Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Iran dan Covid-19

Iran dan Covid-19

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Permintaan Iran kepada IMF untuk memberi pinjaman uang dalam rangka penanganan Covid-19 memunculkan banyak pertanyaan, intinya: apakah Iran akhirnya tunduk kepada Barat?

Selama ini, IMF dikenal sebagai perpanjangan tangan negara-negara kaya Barat untuk mengacak-acak perekonomian negara berkembang. Pasalnya , IMF (dan Bank Dunia) saat memberi pinjaman selalu memberi syarat: negara penerima pinjaman harus meliberalisasi ekonominya. Antara lain: harus menghemat fiskal, harus memprivatisasi BUMN, dan menderegulasi keuangan dan pasar tenaga kerja.

Menurut Thomas Gangale, dampak dari kebijakan liberalisasi ekonomi ini justru negatif, antara lain dikuranginya pelayanan pemerintah dan subsidi makanan telah memberi pukulan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. BUMN yang dijual untuk membayar utang kepada IMF justru dibeli oleh perusahaan swasta yang kemudian menghentikan pelayanan bersubsidi dan menaikkan harga-harga untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Kebijakan moneter seperti penaikan suku bunga dengan tujuan untuk menarik investor asing justru menghancurkan perusahaan domestik sehingga pengangguran meningkat. [1]

Menariknya, pernyataan Menlu Iran, Javad Zarif, soal utang ke IMF ini begini, “IMF harus mematuhi mandat lembaga ini, berdiri di sisi yang benar dalam sejarah dan bertindak dengan bertanggung jawab.” Pernyataan Direktur Bank Sentral Iran seperti ini, “Respon masyarakat dunia dan IMF dapat menjadi parameter yang baik untuk menilai klaim mereka soal bantuan untuk mengendalikan virus ini dan mengurangi kesulitan masyarakat.”

Nada dua kalimat tersebut adalah “gugatan”. Kata lainnya, “Buktikan klaim-klaim kalian soal kemanusiaan!”

IMF di webnya menulis bahwa mereka “bekerja untuk mendorong kerja sama moneter global, mengamankan stabilitas keuangan, memfasilitasi perdagangan internasional, mempromosikan lapangan kerja yang tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan mengurangi kemiskinan di seluruh dunia.”

Nah, pengajuan utang dari Iran ini bisa dipandang sebagai ‘batu ujian’ bagi IMF. Apakah IMF akan memberi pinjaman dengan tulus seperti klaimnya atau tetap menetapkan syarat yang merugikan?

(Sebelumnya, IMF sudah menolak permintaan bantuan dari Venezuela, yang sudah kerepotan menangani Covid-19.)

Lalu, apakah IMF (yang anggota terkuatnya adalah AS) mau mentransfer uang itu ke bank Iran, yang artinya melanggar embargo yang ditetapkan oleh AS?

Seperti diketahui, Gugus Tugas Aksi Keuangan (FATF) memasukkan Iran sebagai negara pendukung teroris (semata-mata karena Iran mendukung milisi perjuangan Palestina dan Hizbullah -yang melawan Israel). FATF memutus ekonomi Iran dari sistem keuangan internasional sehingga menyulitkan transaksi keuangan Iran. Dampaknya, perdagangan dan perekonomian negara ini sangat terhambat.

Kini, akibat wabah Covid-19, kondisi ekonomi jelas semakin sulit. Menlu Javad Zarif sudah menulis surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, meminta bantuan agar Iran diberi keleluasaan untuk mendapat pasokan medis. Pejabat AS mengklaim bahwa bahwa sanksi yang diberlakukan tidak menargetkan bidang medis. Pada akhir Februari, pemerintahan Trump mengklaim telah menyetujui pengabaian sanksi untuk mentransfer bantuan kemanusiaan melalui saluran Swiss. Tetapi pada 11 Maret, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan AS tidak mengizinkan Iran untuk menggunakan saluran itu.

Dalam kondisi ini, bisa dilihat bahwa Iran sedang memberikan ‘ujian’ dan menanti komunitas internasional (yang didominasi Barat) memberikan jawaban, membuktikan klaim-klaim HAM mereka.

Kesulitan Iran bukan saja soal ekonomi dan wabah Covid-19, tapi juga bombardir berita fitnah yang tak kunjung henti. Antara lain, banyak berita beredar, mengklaim ada data satelit bahwa Iran telah menyiapkan kuburan massal korban Covid-19 di Qom, padahal cerita sebenarnya tidak demikian. [2]

Beberapa hari yang lalu saya baca di Kompas, berita soal penutupan kompleks makam wali terbesar di Iran, makam Imam Ridho, yang menjadi pusat peziarahan. Berita penutupan itu mungkin benar (saya belum konfirm ke teman di Mashhad; saya cek di Press TV tidak ada), tapi masalahnya: diselipkan info yang jelas sesat: “Makam Suci Imam Reza (AS) di situs kota suci Mashhad, Iran ditutup dari aktivitas haji sampai waktu yang ditentukan.” [3]

Artikel yang sama ditayang ulang oleh Tribun dengan judul lebih ngawur: “Setelah Mekkah, Kini Makam Suci Imam Reza di Iran Ditutup dari Aktivitas Haji Syiah, Dampak Corona.” [4]

Entah, apa sengaja, atau bisa juga wartawannya yang b*doh, sehingga saat copas terjemah dari media asing pakai google translate, pilgrimage diartikan “haji”. Padahal pilgrimage juga bermakna ziarah. Bahkan ziarah orang Kristen ke Jerusalem pun disebut ‘pilgrimage’.

Tapi apapun kata dunia, di tengah berbagai kekurangan dan kesempitan, bangsa Iran terus bergerak semaksimal mungkin melawan virus ini.

Kemarin seorang teman saya di Teheran bercerita, ia tiba-tiba mendapat SMS dari pemerintah, disuruh mengkarantina diri di rumah.

Ternyata, sehari sebelumnya, ia ke pasar. Sebelum masuk pasar, semua pengunjung diminta menunjukkan KTP dan dicatat. Lalu, ketahuan pada jam yang sama dengan kunjungan kawan saya ini, seorang pengunjung pasar terpapar virus Covid-19. Pemerintah langsung bergerak. Kawan saya ini karena usianya sudah di atas 50 dan ada di data base kesehatan pernah mengalami sejumlah penyakit, diperintahkan untuk mengkarantina diri di rumah (dan ditelpon sewaktu-waktu, untuk mengecek apakah ia benar-benar di rumah).

Kisah menarik lain (yang positif) diceritakan oleh Jennifer Green, warga AS yang ‘terpaksa’ memperpanjang masa tinggalnya di Iran gara-gara Covid-19. Ceritanya bisa dibaca di sini [5].

—-

[1]Thomas Gangale, Raising Keynes: Stiglitz’s Discontent with the IMF, http://pweb.jps.net/~gangale/opsa/ir/Raising_Keynes.htm

[2]https://www.facebook.com/cerdasgeopolitik/videos/672734856599763/

[3]https://www.kompas.com/global/read/2020/03/15/205348770/kota-suci-islam-syiah-di-iran-ditutup-karena-wabah-virus-corona?page=all#page2

[4] https://www.tribunnews.com/internasional/2020/03/16/setelah-mekkah-kini-makam-suci-imam-reza-di-iran-ditutup-dari-aktivitas-haji-syiah-dampak-corona

[5]https://liputanislam.com/tabayun/kehidupan-di-iran-selama-wabah-covid-19/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: