Kajian Timur Tengah

Beranda » Amerika » Perang Baru Turki

Perang Baru Turki

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad
Situasi kembali memanas di perbatasan Azerbaijan-Armenia.“Aneh”-nya, Turki ikut campur. Sekitar 12 jam sebelum saya menulis status ini, Erdogan menulis di akun Twitternya, “Armenia, yang telah melakukan serangan baru ke Azerbaijan, sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dan ketenangan di kawasan itu. Bangsa Turki terus mendukung saudara-saudari Azerbaijan dengan segala cara, seperti yang selalu dilakukannya. “
Konflik antara Azerbaijan-Armenia adalah konflik antara negara mayoritas Muslim melawan negara mayoritas Kristiani yang memperebutkan sebuah wilayah bernama Nagorno-Karabakh (mayoritas penduduknya etnis Armenia). Tapi, seperti saya selalu bilang, dalam menganalisis konflik, agama tidak bisa dipandang sebagai akar utama, selalu berjalin berkelindan dengan faktor-faktor lainnya.
Nah, mari kita lihat apa kepentingan Turki dalam perang ini. Mengapa membantu Azerbaijan?
Pertama, yang sudah sangat jelas, Turki berseteru dengan Armenia. Selama ini Turki menanggung dosa besar yang tidak pernah diakuinya: melakukan pembantaian massal terhadap etnis Armenia pada era Perang Dunia 1 (tahun 1915). Saat itu, Turki (Ottoman) menuduh Armenia akan bekerja sama dengan Rusia. Diperkirakan 1,5 juta orang Armenia tewas, sebagian akibat pembantaian langsung, sebagian lain tewas akibat beratnya perjalanan yang ditempuh untuk melarikan diri dari kejaran tentara Ottoman.
Turki hingga kini menolak mengakui pembantaian itu, namun bangsa Armenia terus gigih melakukan upaya diplomasi agar dunia mengakuinya dan memberikan hukuman kepada Turki. Uni Eropa dan Paus Vatikan sudah memberikan pengakuan bahwa benar terjadi genosida terhadap bangsa Armenia tahun 1915.
Perang itu berbiaya tinggi, padahal ekonomi Turki sudah semakin terpuruk akibat membiayai perang di Suriah dan Libya. Perlu ada alasan besar sehingga Turki mau “berinvestasi” dalam perang ini. Perlu juga dilihat, siapa aktor (negara) kuat yang terlibat di dalamnya.
Kalau urusan “investasi” perang, seperti biasa, selalu ada sumber daya yang diincar agar “balik modal”. Azerbaijan terletak di persimpangan jalur utama perdagangan dan energi antara Timur dan Barat. Azerbaijan sangat kaya minyak dan merupakan pemasok minyak terbesar Israel (40% kebutuhan minyak Israel diimpor dari Azerbaijan). Sebaliknya, Azerbaijan adalah importir terbesar ketiga senjata produk Israel (17% produksi senjata Israel diekspor ke Azerbaijan). Azerbaijan juga berhubungan sangat baik dengan AS. Sekitar 30-40 persen dari logistik NATO dalam perang di Afghanistan dikirim melewati Azerbaijan.
Wilayah Kaspia memiliki cadangan minyak dan gas yang kaya yang akan diekspor ke Eropa. Namun, jalur ekspor hanya ada dua. Salah satunya adalah barat laut melalui Rusia; dan jalur barat daya di Kaukasus. Barat (Eropa) tidak mau terus bergantung pada suplai via Rusia dan dan berharap membangun lebih banyak jalur Kaukasus, yang berdekatan dengan Nargono Karabakh. Artinya, wilayah harus “diamankan”.
Lihat peta: jalur suplai minyak dari Baku (Azerbaijan) menuju Ceyhan (Turki), membawa sekitar 1 miliar barel minyak per hari, sebagian besar dikirim ke Eropa dan sebagian ke Israel; posisinya dekat sekali dari Nagorno-Karabakh. [2]
Jadi bisa dilihat ya, aktor kuat yang terlibat ya itu-itu lagi.
Hal lain yang perlu dicermati, berbagai media sejak akhir Juli sudah menyebutkan adanya pengiriman pasukan “jihad” binaan Turki dari Idlib dan Afrin ke Azerbaijan. Menurut berita, para “jihadis” itu dibayar 5000 Euro per orang. [1] Sebelumnya Turki juga kirim “jihadis”-nya ke Libya. Pengiriman “jihadis” sejalan dengan narasi Erdogan di Twitter (Turki akan membantu “saudara”-nya). Dengan kata lain, Erdogan mengeksploitasi sentimen agama dalam konflik ini.
Secara resmi, pemerintah Azerbaijan dan Turki tentu saja menyebut ini adalah “berita palsu”. Kita tunggu saja, nanti juga akan terkuak, kalau benar para “jihadis” ikut memerangi bangsa Armenia. Namun ini jelas berita yang sangat mengkhawatirkan. Pelibatan “jihadis” dalam perang di Suriah sudah terbukti mendatangkan penderitaan yang sangat besar bagi rakyat sipil.
Meskipun mereka membawa jargon-jargon agama, tapi perilakunya jauh sekali dari ajaran/etika perang Islam. Etika perang dalam Islam, hewan ternak saja dilarang dibunuh, apalagi wanita, anak-anak, dan orang tua. Bangunan dan tempat ibadah juga tidak boleh dihancurkan. Namun yang dilakukan para “jihadis” di Suriah justru sebaliknya.
Pada Agustus 2020, Persatuan Ulama Suriah (dipimpin Dr Taufiq al Buthi) mengeluarkan press rilis mengecam tindakan para “jihadis” memutus aliran air yang membuat warga Suriah kesulitan air dan terancam mati kehausan. Dalam surat itu jelas disebutkan bahwa pelakunya adalah “jihadis yang dipimpin Turki”.
Demikian komentar awal. Kita tunggu saja perkembangannya.

 

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: