Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Kedutaan dan Mata-Mata

Kedutaan dan Mata-Mata

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Hari Sabtu (11/1) rupanya ada kejadian lagi di Iran. Duta Besar Inggris, Robert Macaire berada di lokasi demo di depan Universitas Amir Kabir, di pusat kota Teheran dan ditahan oleh aparat keamanan selama beberapa jam. Menurut PressTV, saat ditangkap, Macaire “mengorganisir dan memprovokasi orang-orang yang marah pada penanganan pemerintah atas akibat dari kecelakaan pesawat awal minggu ini.”

Aparat menangkap Macaire tanpa tahu bahwa ia Duta Besar, namun semata-mata karena kecurigaan melihat ada orang asing di lokasi demo. Setelah ketahuan bahwa Macaire adalah dubes, ia dibebaskan. Hari Minggu (12/1), ada demo balasan, kali ini di depan Kedubes Inggris. Salah satu poster yang terlihat: “Sarang Rubah Tua Harus Ditutup”. Rubah tua adalah julukan untuk Inggris, oleh orang Iran. [1]

Mengapa Inggris disebut “rubah tua”? Rubah [buat orang Iran] adalah simbol dari kelicikan. Seorang penyair Iran jadul, Seyyed Ahmad Adib Pishavari (1844-1930) menulis syair mengecam penjajahan dan perang-perang yang dikobarkan Inggris pada masa itu. Begini terjemahan syairnya:

Banyak rumah kuno// Diratakan setelah Anda masuk// Anda merebut tanah melalui permainan rubah Anda// Anda telah lolos ratusan perangkap, seperti rubah tua.

Dari sisi hukum internasional, penangkapan seorang Dubes adalah pelanggaran [meski Iran beralasan, Macaire ditangkap tanpa diketahui bahwa ia Dubes, dikira orang asing biasa]. Dubes memiliki hak imunitas (kekebalan hukum) di negara tempatnya bertugas. Kalau ia terbukti bersalah, yang bisa dilakukan negara si penerima Dubes ini hanyalah mengusir (mem-persona-non-grata-kan).

Tapi di saat yang sama, tindakan si Dubes ini (terlibat dalam demo di Iran) juga melanggar Pasal 41 ayat 1 Vienna Convention on Diplomatic Relations (VCDR) 1961 yang berbunyi [terjemahan]:

“Tanpa mengurangi hak istimewa dan kekebalan mereka, adalah kewajiban semua orang untuk menikmati hak istimewa dan kekebalan tersebut untuk menghormati hukum dan peraturan negara penerima. Mereka juga memiliki kewajiban untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.”

Peristiwa ikut campurnya diplomat dalam aksi demo [antipemerintah] di negara asing bukan cerita baru. Di Kiev (Ukraina), Dubes AS, Victoria Nuland terlihat membagi-bagi kue di tengah demonstran antipemerintah (yang akhirnya menggulingkan presiden). Dalam aksi demo anti pemerintah Irak tahun 2019 (dan yang jadi sasaran demo antara lain adalah kedutaan Iran di Irak), beredar foto di medsos yang memperlihatkan ada beberapa diplomat AS di tengah kerumunan.

Di Iran, peran kedutaan AS untuk menggulingkan pemerintahan sudah terjadi sejak sebelum Republik Islam bediri. Pada tahun 1953, AS mendalangi penggulingan Perdana Menteri Iran, yang dipilih melalui pemilu demokratis, Mohammad Mossadegh. Peran AS ini sudah diakui Menlu Madeleine Albright (tahun 2000) dan Obama (2009). Mossadegh tidak disukai AS karena ia menasionalisasi kilang-kilang minyak Iran. Upaya penggulingan dilakukan dengan merekayasa demo di Teheran (dihadiri 8000 demonstran bayaran).

Setelah tumbangnya Mossadegh, Iran dikuasai Shah Pahlevi yang sangat patuh pada AS. Bahkan, pada tanggal 13 Oktober tahun 1964, Shah mau menandatangani perjanjian Kapitulasion, yang isinya seluruh warga negara AS yang tinggal di Iran memiliki kekebalan hukum atas setiap perbuatannya. Seandainya ada warga AS yang melakukan kejahatan di Iran, maka tidak ada lembaga hukum Iran yang bisa mengadilinya, dan yang bersangkutan hanya bisa diadili di negaranya sendiri, yaitu AS.

Imam Khomeini melakukan penentangan (melalui ceramah-ceramahnya) atas perjanjian ini dan kemudian dibuang ke luar negeri. Dari luar negeri, Imam Khomeini terus berceramah menyerukan perlawanan pada Shah, sampai akhirnya rakyat Iran mematuhi seruan itu dan berdemo sangat masif hingga Shah melarikan diri ke AS (1979).

Mahasiwa Iran yang tergabung dalam perkumpulan “Mahasiswa Pengikut Garis Imam” kemudian mencurigai Kedubes AS sebagai pihak yang berperan dalam berbagai upaya destabilisasi politik di masa itu (antara lain dengan membiayai dan mendukung kelompok-kelompok antirevolusi). Mereka menduduki Kedubes AS (dari 4 November 1979 hingga 20 Januari 1981). Di sana mereka menemukan sangat banyak dokumen yang membuktikan bahwa CIA melakukan aksi mata-mata dan upaya penggulingan pemerintahan baru Iran.

Sejak itu hubungan diplomatik AS-Iran terhenti, sampai sekarang. Bekas kedubes AS di Teheran dijuluki “laneh jasusi” [sarang mata-mata].

Berikut ini video yang memperlihatkan bagian dalam gedung Kedubes AS itu. Melihat video ini, saya jadi teringat info bahwa Kedubes AS di Irak sangat besar, 42 hektar. Hm, apa saja ya, di dalamnya? Ada fasilitas training demo penggulingan rezim jugakah?


[1] https://www.presstv.com/…/Iranian-protesters-UK-embassy-Rob…

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: