Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Covid-19 dan Teori Konspirasi

Covid-19 dan Teori Konspirasi

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Kalau ada yang nulis, “Virus Covid-19 itu dibuat oleh AS demi menguasai dunia”, apa komentar Anda? Mereka yang sudah paham bahwa AS (pemerintah & elit-nya ya, bukan rakyatnya) memang sepanjang sejarah melakukan banyak kejahatan kemanusiaan, biasanya cukup terbuka (tidak harus setuju, tapi setidaknya mau menelaah argumen yang diberikan).

Tapi ada juga sebagian orang yang langsung mengejek, “Elo tuh pake teori konspirasi!”

Label “teori konspirasi” memang banyak dipakai orang untuk menghina upaya-upaya membongkar sebuah kejahatan global. Padahal sebenarnya konspirasi itu kan memang ‘biasa’ terjadi, misalnya, fenomena main sabun dalam pertandingan sepakbola (dua tim bersekongkol untuk mengatur pertandingan). Publik tahu darimana? Ya dari indikasi-indikasi, misal ada ‘keanehan’ yang dirasakan.

Tapi, teori konspirasi ini pun tidak sama jenisnya. Minimalnya ada dua jenis kelompok pengguna teori konspirasi. Yang satu, kelompok ngawur; yang kedua, kelompok yang bisa mikir kritis.

(1) Pertama, mereka yang menggunakan teori konspirasi tanpa landasan argumen kuat, dan lebih bersandar pada halusinasi. Contohnya, ada ustad yang bilang bahwa virus ini adalah tentara Allah untuk menghukum China.

Atau ada ustad yang menulis “analisis” soal perundingan Putin-Erdogan dengan menyebut bahwa “Putin gemetar di hadapan Erdogan”.

Akademisi HI (atau minimalnya rajin baca FP ini sehingga sudah paham beberapa teori dasar) punya landasan teori untuk menganalisis, misalnya telaah dulu power kedua negara itu (kekayaan, jumlah senjata, jumlah penduduk, posisi dalam tatanan global, dst). Lalu, sejarah hubungan kedua negara, dan kalau sedang perang, bagaimana kondisi riil di lapangan, siapa yang sedang di atas angin, dst. Lalu, dengan bekal ilmu diplomasi, kita juga bisa menganalisis narasi (kata-kata) yang dipakai kedua tokoh ini. Jadi, analisis yang muncul di tulisan, itu ada landasan teorinya, bukan main cocok-cocokan.

Apalagi setelah itu channel Rusia dengan “nakal” mempublikasi video, ternyata Erdogan sempat disetrap 2 menit di depan pintu sampai akhirnya pintu ruang pertemuan dibuka. Yang sudah belajar ilmu diplomasi (minimalnya hasil baca-baca tulisan di sini), pasti ngerti banget, betapa jelas siapa yang superior, siapa yang inferior dalam kasus ini. [1]

Atau, banyak “ustad” yang rajin koar-koar “Iran itu bersekongkol dengan Israel”. Argumen yang diberikan sangat ngawur, seringkali berupa fitnah, atau pencocok-cocokan belaka.

(2) Kedua, mereka menggunakan teori ini dengan dukungan argumentasi yang kuat, fakta akurat, data ilmiah, pendapat ahli yang bisa diverifikasi kebenarannya, menganalisis perilaku tokoh-tokoh yang nyata, dan menggunakan data sejarah yang memang tercatat di sumber-sumber yang dianggap valid secara akademis.

Tulisan-tulisan soal “Covid-19 terindikasi dibuat AS” sebagian didasarkan pada seabrek data ilmiah. Makanya biasanya tulisan-tulisan tersebut tidak menggunakan gaya bahasa ala-ala kelompok pertama (main tuduh membabi-buta), tapi sebatas memaparkan indikasi.

Misalnya, di tulisan ini [2] didasarkan pada penelitian seorang profesor virologis dari Taiwan, yang menyimpulkan bahwa virus yang menyebar di Taiwan bukan berasal dari China (beda jenis dengan yang tersebar di China) tetapi dari AS. Disebutkan juga, virus yang beredar di Iran dan Italia juga berbeda tipe-nya. Dan lab di AS-lah yang memiliki 5 tipe virus tersebut. Dst. Baca saja sendiri ya.

Nah, tgl 12 Maret 2020, Direktur CDC (Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit) AS, Robert Redfield (saat dicecar anggota parlemen) mengakui bahwa beberapa orang AS yang kelihatannya meninggal akibat influenza ternyata pernah dites positif Covid-19. (Sebelum kasus Wuhan merebak, di AS juga sudah ada 8200 orang yang tewas, disebut akibat “influenza”.)
Inilah yang kemudian membuat Jubir Kemlu China langsung ‘ngomel’.

Dia nge-tweet, “CDS tertangkap basah. Kapan pasien nol [pertama] dimulai di AS? Berapa orang yang terinfeksi? Pasien no 1-nya dirawat dimana? Kemungkinan tentara AS yang membawa epidemi ini ke Wuhan. Transparanlah! Buka data publik Anda! AS harus memberi penjelasan kepada kami!” [3]

(Pada 18-27 Oktober 2019 ada Military World Games di Wuhan, atlet tentara AS ikut bertanding)

Nah para pembela fanatik AS dan Israel (mereka inilah yang suka membabi-buta menuduh kita pakai teori konspirasi, jika kita melibatkan AS dan Israel dalam analisis konflik), mungkin akan bilang: ngawur, masa virus bisa dibuat??

Saya awalnya juga tidak tahu jawabannya, tapi kemudian menemukan info dari virolog keren yang sedang viral, drh Indro Cahyo. Ada di video ini [4] menit ke 23:26, ini transkripnya:

“Virus tidak bisa dibikin, tapi dimain-mainin, dimodified bisa. .. Kalau kita mau main-main dengan mengubah virus, sangat dimungkinkan untuk mengubah itu menjadi virus yang agak berbeda, bukan total berbeda, misalnya perbedaan virus MERS dan Covid 19… ”

“Virus itu kita bayangkan seperti bola, ada duri-durinya (spike) ujung dari spike itu yang menentukan, dia akan menempel kemana, ke hewan atau manusia, atau kemana, dan itu spesifik. Ga bisa yang biasanya menempel ke hewan, lalu menempel ke manusia. Covid 19 nggak ada hubungannya dengan hewan, ini full untuk manusia.”

**

Yang jelas, siapapun yang memodifikasi virus ini, faktanya sekarang wabah ini sedang tersebar di Indonesia. Mari bersatu melawan virus ini, ikuti petunjuk dokter, jaga jarak, jaga kebersihan, makan sehat; dan saling bantu, hindari menebar hoax dan kebencian. #IndonesiaBersatuLawanCorona

[1] https://bit.ly/3de8P4b
[2] https://bit.ly/3a6XNvs
[3] https://bit.ly/3941iBH // https://bit.ly/3a6gtM2
[4] https://bit.ly/3a62WE3

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: