Kajian Timur Tengah

Beranda » Afganistan » Deradikalisasi Salah Kaprah

Deradikalisasi Salah Kaprah

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Ini menyambung tulisan saya kemarin. Ada komentator yang bilang: “Perempuan itu tidak boleh dipaksa-paksa cara berpakaiannya! Emangnya bu Dina mau kalau pemerintah memaksa ibu pakai kebaya?”

Awalnya saya kesal. Ibaratnya, saya sudah membahas isu sampai bab 7, eh dia komen soal isu di bab 1. Masa saya harus ulangi lagi? Tapi, pagi ini, saya pikir, pertanyaan itu memang perlu dijawab.

Jadi begini ya, sejak lama, saya mendeteksi ada upaya deradikalisasi versi AS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Mengapa? Karena saya tahu ada duit AS (dalam jumlah besar) yang sedang disebar ke berbagai kalangan sipil untuk proyek-proyek deradikalisasi.

Tentu, saya sepakat dengan pentingnya deradikalisasi. Yang sudah lama kenal saya, tahu bahwa saya bertahun-tahun jadi korban bullying jahat kelompok radikal/simpatisan jihadis. Jadi jelas saya bukan di kubu mereka.

Tapi, kerisauan saya, KEMANA konsep deradikalisasi yang fundingnya dari Barat itu dibawa?

Berdasarkan narasi yang banyak beredar di medsos, saya melihat ada upaya untuk menggiring orang agar antipati pada hijab dan segala yang berbau syariah. Parahnya, memang ada kelompok yang menyalahgunakan label ‘syariah’. Ada banyak orang yang sok-sok syariah sehingga bikin eneg. Walhasil ini seperti aksi-reaksi.

Nah, bisakah kita berpikir di tengah? Saya sih bisa. Ga tau mas Anang.

Ketika saya mendapati ada video yang inti pesannya: “tolak radikalisme, kalau sampai kaum radikal berkuasa, Indonesia bisa jadi seperti Afghan dan Iran; di sana, dulu wanita BEBAS berpakaian, sekarang WAJIB pakai jilbab”, saya pun menulis status yang kemarin itu. [1]

Bagi sebagian orang, Afghanistan dan Iran, dianggap sama saja: sama-sama syariah, sama-sama menindas perempuan. Saya buktikan dengan data, bahwa Iran meskipun berlandaskan syariah, outputnya beda dengan Afghanistan. Apalagi, sebenarnya untuk Afghanistan, yang memaksakan hijab itu Taliban, bukan pemerintah. Pemerintah Afghanistan bukan radikal. Tapi, Taliban masih bercokol di banyak tempat dan semena-mena memberlakukan syariah versinya sendiri.

Nah, kalau gaya Taliban dibawa ke Indonesia, ya jelas KITA TOLAK dong!

Perlu diketahui, Iran itu ketika memilih sistem Islam (syariah), didahului dengan referendum (pemungutan suara). Jadi setelah Shah (sistem monarkhi) tumbang, dilakukan referendum, dihadiri pengawas internasional, dengan pilihan: mau sistem Islam atau tidak? Mengapa pilihannya itu? Karena, yang memimpin revolusinya adalah Imam Khomeini dan sejak awal yang dia suarakan memang pemerintahan Islam. Jika yang memimpinnya tokoh komunis, beda lagi jalan cerita sejarahnya.

Dalam referendum itu, 99% memilih “YA” [setuju dengan sistem Islam]. Lalu dibentuklah dewan yang berisi para ulama dan cendikiawan untuk menyusun UUD baru, yang didasari syariah Islam. Lalu referendum lagi. Mayoritas setuju. Dst. pemerintahan berjalan dengan sistem demokrasi yang diadaptasi, disebut Wilayatul Faqih.

Jilbab hanya salah satu aturan, dan proses penetapannya pun melalui prosedur demokrasi. Kalau dibaca di UUD & UU-nya banyak aturan lain yang sangat pro-perempuan. [2] Tapi semua diabaikan hanya karena urusan jilbab. Tulisan saya kemarin menunjukkan bahwa meski ada aturan jilbab, khusus untuk Iran, terbukti tetap bagus HDI dan GII-nya (dibanding sesama negara berkembang).

Anehnya, banyak sekali yang nyinyir, dan poinnya selalu satu hal: KOK DIPAKSA PAKE JILBAB?? Segala data soal kemajuan perempuan di sana diabaikan. Sepertinya di kepala mereka itu, biarlah perempuan miskin, pendidikan tidak terjamin, layanan sosial ga ada, asal bebas mau pake baju apa saja.

Dan inilah yang sedang dibawa ke Indonesia oleh operator deradikalisasi ala AS: hati-hati dengan jilbab, lebih baik busana nasional saja!

Inilah yang saya nilai salah kaprah. Dan pertanyaan si komentator di atas pun SALAH KAPRAH. Kalau ujug-ujug pemerintah Indonesia melarang saya berjilbab, atau sebaliknya, ujug-ujug Taliban versi Indonesia memaksakan jilbab atau cadar kepada semua orang, memang harus kita tolak.

Mengapa? Karena sebuah negara itu dibangun atas sebuah pondasi. Bila pondasi dihancurkan semena-mena, hancurlah negara itu.

Iran, setelah membubarkan sistem monarkhi (tanpa senjata, dengan aksi-aksi demo yang sangat masif), membangun pondasi baru yang disepakati rakyat melalui referendum.

Nah Indonesia sudah punya dasar sendiri: UUD 45 dan Pancasila. Bagaimana bila ada yang memaksakan ganti pondasi? Ketika judulnya MEMAKSA, ya jelas salah. Akan terjadi chaos. Itulah yang terjadi di Suriah. Suriah itu negara sekuler-demokrasi-sosialis. Trus tiba-tiba segelintir warganya, dibantu oleh petempur dari ratusan negara, termasuk Indonesia, memaksakan perubahan sistem negara, jadi khilafah.

Nah khilafah yang main paksa, pakai kekerasan itulah yang KITA TOLAK. Kita menyebut mereka ini kelompok “radikal”. Mereka membawa ide-idenya dengan bertahap, dimulai dari intoleransi.

Karena berdasarkan berbagai survei, pendukung ide-ide intoleransi dan radikalisme itu sangat banyak (lebih dari 50% di kalangan pelajar), tentu perlu DERADIKALISASI.

Tapi caranya bagaimana? Kalau fundingnya AS (padahal AS juga yang mendanai kelompok teroris) [3] saya yakin, tidak akan membawa kebaikan. Di satu sisi, akan melahirkan generasi Muslim yang menjauh dari ajaran agamanya sendiri. Di sisi lain, yang sudah radikal akan semakin teradikalisasi, karena dia melihat sendiri banyak pihak yang seenaknya menjelek-jelekkan Islam.

Saya sudah pernah nulis, untuk program deradikalisasi, perlu dilacak dulu, dasar teologisnya apa? Kalau radikalisme Islam, ya lacak dulu, Islam yang mana? Banyak ulama yang sudah kasih tahu: sumbernya adalah ideologi Wahabisme. Kalau radikalisme Kristen (ada kok radikalisme di tubuh Kristen, berkembang juga di Indonesia, biasanya mereka sangat fanatik bela Israel), cek juga, Kristen yang mana? Karena di Kristen juga banyak ‘aliran’ (denominasi).

Ibarat penyakit, deteksi, sumber penyakitnya dimana, itu yang diobati. Bukannya main generalisasi.

Demikian, semoga bisa dipahami.

[1] status kemarin: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611/811876695905254/
[2] Paper saya: “Perempuan Iran, Observasi antara Konstitusi dan HDI” https://dinasulaeman.wordpress.com/2007/04/28/perempuan-iran-observasi-antara-konstitusi-dan-hdi/
[3] video Tulsi Gabbard di depan Kongres AS, mengecam pemerintah AS yang menyuplai dana dan senjata ke ISIS, Al Qaida https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/384983545340529/


Foto: di status kemarin saya pasang foto perempuan Iran yang jilbabnya rapat (tak terlihat rambut); ini foto perempuan Iran yang lain. Gaya jilbab di Iran memang beda-beda.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: