Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » Mantan Dubes RI untuk Suriah, Bp. Djoko Harjanto Meninggal Dunia :(

Mantan Dubes RI untuk Suriah, Bp. Djoko Harjanto Meninggal Dunia :(

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

**

Innalillaahi wa innaa ilaihi roojiun. Menurut info dari fanpage PPI Suriah, mantan Dubes RI untuk Suriah (2013-2019), Bp. Djoko Harjanto, meninggal dunia. Saya sungguh menaruh respek yang sangat tinggi pada beliau. Di masa ketika tidak ada elit yang berani berbicara blak-blakan tentang apa yang terjadi di Suriah (mungkin karena takut distigma Syiah, takut kepentingan ekonomi/politik-nya terganggu), beliau dengan gamblang menceritakan apa yang terjadi di sana. Penjelasan beliau mengkonfirmasi apa yang kami -rakyat facebooker jelata antiperang- sampaikan selama bertahun-tahun sebelumnya (konflik dimulai 2011). Semoga husnul khatimah Bapak, alfaatihah ma’as shalawat…

Berikut ini saya copas sebagian wawancara beliau dengan Republika.

***

Republika (21 Maret 2016). Ada alasan kuat, mengapa Pemerintah Republik Indonesia, hingga saat ini, masih menempatkan duta besarnya di Suriah. Padahal, separuh dari 63 kedutaan besar di negara yang dirundung konflik itu, sudah tidak beroperasi.

Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Republik Indonesia untuk Suriah, Djoko Harjanto, Suriah, memiliki jasa tak sedikit untuk Indonesia. Ketika Suriah bergabung dengan Mesir dalam Republik Persatuan Arab (RPA), Suriah adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, saat muncul persoalan Timor-Timor, dukungan Suriah ke RI sangat kuat. “Disuruh apa saja untuk mendukung kita, mereka mau,” katanya kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah.

Dalam perbincangan singkat saat kunjungannya ke Tanah Air, menghadiri seminar internasional ihwal konflik Suriah dan gejolak Timur Tengah yang dihelat Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) beberapa waktu lalu, pria asal Jawa Tengah ini pun mengingkatkan umat Islam Indonesia, agar tak terseret pusaran konflik dan mengimpornya ke Indonesia. Berikut petikan perbincangannya:

Republika: Bagaimana Anda melihat Pemerintah Suriah saat ini?

Dubes Djoko: Orang sudah terlanjur menganggap pemerintah Suriah itu Syiah. Itu yang harus saya luruskan. Basyar itu Alawite, yang terdiri antara lain dari Druze. Ia Sunni. Saya lihat langsung. Mufti Syekh Adnan al-Fayouni, yang diundang berapa kali ke Indonesia oleh ICIS, dan belum lama ini ke Indonesia, mengimami shalat pada acara Maulid Nabi. Di belakangnya Assad dan shalatnya sendakep, berarti bukan Syiah. Itu kita luruskan dulu.

Kedua, informasi yang menyatakan pemerintah Assad membunuhi rakyatnya. Itu tidak benar. Bagaimana mungkin, wong pemerintah solid didukung rakyatnya. Jadi jika memang ada yang meninggal, itu karena perang dua kubu, namanya perang.

Kalau dulu perang itu antarprajurit, tak boleh menyerang rumah sakit dan lain-lain, rumah ibadah, sekolah. Nah sekarang jihadis di Suriah yang fanatis dengan ISIS, Alqaeda, saling berperang. Bukan hanya pemerintah. Itu yang harus diketahui. Saya langsung di sana, melihat dengan mata saya, mengamati detik demi detik dan melaporkan ke pemerintah RI.

Republika: Menurut Anda, mengapa muncul kesimpangsiuran informasi terkait Suriah?

Dubes Djoko: Media dikuasai Barat milik Yahudi, dikuasai oleh miliader Yahudi George Soros, berarti agendanya harus sesuai kepentingan mereka. Aljazeera milik Qatar, yang memusuhi Suriah, tak mungkin dia berpihak ke Assad. Ini saya sampaikan apa adanya secara pribadi dan tidak memihak. Dan itu memang tugas pemerintah, tidak boleh macam-macam, fokus perlindungan, dan bantuan kemanusian.

Republika: Apakah bantuan kemanusiaan RI sudah mengalir untuk Suriah?

Dubes Djoko: Alhamdulillah sudah mengalir, setelah sekian lama, lewat Lembaga Koordinasi Bantuan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang tidak memihak. Tapi soal sampai tidaknya wallahua’lam, sudah 500 juta USD mengalir, belum ada satu bulan ini.

Kalau memang mau aman memang lewat pemerintah. Anda sudah dengar, dari Palang Merah Internasional (ICRC) enam orang hilang, sampai sekarang tidak ketemu. Conflict is conflict, bantuan kemanusiaan perlu, tetapi persoalannya yang lama sejak 2012, bantuan biasanya tidak sampai, di tengah perjalanan sudah diserobot oleh pemberontak. Itu yang jadi persoalan. Jadi sensitif di luar negeri.

Begitu bantuan pertama masuk melalui OCHA, saya sudah punya impian untuk mendorong bantuan kemanusiaan ke Suriah. Kita sudah menghubungi Palang Merah mereka, tidak minta macam-macam. Obat tidak terlalu diperlukan karena di sana murah, saya cek up sebagai dubes hanya 100 dolar tidak habis, meliputi semua. Kalau membantu yang diperlukan ambulans, kita sudah sampaikan.

Republika: Ada gejala menyeret konflik Suriah ke Indonesia, apa imbauan Anda?

Dubes Djoko: Misi saya ingin didengar, apa yang saya lihat di sana, agar rakyat kita melihat jernih. Bagi saya, yang terpenting Indonesia harus bersatu, jangan ikut-ikutan pertumpahan darah, jangan suka mandi darah bangsanya sendiri.
Silakan berdebat sampai berbusa, tapi jangan sampai membunuh. Jangan mudah dihasut, Jangan gampang menerima siaran yang tidak benar, atau memanfaatkan situasi di Suriah untuk kisruh di sini.

**

Selengkapnya: https://internasional.republika.co.id/berita/o4cg87320/dubes-ri-untuk-suriah-angkat-bicara-soal-assad-dan-suriah

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: