Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » [UPDATE] Mengapa Hoaks Soal Suriah Masih Penting Dibahas?

[UPDATE] Mengapa Hoaks Soal Suriah Masih Penting Dibahas?

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

—-
note no 2 di paling bawah, sudah diganti
—–

Di tulisan sebelumnya, Video yang “Menyesatkan”, saya membenturkan soal Suriah dan Covid. Saya mempertanyakan mengapa FB dan organisasi pemberantas hoaks (dan belakangan, Tempo ikut-ikutan) bersemangat sekali “fact check” video Dr Judy yang menurut mereka hoaks, tapi dulu soal Suriah adem ayem aje? Bahkan mereka mengirim surat “ancaman” (kalau share hoaks lagi, akun akan dihapus) pada semua yang share video itu, sekitar 4000-an orang yang share.

Perang Suriah berlangsung 9 tahun, hingga kinipun milisi-milisi teror (disebut “mujahidin” oleh orang Ikhwanul Muslimin dan HTI) masih bercokol di Idlib. Inilah perang paling dahsyat di era modern, dimana negara-negara besar dan negara “Islam” bersatu-padu menggulingkan sebuah pemerintahan yang sebenarnya sangat moderat, sekuler, sosialis, dan sangat pro-Palestina.

Milisi “jihad” berdatangan dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Donasi Suriah dengan sangat mudah dikumpulkan, dalam beberapa hari saja belasan milyar yang bisa dikumpulkan oleh para penggalang donasi hanya dengan kampanye satu isu. Misal, “Save Aleppo”, “Save Ghouta”, atau “Madaya Menjerit”.

Mengapa sedemikian banyak orang mau bergabung dengan milisi “jihad” Suriah? Mengapa sedemikian mudah warga terprovokasi untuk menyumbang (totalnya, diprediksi) sampai ratusan milyar?

Karena: hoax yang disebar amat-sangat masif dan ‘mengerikan’. Foto-foto berdarah-darah disebarluaskan netizen, dikatakan “warga Sunni dibunuh Syiah”. “Rezim Syiah laknatullah” membombardir warga Sunni”. “Assad memaksa rakyatnya sholat menyembah dirinya.” “Assad menyerang dengan senjata kimia.” Dst.

Kebencian dan intoleransi yang sangat marak hari ini di Indonesia harus dikaitkan dengan hoaks Suriah, kalau kita benar-benar mau memberantas radikalisme di negeri ini. Ini pun sudah berkali-kali saya sampaikan di forum resmi yang ada pejabatnya.

Organisasi pemberantas hoaks itu, apakah mereka sama sekali tidak pernah membahas masalah Suriah? Memang pernah, tapi berita yang “ecek-ecek” Misalnya nih: “Anak 4 Tahun Bermigrasi Sendirian di Gurun Dari Suriah ke Jordan” (Maret 2018)// Foto Pemandangan Kota Damaskus Suriah (April 2017)// Foto Pengungsi Suriah (Mei 2016)// Ronaldo Turun Dari Pesawat Saat Tiba Di Aleppo (Desember 2016). Ada 2 berita tak penting lain di 2018 dan 2020. Ada satu yang menurut saya penting: BBC News Menggunakan Foto Irak untuk Menggambarkan Pembantaian Suriah (Nov 2015).

Sangat tidak menyentuh akar persoalan yang membuat sedemikian banyak orang terprovokasi membenci dan marah; yang membuat anak-anak muda Indonesia begabung dengan Al Nusra, ISIS, dll. Frekuensinya amat-sangat minim dibanding masifnya hoaks yang beredar.

Dulu pernah saya kritik SATU kali, dijawab dengan ad hominem (berargumen dengan menghina). Kemarin saya senggol lagi, ad hominem lagi. Malah saya yang dikatain nyebarin hoaks soal Suriah.

Saya tidak heran, karena si penuduh ini (yang ngatain saya sebar hoaks soal Suriah ini) dulu pernah menulis status menyebut saya “pembela gerombolan Syiah”. Saya tidak akan lupa.

Tulisan ini dibuat bukan untuk membalas, tapi supaya isu Suriah tidak dianggap hoaks gara-gara masalah ini.

Supaya jelas, apa saja sih hoaks yang SEHARUSNYA dibongkar soal Suriah, silakan baca buku saya Prahara Suriah (ebook sudah bisa didownload gratis, link ada di bawah), atau Salju di Aleppo.

Di Salju di Aleppo ini saya juga bahas perilaku Tempo, yang sebagaimana media-media lain di Indonesia, cuma copas-terjemah media Barat soal Suriah tanpa mau melakukan fact check. Sungguh aneh, Tempo yang “ahli investigasi” itu kok nulis soal Suriah tanpa mau melakukan sekedar investigasi online.

Tapi kini, Tempo bekerja sama dengan FB untuk bikin “fact check” soal video Dr. Judy. Luar biasa.

Btw, buku Salju di Aleppo memang “terpaksa” beli, belum digratiskan oleh penerbitnya. Tapi kali ini saya mau give away. Saya sediakan 10 buku untuk dibagikan gratis, kepada komentator yang menjawab: “mengapa saya ingin membaca buku Salju di Aleppo?”

—–
Note:
a. Buku diberikan kepada 10 komentator terpilih; saya yang memilihnya dan keputusan tidak bisa diganggu gugat.
b. Buku hanya akan dikirim ke alamat di pulau Jawa. Bila pemenang ternyata dari luar pulau Jawa, akan saya alihkan ke yang lain.
c. Komentar ditunggu sampai Selasa (12/5) malam jam 20.00 WIB.

—–
link download e-book Prahara Suriah https://dinasulaeman.wordpress.com/2019/01/01/pdf-prahara-suriah/

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: