Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Dr. Jose in Memoriam

Dr. Jose in Memoriam

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kabar duka wafatnya dr Joserizal Jurnalis membuat saya terkenang pada masa-masa berat saya delapan tahun yang lalu. Saat itu, status-status FB saya hanya dilike segelintir orang. Belum punya haters.

Sejak lama, saya meminati kajian Timur Tengah dan pembelaan pada Palestina. Jadi, sejak pertama kali saya mengamati konflik Suriah, saya langsung menemukan kaitannya dengan Palestina, Israel, dan AS. Tentu, berbeda dengan banyak orang yang suka teori konspirasi abal-abal, saya selalu menyajikan data sebagai basis argumen.

Anehnya, setelah saya menulis soal Suriah (yang menolak narasi ‘perang agama’ dan membongkar berbagai hoax), mereka yang selama ini seolah paling depan membela Palestina (orang-orang IM dan HTI, di antaranya), justru ngamuk-ngamuk. Mulailah saya diserang dengan berbagai tuduhan keji. Arrahmah dot com, media radikalis yang dibuat oleh klan Abu Jibril kemudian membuat list tokoh Syiah, dan nama saya ada di dalamnya. Kemudian terbukti, mereka itu ternyata kaum radikalis pendukung “jihad”, baik ISIS maupun Al Qaida dkk.

Sejak itu, para akhwat-ikhwan yang tadinya berteman baik dengan saya, rame-rame mengunfriend, menggunjing di FB, dan menyebar banyak fitnah. Saya menghibur diri: baiklah, mereka kan soleh-soleh, insyaAllah semua pahala ibadah mereka akan ditransfer ke saya kelak di akhirat, aamiin.

Menariknya, ada satu tokoh besar yang ternyata bersuara sama dengan saya: dr. Joserizal Jurnalis. Beliau menolak narasi yang dibangun teman-temannya sendiri (di front pembelaan Palestina) bahwa perang Suriah adalah perang Sunni-Syiah. Beliau fokus di perjuangan membela Palestina dan melihat jelas bahwa “jihad” di Suriah itu justru melemahkan kubu pro-Palestina.

Akibatnya, oleh teman-temannya sendiri, dr Jose dituduh Syiah. Karena beliau tokoh besar, saya bisa bayangkan tekanan yang diterimanya karena berani bersuara beda soal Suriah jauh lebih berat daripada saya yang remah rengginang ini.

Tahun 2013, saya kembali ‘bangkit’ dan berhasil menyelesaikan buku “Prahara Suriah”. Dr Jose berkenan memberi endorsement, begini isinya:

“Isu yang dikembangkan dalam konflik Suriah adalah perlawanan rakyat menghadapi pemerintahan yang zalim untuk menegakkan demokrasi seperti di Libya sebelumnya untuk menumbangkan Qaddafi. Buku ini menjawab pertanyaan, benarkah konflik Suriah adalah perlawanan rakyat menghadapi pemerintahan yang zalim untuk menegakkan demokrasi?”

***
Saya tahu, mulai Pilpres 2014, lanjut pilkada DKI dan Pilpres 2019, dr Jose berdiri bersama orang-orang yang (sebagiannya) di masa Perang Suriah selalu menggemakan isu “perang Sunni-Syiah”. Saya tak mau berkomentar soal ini, biarlah, itu keputusan beliau.

Tapi pendapatnya tentang Suriah tidak berubah. Karena itu, buat saya, keteguhan dan kejujuran dr. Jose tentang Palestina akan selalu abadi. Perang Suriah menjadi batu ujian besar, siapa yang benar-benar pro-Palestina, dan siapa yang hanya menggunakan isu ini untuk kepentingan kelompok (atau untuk mengeruk dana umat belaka).

Berikut ini saya copas wawancara sebuah media online (Liputan Islam) dengan beliau, yang menjawab pertanyaan penting: mengapa rakyat Indonesia harus membantu Palestina? Bukankah kondisi Indonesia masih banyak problem (banyak orang-orang memerlukan bantuan), apalagi pada konteks kekinian?

***
Dr. Jose: Dalam hidup bertetangga di dunia, kita tidak bisa menyatakan bahwa kita yang paling menderita; maksud saya dalam ber-internasionalisasi di dunia. Palestina jika dilihat dari segi humanitarian act memang harus dibantu; the most neglected dan the most vulnerable, terutama di Gaza. Secara kebangsaan, kita memikul amanat pembukaan konstitusi, yaitu, “kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Pembukaan UUD 1945 mengindikasikan semangat anti-penjajahan. Pada masa ini, Palestina adalah satu-satunya bangsa yang masih dijajah (pada abad 21 ini).

Indonesia merupakan negara pelopor Gerakan Asia-Afrika, salah satu semangatnya adalah memberantas penjajahan. Nah, negara yang belum merdeka setelah Gerakan Asia-Afrika terbentuk adalah Gaza, Palestina.

Sebagai Muslim, kita memiliki amanah yang lebih, selain amanah konstitusi, yaitu amanah Masjid al-Aqsha. Masjid tersebut harus berada di tangan kaum Muslimin. Kita seharusnya bisa masuk Masjid al-Aqsha secara bebas, tanpa dihalang-halangi, dan check point. Tidak seperti sekarang ini, Muslim harus melalui check point yang luar biasa; pada intinya kita tidak bebas.

Sementara, bagi masyarakat dunia, perjuangan ini diperlukan untuk melawan penjajahan dan semangat pembebasan Yerussalem. Yerussalem merupakan kota tiga agama, yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi; tidak buat Zionis, ini harus digarisbawahi. Berbeda antara Zionis dan Yahudi. Seperti diagram Venn, Zionis adalah bagian kecil (irisan) dari Yahudi. Kita menggarisbawahi Zionis karena orang-orang Yahudi yang memiliki pemahaman politik Zionis itu sangat chauvinistic, tidak bisa menerima nilai-nilai peradaban manusia.

Itu bisa terlihat dari statement Ariel Sharon yang sangat kasar, “Jika saya bertemu orang Arab, maka akan saya bakar.” Intinya ingin membunuh orang Arab. Bayangkan bila seorang pemimpin negara berprinsip seperti itu! Itu kan sangat berbahaya karena mengorbankan semangat kebencian kepada tetangga-nya dan semangat eksklusivisme yang luar biasa. Bagaimana ia bisa hidup berdampingan dengan negara lain? Dia menganggap boleh menyerang orang lain, walaupun masih potensial menjadi musuh. Ia juga membolehkan membunuh orang lain (musuhnya).

Contoh, penyerangan reaktor nuklir Iran, pembunuhan lawan-lawan Zionis di luar negeri (seperti orang-orang Palestina di negara Teluk). Ini kan berbahaya; mereka menyerang negara orang lain, menyerang kapal orang lain, seperti USS Liberty. Jadi, prinsip-prinsip yang dianut Zionis, seperti we are the chosen people, we have the promise land, we have right to perform pre-emptive strike, we have right to go back home sangat berbahaya.

Liputan Islam: Banyak orang yang menyatakan, “Sesama Palestina saja gontok-gontokan, seperti Hamas dengan Fatah dan lainnya. Apa urgensi kita membantu mereka?” Bagaimana menurut pandangan Bapak?

Dr. Jose: Tidak, menurut saya tidak seperti itu. Mereka gontok-gontokan kerena manipulasi. Tapi, yang kita lihat di luar konteks itu, bahwa mereka dijajah dan tanah mereka diambil. Nah, kita yang memberikan penyadaran kepada mereka. Hai, tanah kamu diambil, kamu berhak merdeka! Kita ingatkan juga, kalian jangan gontok-gontokan lagi! Jadi, kita care dengan persoalan Palestina bukan karena orang-orang Palestina itu mulia, tapi karena mereka terjajah. Jadi, kita melihat dari aspek kemanusiaannya. Mereka gontok-gontokan karena dimanipulasi oleh orang lain, jadi kita harus menyadarkan mereka.

****
Innalillaahi wa inna ilaihi roojiun. Semoga almarhum dr Jose husnul khatimah dan segala jasanya untuk Palestina dibalas Allah dengan berlipat ganda.

Wawancara selengkapnya: https://liputanislam.com/wawancara/joserizal-jurnalis-amanah-al-aqsha/

PDF buku Prahara Suriah: https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/01/01/pdf-prahara-suriah/

Foto: Rumah Sakit Indonesia di Gaza, pembangunannya dipimpin oleh dr Jose.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: