Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Indonesia on Fire (?)

Indonesia on Fire (?)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

[repost dari akun personal]

Sejak kemarin, viral tulisan berjudul “Teriak Kafir”, yang mengisahkan pengalaman seorang saudara sebangsa kita yang ‘kebetulan’ keturunan (mungkin) Tionghoa. Ia diteriakin kafir oleh seorang ibu Muslim. Postingan itu segera di-take down [dihapus oleh FB karena banyak yang report]. Tapi banyak yang mengcopas dan memposting ulang di wall masing-masing, dan tersebar di WA.

Peristiwa ini memang sangat memprihatinkan. Empati saya sebagian juga dipicu karena pengalaman sendiri, pernah dikata-katai kafir (padahal saya Muslim). Mau jadi apa bangsa ini jika kebencian sedemikian menyebar? Baru-baru ini, lembaga riset Analityca merilis hasil riset mereka tentang “penyebaran narasi anti-Tionghoa”. Temuannya antara lain (saya copas utuh):

**
Kata “kafir” menegaskan stereotipe etnis Tionghoa sebagai identitas liyan Islam: cebong kafir, penjaga gereja, dan kelompok pembubar pengajian. Kata “kafir” juga merujuk pada pemerintah kafir, polisi kafir, Cina kafir, pun sesama kaumnya Ahok. Dua kata “jual” dan “hutang” muncul bersamaan sebagai ekspresi ketidakpuasan warganet terhadap kebijakan pemerintah yang dituduh menjual Indonesia kepada Tiongkok dengan skema hutang sejumlah proyek infrastruktur. Kata “jual” merujuk pada aset negara, gadai infrastruktur kepada Cina dan dikelola asing.

[baca laporan selengkapnya di https://www.indonesiana.id/read/136020/narasi-anti-tionghoa-di-pusaran-jagat-maya#whmljXLSe67zgw5g.99%5D

**

Dari temuan survey itu, sekilas bisa ditangkap bahwa kebencian itu terkait dengan masalah ekonomi. Ini cocok dengan yang dibahas oleh Amy Chua dalam bukunya “World on Fire: How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred and Global Instability” (2003).

Dia bagian pengantar dia menceritakan pengalamannya mengenai kebencian terhadap etnis China di Filipina (karena Chua berasal dari sana). Tapi, kemudian Chua menjelaskan panjang lebar, kebencian serupa juga muncul di berbagai penjuru dunia, dengan “musuh” yang berbeda. Dan umumnya, yang dianggap musuh/dibenci adalah minoritas yang dominan di pasar [menguasai ekonomi]. Istilah yang dipakai Chua “market dominant minority”.

Amy menulis [ini terjemahan bebas dari saya],

“Pada tahun 1998, orang Indonesia Tionghoa, hanya 3 persen dari populasi, menguasai sekitar 70 persen ekonomi swasta Indonesia, termasuk semua konglomerat terbesar di negara itu. Baru-baru ini, di Burma, pengusaha Cina telah benar-benar mengambil alih ekonomi Mandalay dan Rangoon. Kulit putih adalah minoritas yang mendominasi pasar di Afrika Selatan, Brasil, Ekuador, Guatemala, dan sebagian besar Amerika Latin. Lebanon adalah minoritas yang mendominasi pasar di Afrika Barat. Ibo adalah minoritas yang mendominasi pasar di Nigeria. Kroasia adalah minoritas yang mendominasi pasar di bekas Yugoslavia. Dan orang Yahudi hampir pasti merupakan minoritas yang mendominasi pasar di Rusia pasca-Komunis.”

“Pasar memusatkan kekayaan, seringkali kekayaan yang spektakuler, di tangan minoritas yang mendominasi pasar, sementara demokrasi meningkatkan kekuatan politik mayoritas yang miskin. Dalam keadaan seperti ini, sistem “demokrasi pasar bebas” menjadi mesin etnonasionalisme yang berpotensi menimbulkan bencana, dimana mayoritas “pribumi” yang frustrasi dengan mudah dibangkitkan [kemarahannya] oleh politisi pencari suara yang oportunistik, melawan minoritas etnis yang kaya. Konfrontasi seperti ini terjadi di berbagai negara, dari Indonesia ke Sierra Leone, dari Zimbabwe ke Venezuela, dari Rusia ke Timur Tengah.”

Inti tesis Amy Chua adalah bahwa berbagai kebencian etnis itu terjadi sebagai dampak dari sistem pasar bebas. Pasar bebas artinya: sistem ekonomi di mana para pelaku ekonomi/pengusaha dibiarkan bebas bertarung di pasar; pemerintah tidak boleh intervensi, sehingga yang punya modal dan power [karena biasanya pengusaha juga berkolusi dengan pemegang kekuasaan] lebih banyaklah yang akan menang. Dan semakin mereka menang, semakin banyak uang dan kekuasaan terkumpul di tangan mereka.

Demo-demo yang merebak di berbagai negara di dunia juga awalnya bersumber dari masalah ekonomi, tapi kemudian di sebagian negara jadi berujung pada penggulingan rezim, atau perang sipil. Di AS pada tahun 2011 terjadi demo besar, yang membawa tagline “We Are 99%”, maksudnya, demonstran melawan 1% elit AS yang menguasai kekayaan yang jumlahnya lebih besar dibanding kekayaan gabungan 99% warga AS.

Menurut Chua, sistem pasar bebas ala Barat yang diterapkan di negara-negara berkembang tidak menyebarkan kekayaan secara adil dan merata. Sebaliknya, malah membuat kekayaan terkonsentrasi di tangan minoritas “orang luar” [apapun etnisnya, berbeda kasus di tiap negara], sehingga menimbulkan kecemburuan etnis dan kebencian, dan di berbagai negara berujung konflik bersenjata.

Karena itu, dalam menyikapi kasus-kasus kebencian yang semakin merebak di Indonesia beberapa tahun terakhir, ada 2 hal mendasar yang perlu dipikirkan:
1. Kebencian kepada saudara sebangsa, apapun etnis dan agamanya, adalah SALAH. Kalian benci dan mencaci-maki pun tidak akan mengubah keadaan. Bahkan kebencian itu akan ‘membunuh diri sendiri’. Pembenci akan mati dalam kebenciannya. Kita, sesama anak bangsa, harus melawan gelombang kebencian ini dengan narasi persaudaraan, kasih sayang, dan pemahaman bahwa ada politisi yang mengeksploitasi kebencian ini demi mencari suara.

2. Di saat yang sama, kita juga harus menggali lebih dalam: ini akar masalahnya sebenarnya dimana? Kebencian, politisi yang mengeksploitasi kebencian, itu gejala penyakit. Tapi sumber penyakit dimana? Kalau menggunakan pemikiran Amy Chua, akarnya adalah di sistem ekonomi pasar yang tidak adil.

Artinya, kita semua (terutama pemerintah dan DPR) perlu mencari solusi yang fundamental. Kita tidak bisa hanya berjargon “kembali pada Pancasila”, tetapi harus benar-benar kembali pada sistem ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila, yang telah dirumuskan oleh Bapak Bangsa kita dulu. Dan kembali pada ekonomi Pancasila, artinya MENOLAK “resep ekonomi” ala IMF dan Bank Dunia (silahkan baca buku Stiglitz, Globalization and Its Discontent).

Semoga Allah swt selalu melindungi bangsa ini.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: