Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Covid-19 dan Teori Konspirasi (2)

Covid-19 dan Teori Konspirasi (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Buat apa sih pentingnya membongkar, siapa yang “bikin” virus? [1] Bukankah yang penting sekarang mencari solusinya?

Menurut saya, yang punya kapasitas cari solusi sudah ada, yaitu pemerintah dan para ahli kesehatan. Kita rakyat biasa pun sudah diberi instruksi, apa yang harus dilakukan (jaga jarak, jaga kebersihan, makan sehat untuk memperkuat antibodi, dll). Kita juga bisa berpartisipasi dalam mencari solusi ekonomi (misalnya berdonasi untuk masyarakat terdampak atau menyumbang APD untuk tenaga medis).

Tapi, ada aspek-aspek lain yang juga penting dibahas. Misalnya, siapa yang terindikasi kuat memodifikasi virus ini? Apa dampak geopolitiknya? Apa dampak geoekonominya?

Ini tidak perlu dinyinyirin, setiap orang punya minat dan bidang kajian masing-masing. Dan bila kita membahas pertanyaan-pertanyaan itu dengan berbasis data dan argumen yang logis, itu bukanlah “teori konspirasi” yang sering diolok-olok itu.

Seperti sudah saya singgung di bagian pertama [2], pada 12 Maret 2020, Direktur CDC (Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit) AS, Robert Redfield (saat dicecar anggota parlemen) mengakui bahwa beberapa orang AS yang kelihatannya meninggal akibat influenza ternyata pernah dites positif Covid-19.

Seperti banyak diungkap media AS sendiri, sebelum kasus Wuhan merebak, di AS juga sudah ada ribuan orang yang tewas, disebut sebagai akibat ‘influenza’ dan ‘penyakit vaping’ (sakit akibat rokok elektronik). Ada video menarik yang merangkum timeline merebaknya influenza di AS dikaitkan dengan penutupan lab senjata kimia AS, Fort Detrick [3]

Nah pernyataan Direktur CDC itu membuat Jubir Kemlu China mempertanyakan, “Kapan terjadinya pasien pertama di AS?” Pengungkapan pasien pertama ini penting, untuk membuktikan, darimana asal virus itu. Tapi, alih-alih menjawab, Jubir Kemlu China ini malah dibully ramai-ramai oleh media AS, disebut ‘menggunakan teori konspirasi.”

Ketika pemerintah Iran mempertanyakan hal serupa, ejekan bergeser, “China menggunakan teori konspirasi yang dibuat oleh Iran.” Kemenlu Iran pun membalas lewat twitter, “Daripada kalian menuduh kami pakai teori konspirasi, jawab saja 10 pertanyaan ini.” [4] Ya, ada 10 pertanyaan atas keanehan-keanehan yang muncul seputar asal mula virus ini. Tapi tidak ada jawaban. Lagi-lagi yang ada, ejekan “teori konspirasi”.

Lalu, ada juga netizen yang beragumen, “Ya gak mungkinlah AS yang membuat virusnya, kan AS sendiri juga jadi korban!”

Apakah bila warga AS jadi korban, artinya tidak mungkin pemerintah AS yang memodifikasi virusnya?

Nah, untuk menjawabnya, ini saya kasih lihat film dokumenter yang dirilis oleh media terkemuka AS, media resmi: Business Insider.

Isinya: AS memang punya laboratorium militer yang membuat senjata kimia dan biologis, termasuk menggunakan virus. Dan, lab ini pernah mengalami kebocoran.

Video ini aslinya 10 menitan, saya ambil 4 menitan yang terpenting saja. Antara lain yang bikin saya sendiri kaget pas nonton: ternyata lab militer AS ini pernah bereksperimen menginjeksi virus dengue (demam berdarah) pada nyamuk Aedes Aegypti. Percobaan ini dilakukan tahun 1960-an dan dokumennya terungkap ke publik.

Balik lagi, apa sih gunanya kita tahu siapa yang memodifikasi virus corona ini (atau minimalnya, menaruh kewaspadaan didasarkan berbagai indikasi)?

Untuk pemerintah, agar waspada. Misalnya, jangan asal terima tawaran-tawaran bantuan dari pihak yang terindikasi kuat memodifikasi virus ini. Apalagi biasanya tawaran seperti itu meminta kompensasi (balas jasa) besar.

Untuk kita rakyat biasa, juga agar waspada dan agar tidak mudah dipengaruhi oleh propaganda media.

Kewaspadaan inilah yang dulu dilakukan oleh Menkes Siti Fadillah Supari. Beliau mewaspadai, mengapa ada lab yang dikelola militer AS dibiarkan beroperasi di Indonesia (NAMRU 2)? Bahkan bu Siti sebagai Menkes pun tidak boleh menginspeksi lab itu. Saat itu sedang merebak virus flu burung. Akhirnya lab itu ditutup tahun 2009 (didirikan 1974). Tapi kabarnya sudah ada lab baru, dengan nama baru [5].

Tanpa kewaspadaan, tanpa mau menyelidiki apa yang terjadi di balik semua ini, kita akan bolak-balik jatuh ke lobang yang sama.


[1] virus tidak bisa dibuat, tetapi bisa dimodifikasi [penjelasan virolog, drh Indro]
[2] https://bit.ly/2Jfbgph
[3] https://bit.ly/3duyaab
[4] https://bit.ly/33OgP7E
[5] https://bit.ly/2UHwrWe

Video lengkap (channel Business Insider) https://bit.ly/3bknBVg

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: