Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Revolusi Berkedok Agama

Revolusi Berkedok Agama

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Di status sebelumnya (Lithium di Bolivia) —baca di akhir tulisan ini — saya tuliskan kesamaan pola agenda “penggulingan rezim” antara Bolivia dan Suriah, yaitu perebutan sumber daya alam. Nah, di video ini terlihat kesamaan kedua: Elang Gundul [AS] menggunakan kelompok agama radikal/fundamentalis sebagai proxy. Apa itu proxy? Istilah lainnya “kaki tangan”. Mereka dibiayai, dilatih, didukung melalui propaganda media, dll, oleh AS, untuk menggulingkan rezim-rezim yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Tapi pelakunya tetap saja orang lokal.

Biasanya kalau saya bilang: “di belakang ISIS/Al Qaida ada AS” yang ngamuk ada 2: pembela AS dan pendukung ISIS.

Pembela AS biasanya akan mengolok-olok “kamu pakai teori konspirasi!”. Di kolom komen saya taruh video anggota parlemen AS yang berpidato di depan parlemen AS, mengecam pemerintahnya yang selama bertahun-tahun mendanai ISIS dan Al Qaida. Kalian mau lebih Amerika dari anggota parlemen Amerika?

Sementara para pendukung ISIS/Al Qaida jelas tidak mau terima kalau dibilang antek AS, karena karena merasa sedang berjihad. Padahal, yang namanya proxy, tentu ada 2 level, yaitu elit (penerima dana) dan pelaku (mereka yang berdarah-darah di lapangan). Si pelaku mungkin merasa jihad lillahi ta’ala dan tidak terima duitnya (malah merogoh kocek untuk menyumbang). Makanya, supaya tidak dibodoh-bodohi melulu oleh “industri radikalisme”, kita perlu paham geopolitik.

Nah di Bolivia, ternyata, proxy AS adalah kelompok yang diberi istilah “ultra kanan” atau “sayap kanan”. Maksudnya adalah kelompok penganut Kristen yang radikal/fundamentalis/tekstualis. Mereka ini merasa hanya Kristen [versi mereka] yang berhak berkuasa di Bolivia. Mereka benci sekali pada suku Indian yang menurut mereka “melakukan ritual setan”.

Mirip sekali kan dengan perilaku Wahabi/takfiri di Indonesia? Bencinya setengah mati pada orang-orang yang menurut mereka “sesat” dan “pelaku bid’ah”. Dengan alasan bahwa “rezim Assad kafir” maka mereka angkat senjata berupaya menggulingkan Assad. Di Indonesia, narasi mereka adalah “rezim thoghut” dan “rezim pendukung penista agama”.

Di video ini disebutkan: pemimpin kudeta “sayap kanan” Bolivia adalah Luis Fernando Camacho, seorang miliarder Kristen fundamentalis, yang punya ikatan mendalam dengan kelompok paramiliter ultra-kanan, Santa Cruz Youth Union (UJC). UJC punya rekam jejak kekerasan rasisme dan bahkan terlibat dalam upaya pembunuhan kepada Evo Morales.

Ketika Morales menyatakan diri mundur untuk menghentikan kekerasan yang terjadi pada kaum pribumi (Indian), Camacho menyerbu istana presiden dan menyatakan bahwa “Bolivia adalah milik Kristus”. Tujuannya adalah untuk membubarkan kepemimpinan orang-orang pribumi [Indian] di Bolivia.

Pendukung Camacho antara lain adalah Branko Marinkovich, orang kaya raya yang juga berpaham Kristen fundamentalis. Marinkovich adalah “korban” nasionalisasi tambang & tanah yang dilakukan Morales.

Umat Islam yang rahmatan lil alamin tentu saja menolak paham kekerasan ala Wahabi/takfiri, sebagaimana kaum Kristiani yang berpegang pada ajaran kasih Yesus pasti tidak sepakat dengan kelompok “ultra kanan” ala Bolivia ini.

***

Menarik untuk dicermati juga: kelompok Kristen fundamentalis biasanya sangat fanatik pada Israel (atas dasar keyakinan teologis), sebaliknya, Evo Morales secara terang-terangan pro Palestina dan menyatakan bahwa Israel adalah “negara teroris” .

Lihat videonya:

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/443029136615035/?t=0

—————–

Lithium di Bolivia

Amerika Latin ini menarik juga untuk diamati. Apalagi aktor jahatnya sama dengan yang mengobok-obok Timur Tengah, yaitu si Elang Gundul. Polanya juga mirip Suriah, aksi bersenjata penggulingan Assad dimulai beberapa saat setelah Iran-Suriah sepakat (Juli 2011) membangun jalur pipa gas Iran-Irak-Suriah-Eropa (tentu saja direstui Rusia; dan China hampir pasti ikut dapat proyek). Morales juga dikudeta setelah menolak perusahaan Barat (tapi menerima Rusia-China) untuk penambangan lithium.

Berikut ini saya terjemahkan bebas (dan diringkas) tulisan seorang doktor ilmu politik dari Kanada, CJ Atkins.

***

Lithium adalah bahan utama untuk baterai yang memicu revolusi mobil dan smartphone dunia. Analis pasar berspekulasi bahwa pada pertengahan 2020-an, lithium akan jadi barang mahal karena tingginya permintaan “emas abad ke-21” ini. Diperkirakan, 25 -45% cadangan lithium yang ada bumi ini berada di padang garam “Salar de Uyuni” yang terletak di Andes, Bolivia. Pemerintah Evo Morales telah berupaya menciptakan industri lithium yang dimiliki publik demi melepaskan warganya dari jeratan kemiskinan.

Upaya perusahaan tambang multinasional dari AS, Kanada, Korea Selatan, dan lainnya untuk menguasai lithium itu sejauh ini gagal. Sebuah usaha patungan dengan perusahaan Jerman dibatalkan oleh pemerintah Bolivia pekan lalu karena Morales merasa keuntungan yang akan diberikan kepada penduduk asli yang tinggal di dekat Uyuni tidak cukup. Perusahaan China dan Rusia termasuk di antara sedikit perusahaan yang telah menandatangani kesepakatan.

Sebagaimana nasib berbagai pemerintah progresif di dunia sepanjang abad terakhir ini, bagian selanjutnya dari kisah perjuangan Morales sudah dapat diprediksi. Akhir pekan ini, Morales pun digulingkan dalam kudeta militer.

Masih terlalu sedikit detail yang terlihat untuk menarik garis hubungan antara kepentingan perusahaan tambang lithium dengan perkembangan terakhir di Bolivia, tetapi kudeta militer, sorak-sorai dari pemerintahan Trump, pemerintah Trudeaudi Kanada, dan OAS [organisasi “pro demokrasi” yang menyerang Morales] menunjukkan bahwa negara kecil yang kaya sumber daya alam punya resiko besar jika berani melawan tuntutan negara-negara kaya, korporasi, dan imperialis.

Setelah berhari-hari terjadi aksi demonstrasi pasca terpilihnya kembali Morales dalam pemilu Oktober, pada hari Minggu malam (9 Okt), Jenderal Williams Kaliman mengumumkan bahwa angkatan darat dan udara mulai bergerak. Dia menuntut presiden mundur “untuk menjaga stabilitas.” Setelah polisi berpihak pada kudeta dan meninggalkan pos-pos mereka, demi mencegah terjadinya kekerasan lebih lanjut terhadap rakyat, Morales mengundurkan diri.

Morales memenangkan pemilihan bulan Oktober dengan suara 47%. Penantangnya adalah tokoh sayap kanan, mantan Presiden Carlos Mesa, meraih suara 36%. Calon pihak ketiga mengambil sisa suara. Mesa menjabat presiden dari 2003-2005, setelah sebelumnya menjabat sebagai wakil dari Presiden de Lozada. Mesa dijatuhkan setelah aksi demonstrasi besar-besaran rakyat yang memprotes rencana penjualan cadangan gas alam Bolivia kepada perusahaan-perusahaan asing. Kesepakatan penjualan gas itu hanya memberi sedikit keuntungan bagi rakyat Bolivia.

Di antara mereka yang memimpin protes selama “perang gas” adalah Morales, yang kemudian terpilih sebagai presiden pribumi (dari suku asli Indian) pertama di Bolivia pada tahun 2005. Dia berasal dari partai Gerakan Menuju Sosialisme (Movement Toward Socialism- MAS). Salah satu tindakan pertamanya saat berkuasa adalah menasionalisasi penuh perusahaan migas negara itu. Aksi Morales ini adalah “kejahatan” besar di hadapan kapitalisme, yang tidak pernah diampuni oleh para pengusaha tambang multinasional.

Dengan memanfaatkan uang yang dihasilkan dari industri sumber daya alam yang sekarang dimiliki publik, pemerintah Morales memulai program penghapusan kemiskinan yang masif dan berhasil. Menurut data yang dikumpulkan oleh Center for Economic and Policy Research, pertumbuhan ekonomi di Bolivia telah dua kali lipat dari wilayah Amerika Latin dan Karibia selama tahun-tahun pemerintahan Morales.

Sebelum MAS berkuasa, pemerintah Bolivia mengumpulkan 731 juta USD pendapatan tahunan dari migas. Setelah nasionalisasi, jumlah itu melonjak lebih dari tujuh kali lipat, yaitu mencapai 4,95 miliar USD. Dengan surplus neraca dan peningkatan perdagangan dengan pemerintah berhaluan kiri lainnya di kawasan itu, Bolivia mampu mencapai ukuran kemandirian ekonomi yang belum pernah dinikmati sebelumnya.

Persentase populasi yang hidup dalam kemiskinan anjlok dari 60% menjadi 35% pada tahun 2018, dengan mereka yang berada dalam kemiskinan ekstrim menurun dari hampir 38% menjadi 15% pada periode yang sama. Ini dicapai tidak hanya dengan nasionalisasi sumber daya, tetapi melalui kombinasi upah redistributif dan kebijakan investasi publik dan pengabaian tuntutan pemerasan dari IMF.

Namun terlepas dari keberhasilan peningkatkan standar hidup dan pendapatan bagi kelas pekerja Bolivia, dan masyarakat suku-suku asli, Bolivia tetap merupakan negara miskin. Morales masih berupaya menyelesaikannya, antara lain dengan mendiversifikasi ekonomi agar tidak terlalu tergantung pada gas, meningkatkan hasil pertanian untuk mencapai kedaulatan pangan, dan berusaha bermain di pasar baterai lithium internasional.

Program semacam inilah yang dikampanyekan Morales dan MAS dalam pemilihan Oktober 2019. Tetapi bahkan sebelum hasil pemungutan suara dihitung, AS dan pemerintah sayap kanan di Kolombia dan Brasil sudah mengatakan mereka tidak akan mengakui hasil pemilihan yang tidak mencerminkan “kehendak rakyat Bolivia.” Lembaga-lembaga keuangan internasional telah melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun.

AS dan IMF secara konsisten berpihak pada Mesa ketika dia menjadi presiden16 tahun lalu. Mesa adalah pelaksana kepentingan perusahaan multinasional pertambangan dan penegak ortodoksi neoliberal di IMF dan di Washington. Morales adalah kebalikannya. Ia mengatakan pada 2006, “Musuh terburuk umat manusia adalah kapitalisme AS.”

Selama menjabat sebagai presiden, Morales menjadi musuh korporasi asing, serta pemerintahan negara-negara yang mendukung korporasi itu. Penggulingannya telah menghapus generasi terakhir dari pemimpin “Pink Tide” asli di Amerika Latin yang didorong oleh gerakan massa yang menuntut masa depan yang berbeda dari yang dipaksakan kepada mereka oleh kekuatan neokolonialis dan imperialis.

Kudeta ini, untuk saat ini, mematikan harapan akan adanya industri lithium milik publik yang akan membawa Bolivia ke abad ke-21 dan menghasilkan lebih banyak dana untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan. Perusahaan tambang pasti kini bersuka cita.

**
[teks lengkapnya: https://www.peoplesworld.org/…/bolivia-coup-against-morale…/]
Foto: padang garam Salar de Uyuni (AP)

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: