Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Siapa Jejaring NED di Indonesia?

Siapa Jejaring NED di Indonesia?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Note: sebelum baca ini, sebaiknya tonton dulu video ini [1] dan tulisan saya berjudul “Template” [2]. Di dua postingan itu, Anda akan ketemu nama National Endowment for Democracy Forum (NED). Sebuah organisasi yang kata pendirinya, Allan Weinstein, “melakukan hal-hal yang dulu dilakukan CIA secara rahasia”.

**

Bila NED terang-terangan memberi dana: “nih uang, hancurkan negaramu!”, hampir pasti tidak ada yang mau. Mungkin karena takut (kalau terang-terangan makar tentu bahaya), atau sangat mungkin memang ada banyak orang yang tulus memperjuangkan sesuatu untuk negerinya. Orang-orang tulus ini mungkin perlu uang untuk berjuang, eh, ada organisasi kaya raya bagi-bagi duit, ya sudah, terima aja.

Karena itulah jejaring NED mengangkat isu yang sangat beragam. Toleransi, agama, pertanian, demokrasi, pendidikan, pembelaan terhadap masyarakat adat, hingga ke pembelaan terhadap LGBT.

Saya cek di web resmi NED, tahun 2018 NED memberi dana sebesar 217,727 US Dollar (sekitar 3 miliar) kepada INFID untuk program Promoting Tolerance, Democracy, and Human Rights to Prevent Violent Extremis. Ini program [sepertinya] bagus kan? Saya juga selama bertahun-tahun bicara soal bahaya “radikalisme” (istilah lain dari “violent extremism”; memang ada perdebatan soal istilah). [3]

Karena INFID artinya “Forum LSM Internasional untuk Pembangunan Indonesia”, berarti terdiri dari banyak LSM dong. Jadi, saya google lagi, siapa saja sih yang bergabung dengan INFID? Ternyata ada sangat banyak [4].

Di antaranya ada teman yang dulu membantu penelitian disertasi saya. Nah, karena kenal baik, saya percaya bahwa beliau ini benar-benar ingin membangun Indonesia di bidang keahliannya. Sangat mungkin LSM dia bergabung dengan INFID tanpa tahu-menahu soal NED.

Lanjut googling, eh ketemu info lain. INFID ternyata salah satu sponsor utama program Feminis Festival 2017, bersama banyak LSM lain, di antaranya Women Research Institute, Jaringan Buruh Migran, Migrant Care, The Asian Muslim Network. [5]

Nah organisator Feminist Festival ternyata menjadi Koordinator Proyek WMJ (Women’s March Jakarta) 2018. Penggagas Feminist Festival adalah JFDG (Jakarta Feminist Discussion Group).

Lanjut lacak, siapa pendiri JFDG? Namanya Kate Walton, seorang warga Australia yangtinggal di Indonesia. Dia menyebut diri “queer feminist activist” [queer: istilah payung untuk minoritas seksual yang bukan heteroseksual]. Salah satu tulisan dia mengkritisi RUU KUHP, dia menulis, “The current draft contains many controversial articles, not least among them one that aims to criminalise same-sex activities due to their “immorality”. [draft RKUHP mengandung banyak pasal kontroversial, di antaranya mengkriminalisasi aktivitas sesama jenis karena amoral]. [6]

Nah, balik lagi ke WMJ (Women’s March Jakarta) 2018, ternyata tuntutan mereka adalah: 1) menolak RKUHP yang akan mengkriminalisasi seks di luar nikah dan kaum gay; 2) mendukung disahkannya Undang-Undang Pencegahan Kekerasan Seksual; dan 3) mendukung disahkannya Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

Menurut reportase ini [5], koordinator Aksi WMJ mengatakan bahwa “Women’s March di Jakarta memiliki filosofi yang sama dengan Women’s March di Amerika.”

Menariknya, Dina Septi (si penulis reportase ini), dengan kritis mempertanyakan, “Meski jaringan Women’s March di sini tersambung dengan Women’s March di Amerika Serikat, tidak terlihat pula poster yang memprotes kebijakan agresi militer di kawasan Timur Tengah, yang sudah pasti merampas masa depan perempuan dan anak.”

Nah, ketemu di sini poin utama yang ingin saya sampaikan: isu-isu yang diangkat jejaring NED, USAID, atau berbagai organisasi “pro-demokrasi” Barat lainnya yang suka bagi-bagi dana itu memang sangat beragam (ada sebagian yang saya akui baik).

Tapi semua isu itu bisa dimasukkan dalam satu keranjang besar yang diberi label: “sejalan dengan kepentingan AS”. Kalau tidak sejalan? Ya pasti ga turunlah dana itu.

Jadi, ketika dikatakan “ada tangan AS di balik aksi demo”, ini bukan teori konspirasi, tapi memang rekam jejak jejaringnya bisa dilacak. Yang dilakukan AS bukan secara langsung memobilisasi massa, melainkan melatih/mengkader banyak orang, mempengaruhi cara berpikir, melalui sangat banyak isu, lalu menunggu sampai ada kesempatan. Ketika kesempatan tiba, AS ada di posisi untuk mengarahkan aksi demo ke arah yang sesuai kepentingan AS, bukan yang sesuai dengan kepentingan rakyat.

Aksi-aksi demo di berbagai negara, sangat mungkin awalnya memang berawal dari keresahan yang memang riil. Di Indonesia, orang marah melihat kerakusan oligarki. Di Hong Kong, kaum muda mengalami tekanan ekonomi. Di Irak, Iran, Lebanon, ekonomi sulit. [Untuk Iran, besok saya tulis secara khusus]. Tapi, anehnya, katanya demo menuntut perbaikan ekonomi, mengapa membakar infrastruktur dan properti warga? Bukannya bikin ekonomi rakyat tambah susah?

Dan ternyata ini memang SOP-nya, disebut “Marginal Violent Theory”. Demo-demo ala NED ini memang sengaja mengeskalasi kekerasan (istilahnya “most aggresive non violent action” & “mild force”), dengan tujuan memprovokasi polisi untuk melakukan kekerasan (dan LSM ala Amnesty Intl sudah siap dengan mesin propagandanya ketika ini terjadi) lalu menyudutkan pemerintah sampai ke pinggir jurang (opsinya: kompromi atau terguling).

Semoga bisa dipahami. Tentu ga bisa semua ditumpahkan di satu tulisan singkat. Silahkan mencari sendiri lebih banyak.

***
[1] https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/posts/729373384234875
[2] https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611/759429624483295
[3] https://www.ned.org/region/asia/indonesia-2018/
[4] https://www.infid.org/about-us/member/?lang=en
[5] http://majalahsedane.org/dari-celana-cingkrang-hingga-rkuhp/
[6] https://medium.com/@waltonkate/indonesias-criminal-code-revisions-politics-or-religion-39e6de05449e

Foto: Aksi demo Jakarta (25/9/2019), mereka membakar pos polisi hingga motor wartawan (tribunnews.com)

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: