Kajian Timur Tengah

Beranda » Armenia » Agama Bukan Akar dari Perang

Agama Bukan Akar dari Perang

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Perang Azerbaijan vs Armenia kembali membuktikan bahwa agama bukanlah akar dari perang. Azerbaijan adalah negara mayoritas Muslim, 85%-nya bermazhab Syiah. Armenia adalah negara dengan mayoritas Kristiani. Tapi, Turki memilih mendukung Azerbaijan dengan mengirimkan “jihadis” binaannya (yang semula perang di Suriah dan Libya, kini dikirim ke Azerbaijan).
Yang lebih “aneh lagi”, yang diperebutkan antara kedua kubu adalah wilayah Nagorno Karabakh, yang warganya mayoritas (nyaris 99 %) adalah etnis Armenia yang beragama Kristiani.
Di skrinsyut berita tahun 2019 ini disebutkan bahwa Armenia mengirim dokter untuk memberikan bantuan medis kepada warga Aleppo dan tim anti-ranjau untuk melucuti ranjau yang dipasang “jihadis” di kota itu. Baru-baru ini (Mei 2020), di masa Covid, Armenia juga mengirim tim medis dan lebih dari 2 ton fasilitas medis.
Buat yang belum tahu, mungkin akan heran, mengapa orang Kristen bantuin Syiah? Katanya.. Assad itu rezim Syiah? Mengapa bukan Azerbaijan yang bantuin Assad? Mengapa Iran yang bantuin Assad? Kan Azer-Iran itu sama-sama Syiah? Kok beda? Kok Azerbaijan mengizinkan AS buka pangkalan militer di wilayahnya?
Nah.. lagi-lagi, ga cocok ya, kalau menganalisis konflik semata-mata pakai agama?
Tuduhan bahwa Assad adalah “rezim Syiah pembantai Sunni” adalah hoaks besar, dimulai tahun 2011, yang telah menyebabkan peperangan berkepanjangan, dan efeknya sampai ke negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Para petempur dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, bergabung dengan kelompok-kelompok teror (ISIS, dan afliasi Al Qaida lainnya) untuk “berjihad” melawan Assad. Sebagian dari mereka datang ke Suriah, sebagian yang lain melakukan aksi-aksi pengeboman di negara masing-masing.
Lalu, jihadis yang sama dikirim oleh Turki ke Libya, dan kini ke Azerbaijan. Lho, katanya mereka di Suriah mau memerangi Syiah? Libya kan bukan Syiah? Sekarang, datang ke Azerbaijan pula, padahal Syiah.
Mumet?
ARTINYA: memakai kacamata agama untuk menganalisis konflik sama sekali tidak cukup. Benar, sebagian pihak MEMANG PAKAI AGAMA untuk MEMICU (triggering) konflik atau menggalang dukungan. Bukan cuma kalangan “jihadis” (Muslim) ya. Israel pun selalu menjustifikasi pengusiran dan pembantaiannya terhadap warga Palestina sejak 1947 dengan menggunakan klaim teologis “tanah yang dijanjikan”. [Padahal, banyak Rabi Yahudi yang menolak klaim dan kejahatan ini.]
Tapi, menyebut agama sebagai AKAR (pivot) konflik, sama sekali tidak tepat.
Kita harus memperluas variabel analisis: perhatikan negara-negara kuat yang terlibat, perdagangan senjata, perdagangan migas, sumber daya alam yang ada di kawasan konflik, kepribadian pemimpin/elit (misal: kepribadian Erdogan), kepentingan aktor (misal: AS sangat berkepentingan melindungi Israel; Israel terancam oleh Suriah: maka AS membantu “jihadis” dalam proyek penggulingan Assad), dst.
Minimalnya ada 4 variabel yang perlu dipertimbangkan dalam menganalisis, yaitu: triggering factor, pivotal factor, aggravating factor, dan mobilizing factor. Yang mau belajar, cari sendiri penjelasannya [antara lain ada di buku saya Prahara Suriah, bisa download gratis e-booknya]. Yang enggak, cukup tahu saja bahwa poin utamanya: agama bukanlah akar konflik.
Demikian.
biar nyambung, baca juga tulisan saya sebelumnya “Perang Baru Turki”

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: