Kajian Timur Tengah

Beranda » Diplomasi » Mengapa Turki Menyerang Suriah?

Mengapa Turki Menyerang Suriah?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Karena bolak-balik ditanya via inbox atau WA, saya tulis saja jawaban saya di sini.

Pertama, yang ada di Idlib itu, tak lain, milisi bersenjata (alias “mujahidin”, alias teroris). Mereka awalnya tersebar di berbagai wilayah Suriah. Dalam operasi pembebasan wilayah-wilayah Suriah dari tangan para teroris, pemerintah Suriah memberikan tawaran: terus perang atau menyerah. Para teroris menyerah dan minta dievakuasi ke Idlib.

[Bayangkan apa yang dirasakan pemerintah/tentara Suriah: mereka harus memperlakukan para teroris (dan anak-istri) itu dengan baik: menyediakan bus-bus berwarna hijau, memberi makanan, dan mengantar sampai ke Idlib. Padahal selama bertahun-tahun mereka itu membantai warga sipil dan tentara Suriah. Kenapa? Ya itulah, dalam perang selalu ada negosiasi, tawar-menawar. Buat pemerintah Suriah saat itu, yang penting wilayahnya bebas dulu dan warga asli terselamatkan dari teroris.]

Jadi, kini Idlib adalah pusat perkumpulan para teroris terbesar sedunia, berbagai golongan (berbagai nama kelompok) tumplek di sana.

Lalu, kini tentara Suriah (setelah membereskan semua wilayah lain), bergerak untuk membebaskan Idlib. Sebagai pemerintah berdaulat, tentu saja Damaskus berkepentingan mengambil lagi wilayahnya itu dan melindungi warga asli Idlib yang kini tertahan di tengah kepungan para teroris itu.

Masalahnya: kalau Idlib kembali direbut Damaskus, trus itu puluhan ribu “mujahidin” harus dievakuasi kemana lagi? Ya jelas ke tetangga sebelah dong, yaitu Turki. Mereka juga dulu masuk Suriah kan lewat perbatasan Turki, atas izin (sepengetahuan) Erdogan, bahkan memang dibiayai dan dipersenjatai Erdogan.

Sejak awal, Erdogan berambisi menguasai Suriah (atas bisikan PM-nya Davotuglu, seorang ideolog Ikhwanul Muslimin, tapi sekarang dia entah kemana). Erdogan menyangka, dalam waktu singkat, Damaskus akan tumbang. Tapi rupanya tak semudah itu, Ferguso.

Perang berlarut-larut, para “mujahidin” binaan Turki (dan AS, Saudi, Qatar, dll) kalah di hampir semua front. Kini angin berbalik. Tentara Suriah sudah merangsek ke Idlib. Erdogan tentu saja ngeri bila puluhan ribu teroris plus anak-istri masuk ke negerinya.

Erdogan kini menghadapi apa yang dinasehatkan Assad sejak lama, “Teroris itu bukan kartu yang bisa kaumainkan ketika dibutuhkan, lalu kaumasukkan ke saku ketika tidak diperlukan; teroris itu seperti kalajengking, yang setiap saat bisa berbalik menggigitmu.”

Turki berkepentingan Idlib jadi wilayah sendiri, lepas dari Suriah, diisi oleh para teroris yang tak diterima lagi di negeri-negeri asalnya itu (karena pada takut menerima lagi).

Itulah sebabnya, militer Turki secara resmi kini masuk ke medan perang, melawan Suriah.

**

Foto: “mujahidin” di Idlib yang didukung Turki (yang kata media Barat mereka ini adalah “pemberontak moderat”), pakai insignia ISIS.

Jelas ya? Bisa kan sekarang menghubungkan, mengapa para pemuja om Erdo di Indonesia ngotot mendukung “mujahidin” (whatever their name)?

Sumber foto (dan video): https://southfront.org/in-video-turkish-backed-moderate-rebels-wear-isis-insignias

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: