Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » NED dan Demo di Iran

NED dan Demo di Iran

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Note: sebelum membaca ini, silahkan baca dulu tulisan saya sebelumnya, “Siapa Jejaring NED di Indonesia?” [1] dan “Template” [2] biar tidak perlu mengulang-ulang, apa itu NED dan CANVAS

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/429831111295449/?t=0

**

Kalau ada yang bilang NED dan CANVAS tidak menargetkan Iran, itu namanya HHB [Halu-Halu Berjamaah]. Lha di negeri-negeri yang berbaik-baik sama AS saja mereka bekerja, masa untuk Iran mereka adem ayem?

Nah kalau kita googling, dengan mudah ketemu info antara lain: CANVAS saat ini memberi pelatihan kepada aktivis pro-demokrasi di lebih 50 negara, termasuk Iran. Handbook pelatihan CANVAS telah didownload 17.000 kali di Iran -thn 2015. [3]

Sementara itu, kalau cek ke web resmi NED, disebutkan bahwa untuk Iran (tahun 2018) NED sudah mengeluarkan dana untuk program akuntabilitas & pemerintahan, HAM, kebebasan informasi dan jurnalisme. Kalau dihitung (dana disebar ke beberapa organisasi), totalnya mencapai 600 ribu-an USD. [4]

Upaya untuk mengganggu Iran kebanyakan dengan penyebaran opini khas NED dkk: sistem Iran tidak demokratis, buktinya: adanya kekuasaan besar di tangan ulama, pemaksaan pakai jilbab, LGBT dihukum mati, penerapan syariat Islam [yang dianggap menindas perempuan], dll. Intinya, massa diprovokasi untuk membenci sistem pemerintahan.

Sistem pemerintahan Iran itu memang beda dari negara-negara lain, disebut Wilayatul Faqih. Jadi, selain ada trias politica [eksekutif, yudikatif, legislatif; dimana presiden dan DPR dipilih rakyat melalui pemilu], ada level di atasnya, yaitu ulama tertinggi (Wali Faqih), dalam bahasa Persia disebut “Rahbar”. Rahbar ini sering dicitrakan Barat sebagai ulama diktator. Sebenanya, kewajiban dan wewenangnya jelas, dipilih melalui pemilu, dan ada sistem kontrol (bisa dipecat bila melanggar hukum). Selengkapnya, bisa baca di sini [5].

(Perlu dicatat juga, untuk jadi ulama di Iran harus lulus sekolah khusus dengan hirarki keilmuan yang jelas dan ketat; seorang Wali Faqih keilmuannya sudah level profesor.)

Nah, karena Rahbar adalah seorang ulama dan masyarakat Iran umumnya punya ketaatan tinggi pada ulama, jadi mereka punya cara pandang yang khas soal politik. Bagi mereka: presiden bisa datang dan pergi, tapi ketaatan pada ulama harus tetap dipegang teguh.

Di video ini, ada rekaman aksi demo besar-besaran, jauh lebih dahsyat daripada aksi demo pekan lalu (aksi demo protes harga bensin yang berujung rusuh; sampai-sampai Presiden Trump menulis surat menyatakan dukungan pada demonstran dan Amnesti Internasional langsung berkoar akan menyelidiki kekerasan yang terjadi).

Apa yang diteriakkan massa di video ini? Mampus AS, mampus Israel, mampuslah para perusuh. Lho kok yang disalahin AS dan Israel? [demikian biasanya komen sinis para ZSM]. Berikut ini jawabannya.

***
Iran itu memang punya banyak masalah ekonomi. Segini juga sudah luar biasa, mereka mampu bertahan puluhan tahun meski diembargo habis-habisa, dijegal sana-sini. Silahkan baca buku memoar Hillary Clinton, dia bilang, saat jadi Menlu, ia mendatangi negara-negara pembeli minyak Iran dan meminta mereka membatalkan pembelian itu. (Indonesia juga termasuk yang dihalangi berbisnis dengan Iran; Pertamina pernah dibekukan uangnya jutaan USD oleh AS karena melakukan jual-beli minyak dengan Iran.)

Lalu, di saat ekonomi sulit begini, tiba-tiba saja Rouhani mengurangi subsidi bensin. (Memang pemerintahan Rouhani ini agak “masuk angin”). Ya iyalah orang pada marah dan turun ke jalan (tanggal 15/11). Video ini jadi bukti betapa mereka itu memang tukang demo dan sudah biasa demo, jadi sangat biasa bila ada demo. [tapi ini video demo tandingan ya, bukan demo 15/11 yang berakhir rusuh itu]

Nah, kemarahan massa akibat naiknya harga bensin dimanfaatkan oleh para operator agenda penggulingan rezim [NED, CANVAS, dll]. Mereka membakar gedung-gedung, properti publik, bahkan ada sniper yang menembaki demonstran [tentu yang dituduh adalah ‘rezim’]. Berita terbaru, sudah ada 100 operator demo yang ditangkap pemerintah.

Sudah saya sudah tulis di [1], para operator demo ala NED ini punya teori “marginal violent”, dimana kekerasan sengaja diekskalasi [menyerang aparat, merusak infrastruktur] dengan tujuan memprovokasi polisi untuk melakukan kekerasan (dan LSM ala Amnesty Intl sudah siap dengan mesin propagandanya ketika ini terjadi) lalu menyudutkan pemerintah sampai ke pinggir jurang.

Saya tulis di [1], saat pemerintah sudah di pinggir jurang, opsinya ada 2: kompromi atau terguling, Tapi khusus untuk Iran (atau Suriah), mereka memilih opsi ketiga: bertahan menolak tunduk pada kemauan Barat. Yang membuat mereka bisa punya pilihan ketiga ini adalah kesadaran (kemerdekaan berpikir) rakyat.

Di video ini terlihat bukti kesadaran rakyat Iran. Mereka mendukung keutuhan negara dan sistem (wilayatul faqih), bukan kepada ‘presiden dan kabinet’ yang bisa datang dan pergi setiap 4 tahun sekali.

Saya baca berbagai koran lokal (bahasa Persia), terlihat bahwa orang Iran itu umumnya mampu berpikir multidimensi, mampu memetakan masalah. Intinya: “Ya kami marah karena subsidi bensin dicabut; kami marah pada pemerintah yang tidak becus; tapi kami menolak campur AS yang menunggangi kemarahan kami.”

Misalnya, Hojatoleslam Nekounam, ulama dari Chārmahāli Bakhtiari, berorasi di depan demonstran, “Kami rakyat Iran punya tuntutan, punya kesulitan! Tapi kami tak akan izinkan orang-orang yang berniat buruk, yang tak punya apapun selain keburukan, mencampuri urusan kami! Kami pasti berdiri tegak di hadapan musuh, tapi kami menyesalkan mismanajemen dan kelalaian pemerintah!”

Ayatollah Khatami, yang juga ikut demo di Zanjan, berorasi lebih pedas lagi, “Rakyat ini sedang susah dan penyebabnya sebagian memang akibat embargo, tapi sebagian lain adalah karena pemerintah yang tidak becus!”

Dalam wawancara di televisi, masyarakat juga secara terbuka mengecam kenaikan harga bensin, tapi memberi catatan, “Tapi kami tidak terima, mengapa demo mengritik harga bensin, tapi kok pompa bensin, bank, dan properti publik yang dibakar? Kami bukan bagian dari mereka!”

Intinya, mereka marah, tapi tidak terprovokasi oleh operator agenda penggulingan rezim. Sepertinya, kemarahan yang tetap mengedepankan akal sehat (kemampuan memetakan masalah, supaya protesnya tepat sasaran dan tidak disetir NED dkk) ini perlu juga kita pelajari. Bila diibaratkan di Indonesia: “Kami juga muak sama oligarki, sama ekonomi yang semakin sulit ini, tapi kami tidak mau kalau NKRI bubar!”

***
[1] https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/posts/804465806646343
[2] https://web.facebook.com/…/a.234143183678611/759429624483295
[3] https://www.theguardian.com/…/srdja-popovic-revolution-serb…
[4] https://www.ned.org/…/middle-east-and-northern-a…/iran-2018/
[5]https://dinasulaeman.wordpress.com/…/sistem-demokrasi-ala-…/

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: