Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

Israel Mengebom Damaskus dan Gaza (Lagi)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kemarin, Selasa dini hari (12/11/2019) Israel mengebom dua target sekaligus, dalam jeda waktu sekitar 1 jam: kediaman Baha’ Abu Atha di Gaza dan kediaman Akram Ajour di Damaskus. Abu Atha tewas, Akram Ajour selamat (tapi anaknya dan cucu perempuannya tewas).

Kedua orang itu adalah pimpinan Jihad Islam, sebuah milisi perlawanan di Gaza. Dari info ini, ada beberapa poin yang perlu dicatat:

1. Suriah sejak dulu adalah pendukung utama pejuang Palestina melawan Israel. Hamas dan Jihad Islam punya markas di Damaskus. Anehnya, banyak orang yang mengaku pro Palestina malah mendukung penggulingan Assad. Ini artinya mereka belum paham geopolitik, mungkin hanya dengar info dari ustad-ustad IM/HTI/Al Qaida.

2. Faksi-faksi perjuangan melawan Israel di Gaza bukan cuma Hamas. Ada Jihad Islam, ada anak-anak muda aktivis medsos, bahkan ada juga faksi komunis. Media Barat selama ini selalu menyebut JI sebagai “milisi yang didukung Iran”. Padahal Iran pun mendukung Hamas. Selama ini petinggi Hamas bolak-balik datang ke Teheran, terbuka, disiarkan media dunia.

Beberapa tahun awal perang Suriah memang Iran menyetop bantuannya pada Hamas, karena Hamas mendukung penggulingan Assad. Penyebabnya, karena Hamas ini IM (Ikhwanul Muslimin), jadi lebih setia pada agenda IM daripada kemerdekaan Palestina. Tapi akhirnya mereka “bertobat” dan menyatakan akan fokus memperjuangkan Palestina saja, tidak ikutan soal Suriah.

3. Dukungan Iran kepada Hamas dan Jihad Islam sangat nyata (diakui lawan dan kawan Iran, juga oleh Iran sendiri). Anehnya, selalu saja kaum wahabi-takfiri-radikalis-fundamentalis pro Al Qaida-ISIS [entah apa istilah yang pas buat mereka] menyodorkan dongeng “kerjasama Israel dan Iran di balik layar”.

4. Siapa yang menyebut Jihad Islam dan Hamas sebagai teroris? Tak lain pemerintah AS-Israel, media Barat pro Israel dan para Hasbara [propagandis Israel]. Di Indonesia, mereka ini disebut netizen sebagai ZSM (Zionis Sawo Matang).

ZSM selalu menyamakan Hamas & JI dengan ISIS, Al Qaida, dll. Jadi, kalau kita bela Palestina, mereka akan menyebut kita membela teroris (bahkan bu Menlu Retno juga dikatain demikian). Tuduhan ini berakar dari keyakinan teologis para ZSM bahwa “Palestina adalah tanah yang diwariskan Tuhan kepada Yahudi”. Jadi orang-orang Arab Palestina tidak berhak ada di sana, dan Israel sah saja mengusir mereka. Perlawanan orang Palestina mereka sebut sebagai ”aksi terorisme”.

Sementara, bangsa Indonesia (bersama bangsa-bangsa lain di dunia, dari berbagai agama) membela Palestina dengan keyakinan bahwa telah terjadi pendudukan wilayah secara illegal oleh Israel, disertai pengeboman, pembunuhan, pemenjaraan anak-anak, dan berbagai jenis kejahatan kemanusiaan lainnya. Puluhan resolusi PBB sudah dirilis untuk menuntut Israel menghentikan semua kejahatannya. Tahta Suci Vatikan juga memberi dukungan kepada bangsa Palestina. Data tahun 2009, ada sekitar 4000 umat Kristiani di Gaza. Tahun 2015 Paus menetapkan biarawati Palestina, Suster Mariam Bawardy and Marie Alphonsine Ghattas sebagai Santa. [1]

Apa Paus atau Bu Menlu Retno pro-Hamas? Ya jelas tidak. Tapi mereka melihat kasus Palestina dari big picture-nya, peta besarnya. Bahwa Palestina adalah bangsa yang masih terjajah dan harus dibantu agar mendapatkan hak asasi mereka sebagai manusia: hak kemerdekaan.

Adanya perilaku yang ngaco (misal, ada oknum petinggi Hamas yang tertangkap kamera hidup mewah di Qatar) tidak bisa dipakai sebagai argumen untuk menghapus peta besar ini.

Dari sudut pandang ini, kata “jihad” yang dipakai milisi Palestina tidak bisa disamakan dengan aksi-aksi teroris para “jihadis” ISIS, Al Qaida, dkk. Sebuah bangsa yang terjajah sangat berhak untuk melawan. Sebagaimana dulu bangsa Indonesia juga berhak mengusir penjajah dari tanah air. Dulu, 22 Oktober 1945, para ulama NU mendeklarasikan jihad melawan tentara Sekutu (Resolusi Jihad), lalu warga dan santri dengan gigih bertempur hingga berhasil mengusir Sekutu.

Sebenarnya 4 poin ini gampang banget dipahami orang ‘biasa’. Jihad memerdekakan diri melawan penjajah itu jelas beda dengan “jihad” ngebom-ngebom ala ISIS dan Al Qaida. Jadi, membela perjuangan Palestina jelas TIDAK SAMA dengan mendukung ISIS atau Al Qaida.

Yang gak paham-paham itu memang ‘bukan orang biasa’, yaitu Hasbara [ZSM] dan radikalis pro Al Qaida dan sejenisnya. Mereka bukan orang biasa, karena sudah jadi zombie.

Sekian sekilas info.

Foto: muslim Gaza berlindung di gereja saat ada bombardir Israel (2014/AP)


[1] https://www.facebook.com/felix.irianto.winardi/posts/543602729729180?__tn__=K-R

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: