Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Bahrain, si “Kota Dosa” (Sin City)

Bahrain, si “Kota Dosa” (Sin City)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
 
Tanggal 12 September yll Donald Trump dengan bangga mencuit di akun Twitter-nya menyebut “kejadian bersejarah”: dua teman HEBAT kami (our two GREAT friends) -Israel dan Bahrain- telah menyepakati “perjanjian damai”.
 
Jadi jelas ya, Bahrain itu GREAT-friend-nya AS. Nah, macam apa sih GREAT-friend-nya AS itu? Sembilan tahun yll, saya pernah menulis artikel ini, isinya masih relevan untuk dicermati hari ini.
 
***
 
“Manama is one such beautiful city, where there is river of alcohol and fishes of pretty girls,” demikian promosi di sebuah situs traveling.
 
Bila Anda browsing di situs-situs traveling tentang tempat-tempat favorit untuk berpesiar, sangat mungkin Anda menemukan kategori “sin city” (kota dosa). Ada sepuluh kota ‘paling berdosa’ di dunia ini, tempat di mana kaum hedonis difasilitasi dalam melampiaskan nafsu bejat mereka, mulai dari minuman keras, judi, hingga mencari pelacur. Kota dosa urutan 10 adalah Berlin, urutan 9 adalah Macau, urutan pertama adalah Pattaya. Dan, Manama, ibu kota Bahrain yang berpenduduk mayoritas muslim itu, berada di urutan ke delapan! (data 2011)
 
Sebuah situs traveling menulis, bahwa tiap akhir pekan, laki-laki dari Arab Saudi akan berbondong-bondong datang ke Bahrain, mengendarai mobil-mobil mewah, melewati jembatan King Fahad. Jembatan sepanjang 16 mil itu juga sering dijuluki jembatan “Johnny Walker”, merek minuman keras. Tak heran, karena laki-laki Saudi kebanyakan melewati jembatan itu dengan tujuan untuk berpesta pora menenggak minuman keras yang konon dibatasi di Arab Saudi. Masih menurut situs traveling itu, pelacur juga mudah didapat di Manama. Sungguh sebuah kota yang bergelimang dosa.
 
Dan, menurut Anda, bagaimana perasaan rakyat Bahrain? Bahrain adalah sebuah negara di Timur Tengah dengan budaya Islam yang sangat kental. Kaum muslim, apapun mazhabnya, bila hidup di tengah kebejatan dan kebobrokan yang dipertontonkan secara terang-terangan seperti yang terjadi di ‘kota dosa’ itu, pastilah akan merasa terhina. Belum lagi kalau dilihat banyaknya kasus korupsi dan nepotisme yang dilakukan oleh kerajaan.
 
Seiring gelombang Arab Spring tahun 2011, rakyat Bahrain berdemonstrasi damai memrotes rezim Al Khalifa. Ketika gelombang protes rakyat Bahrain semakin memuncak, para lelaki dari Arab Saudi juga datang berbondong-bondong melewati jembatan Johnny Walker itu. Namun, kali ini mereka datang dengan membawa senjata. Moncong senjata diarahkan kepada para demonstran yang bertangan kosong.
 
Tepat tanggal 14 Maret 2011, sekitar 1000 tentara Saudi memasuki Manama dengan tujuan untuk membantu rezim Al Khalifa dalam membungkam demonstrasi rakyat Bahrain. Mereka menyerbu kampus Bahrain University, menembaki sekitar 350 pemuda yang berdemo menuntut demokrasi, dengan gas air mata dan peluru karet. Mereka juga merangsek ke lapangan Pearl tempat berkumpulnya para demonstran dan kembali menyerang tanpa kenal ampun. Puluhan orang gugur dan ratusan lainnya terluka.
 
Serbuan pasukan dari Arab Saudi ini terjadi hanya dua hari setelah Menhan AS, Robert Gates, menemui Raja Bahrain, Hamad bin Isa Al Khalifa di Manama. Sebagian besar analisis politik yang saya baca menyebutkan bahwa dalam kunjungan ini keduanya memang saling bersepakat untuk mempertahankan rezim Al Khalifa di Bahrain dengan cara apapun, termasuk dengan membunuhi rakyat Bahrain. Tentu saja, AS tetap beretorika dan menyatakan “menyesalkan kekerasan yang terjadi di Manama.”
 
Dalam Arab Spring, AS telah memertontonkan kemunafikan paling dahsyat. AS mengirim pasukan ke Libya, membombardir negeri termakmur di Afrika itu, mengklaim sedang ‘membebaskan’ rakyat Libya dari Qaddafi serta mendorong terjadinya demokratisasi di Libya. Namun pada saat yang sama, membiarkan (dan bahkan mendukung) raja-raja Arab dalam membungkam tuntutan demokrasi di Bahrain. Standar ganda Barat dalam menghadapi Bahrain dan Libya hanyalah pengulangan dari sekian banyak standar ganda yang mereka pertontonkan sepanjang sejarah. Di Suriah, AS mendanai dan menyuplai senjata kepada kelompok-kelompok teroris turunan Al Qaida untuk menggulingkan Presiden Assad.
 
Bila kita mempertimbangkan faktor mazhab dalam 3 kasus ini, terlihat polanya acak. AS mendukung Al Khalifa Bahrain (Sunni), dan menggulingkan Qaddafi (Sunni), serta berupaya menggulingkan Assad (Alawi, tapi pemerintahannya sangat sekuler dan campuran berbagai mazhab dan agama).
 
Jadi, bagi AS, agama dan mazhab tidak penting; yang penting “berteman” atau “tidak berteman” dengan AS & Israel.
 
Nah, sayangnya, umat Muslim di Indonesia suka sekali mendasarkan analisis pada mazhab. Dan memang, media Barat serta media-media Indonesia yang kerjaannya cuma copas-terjemah, aktif sekali menggaungkan cara pandang seperti ini. Ini yang disebut “sektarianisasi”, berusaha menampilkan konflik Timteng sebagai konflik agama, supaya tangan-tangan kotor AS & Israel tidak terlihat.
Perlu diketahui, penduduk Bahrain jumlahnya sekitar 1,5 juta orang, 50%-nya warga asli, 50% lagi warga asing (mereka hidup jadi pekerja di Bahrain, di berbagai sektor). Warga Bahrain asli, 60% nya bermahzab Syiah, 40%-nya Sunni. Pemerintahan Bahrain (rezim monarkhi yang sudah berkuasa sekitar 200 tahun) didominasi kaum Sunni. Namun yang terjadi sebenarnya bukanlah pertarungan antarmazhab, perlawanan para demonstran antipemerintah bukanlah karena mazhab tapi karena perilaku rezim monarkhi Bahrain yang buruk. Sebagaimana di atas saya ceritakan, perilaku-perilaku “dosa” rezim jelas BUKAN representasi Sunni. Perilaku mereka bukanlah bagian dari ajaran Islam, baik itu Sunni ataupun Syiah. Namun, rezim Al Khalifa memanfaatkan isu Sunni-Syiah (sentimen mazhab) untuk membungkam para demonstran dan mencari dukungan.
 
Foto: jembatan King Fahd alias “Johny Walker Bridge”

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: