Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Siapa yang Radikal? (2)

Siapa yang Radikal? (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Baru saya sadari, selain kaum Muslim tekstualis (kaum takfiri, jihadis), ternyata ada satu pihak lagi yang yang tersinggung dengan istilah “radikal”. Siapa mereka? Itulah orang-orang “pejuang kebebasan” atau “antifasis” atau “antioligarki” atau “libertarian” atau SJW (social justice warrior). Ya pokoknya yang itu-itulah, yang anti kemapanan, maunya protes melulu. Pasalnya mereka itu menganggap diri radikal sejak dulu dan merasa radikal adalah istilah keren penuh heroisme. Kok enak aja, tiba-tiba dikatain identik dengan ISIS, Al Qaida, dll? 😀

Nah kalau kelompok Muslim tekstualis itu menolak disebut radikal dengan alasan “ini sebutan yang memojokkan Islam!”, para “pejuang antifasis” (atau apalah apalah itu, whatever mereka mau menamakan diri) marah karena menurut mereka “radikal” istilah yang maknanya positif.

Tapi kedua kelompok punya kesamaan: pura-pura tidak tahu kalau ada masalah besar yang terkait dengan gerakan kekerasan atas nama agama. Dalam tingkat “ringan” kekerasan itu berwujud pelecehan verbal, bahkan di tengah anak TK, “Eh kata mama aku kamu mah ga masuk surga soalnya kamu kan bukan Islam!” Di tingkat ekstrim: meledakkan bom di sana-sini demi membunuh orang-orang “kafir”.

Kedua kelompok sibuk mengawur-ngawurkan kita yang consern pada masalah kekerasan atas nama agama itu. Sama-sama marah saat HTI dibubarkan. Yang Muslim tekstualis bilang, “inilah buktinya rezim ini anti-Islam!”, yang merasa “radikal asli” marah dengan alasan, “inilah bukti bahwa rezim ini fasis, antidemokrasi, memberangus kebebasan!”

Nah, trus, aku kudu piye? Baiknya pakai istilah apa untuk menyebut kalangan Muslim tekstualis – takfiri – pro ISIS – pro jihadis itu? Intoleran, puritan, tekstualis, takfiri, jihadis, ekstrimis, fundamentalis, “Islamis”, manipulator agama, atau apa..?

Mbuh lah. Pokoknya, saya sudah bolak-balik nulis bahwa saat saya pakai kata “radikal” yang saya maksud adalah..bla..bla..

Dan juga sering saya ingatkan: radikalis, fundamentalis, tekstualis (whatever lah, apalah-apalah namanya) itu tidak cuma di kalangan Muslim. Di kalangan non-Muslim juga ada, misalnya Kristen Evangelis, yang kata Robert Gilpin (beliau ini pakar HI dari AS) dalam artikel jurnalnya, “The strong support of evangelical Christians for Israel is based on their fundamentalist reading of the Bible.”

Fundamentalist reading = membaca Kitab Suci secara tekstualis, tidak pakai tafsir. Tertulis bunuh, ya bunuh.

Dubes Israel untuk PBB juga pernah membacakan ayat kitab sucinya di sidang PBB untuk membuktikan bahwa tanah “Eretz Israel” adalah warisan Tuhan untuk Bani Israel. Jadi, “Terserah PBB mau ngomong apa, pokoknya kata kitab kami, kamilah yang berhak memiliki seluruh tanah Palestina!” [1]

Tentu saja, para ZSM (orang Indonesia pro-Israel) yang selalu menampilkan diri moderat dan toleran itu (dan ganas banget mengata-ngatain kelompok radikalis Muslim, bahkan menghina-hina Al Quran, sambil gencar menyuarakan “toleransi” kepada Israel) akan menolak juga dikatain radikalis.

Terakhir, lihat foto ini. Ini adalah plang di pintu masjid jamaah Ahmadiyah di Depok. Tulisannya “Kegiatan Ini Disegel”. Lha kok kegiatan disegel? Mungkin, sungkan menulis “masjid ini disegel”, takut kualat, berani-beraninya menyegel masjid.

Kata Walkot Depok penyegelan itu dilakukan “karena mendapat berbagai laporan, keberatan dan penentangan dari masyarakat.” [2]

Masyarakat yang mana? Istilah apa yang tepat untuk mereka itu? Mengapa negara kalah sama mereka ini?

Mbuh. Pikir sendiri deh.

[1] https://mondoweiss.net/2019/05/israels-ambassador-security/
[2] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39076611

(Tulisan saya bagian pertama saya copas di kolom komen)

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: