tidak sekelompok].

[Saya ulangi: radikalisme bisa muncul di semua agama dan isme, tapi kali ini saya KHUSUS bahas soal radikalisme dalam tubuh Islam].

Jadi, radikalisme seharusnya dilawan dengan cara mematahkan narasi-narasi radikal itu, dengan dalil aqli dan naqli. Libatkan para ustad-ustad yang ahli debat di bidang ini. Gimana cara memilihnya? Lihat rekaman youtube mereka, apa sudah terbukti mereka mampu berdebat melawan kaum takfiri dengan “adu ayat”?

Pertemukan ustad-ustad ini dengan kelompok radikal untuk mematahkan narasi mereka. Mereka pakai ayat, kita pakai ayat juga. Minta para ustad ini menulis buku (atau, para ustad tinggal ngomong, tim penulis yang menyalin dan membuatnya buku saku) lalu sebar luaskan ke seluruh penjuru negeri. Karena ini pula yang dilakukan kaum radikal: mereka membuat buku-buku radikal dan dibagi-bagi gratis atau dijual murah ke seluruh Indonesia.

Contoh gampangnya: apakah boleh membunuh orang (yang dituduh) kafir? Mereka punya dalil-dalil ayat/hadis [dengan penafsiran versi mereka] untuk membolehkan. Yang bisa mematahkan ya para ustad yang mumpuni itu. Lha kalau dibantah dengan narasi “kalian harus beriman pada Pancasila” atau “kalian dilarang pake celana cingkrang” jelas tidak akan mempan. Yang terjadi justru mereka akan semakin solid, menemukan pembenaran narasi ustad mereka bahwa “rezim saat ini adalah thoghut” dan semakin teradikalisasi.

Langkah fundamental lainnya: perbaiki kurikulum pengajaran agama di semua lini, mulai PAUD sampai PT. Libatkan para praktisi pendidikan yang selama ini punya track record berjuang dalam penyebaran Islam rahmatan lil alamin [lihat, sudah nulis buku soal ini atau belum; punya sekolah yang mempraktikkan teori mereka atau belum]. Karena kalau sudah berjudul “proyek” biasanya muncul orang-orang yang tiba-tiba dianggap pakar padahal tong kosong nyaring bunyinya.

Demikian sekilas ide.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: