Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Tulisan terbaru di ic-mes.org “AS dan State-Terrorism (Mengenang Qassem Soleimani)”

Tulisan terbaru di ic-mes.org “AS dan State-Terrorism (Mengenang Qassem Soleimani)”

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Penulis: Mu’min Elmin (Dosen Hubungan Internasional Univ. Sulawesi Barat)
Ketika dunia sedang disibukkan oleh pandemi Covid-19, ISIS masih melanjutkan aksi-aksi terornya. Menurut data dari Terrorism Research and Analysis Consortium (TRAC), selama bulan Juli 2020, sisa-sisa ISIS di Irak telah mengklaim 100 serangan di negara tersebut. Pada tanggal 24 Agustus lalu, sebuah ledakan besar di pipa gas Suriah terjadi, yang menyebabkan terjadinya pemadaman listrik secara massal di sana. AS (yang saat ini bercokol di Suriah) menyatakan bahwa pelakunya adalah ISIS. Di Indonesia, selama masa pandemi, Densus 88 juga melakukan penangkapan terhadap sejumlah terduga teroris.
Kejadian-kejadian ini mengingatkan penulis pada pahlawan yang berada di garis depan melawan ISIS, Jenderal Qassem Soleimani. Pada 3 Januari 2020, Soleimani dan rekannya, tokoh milisi Irak yang juga berada di garis depan dalam perang melawan ISIS, Abu Mahdi Al Muhandisi dan tujuh pengawal mereka gugur dibom oleh militer AS. Padahal kedatangan Jenderal Soleimani merupakan undangan resmi kenegaraan dari pemerintah Iraq untuk mengupayakan perdamaian di Irak. Dengan demikian kehadirannya di Irak merupakan representasi resmi negara (Iran) untuk misi diplomasi perdamaian, bukan untuk memulai perang.
Aksi AS ini dapat disebut sebagai aksi “terorisme yang dilakukan negara” (state-terrorism). Bila umumnya terorisme dilakukan oleh milisi nonnegara, dalam kasus ini, negaralah yang melakukannya, yaitu AS. Peristiwa yang hampir sama juga pernah terjadi ketika Israel membunuh mantan pemimpin Hizbullah Abbas Al-Musawi dengan helikopter bantuan AS di Lebanon Selatan tahun 1992. Pada tahun 1985 CIA melakukan operasi pembunuhan terhadap Syeikh Mouhammad Hussein Fadhlullah melalui bom mobil yang diletakan di depan sebuah masjid meskipun gagal membunuh targetnya, akan tetapi operasi itu menyebabkan 80 orang meninggal dan 256 terluka.
Aksi-aksi teror yang dilakukan AS tidak hanya terjadi di Timur Tengah. AS juga melakukan teror di Nikaragua. Pada tahun 1980-an, Mahkamah Internasional memerintahkan AS untuk menghentikan penggunaan senjata secara ilegal (unlawful use of force), dan membayarkan ganti rugi secara nyata. Namun, AS tidak menghiraukan bahkan perang terus dilanjutkan. Dewan Keamanan PBB pernah berusaha mengeluarkan resolusi untuk meminta semua negara (maksudnya Amerika Serikat) untuk mematuhi Hukum Internasional, namun resolusi ini diveto oleh AS (Chomsky, 2017).
….
Pertanyaannya, mengapa muncul tatanan dunia yang dihegemoni AS seperti ini dan sampai kapan kondisi ini akan terus berlangsung?

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: