Kajian Timur Tengah

Beranda » Uncategorized » Drone

Drone

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tulisan di FB saya 23 Oktober 2013

Brandon Bryant, seorang bekas pilot drone baru-baru ini mengungkapkan isi hatinya. Dia menderita depresi karena telah membunuh banyak orang. “Uniknya” Bryant tidak terjun langsung ke medan perang melainkan seolah sedang bermain video game dari markasnya di AS. Bedanya, korban pesawat yang dikendalikannya lewat layar monitor komputer itu benar-benar manusia, dan benar-benar tewas.

Drone, arti harfiahnya adalah ‘lebah jantan’ atau ‘dengung’. Drone adalah istilah untuk Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau ‘kendaraan udara tanpa awak’. Drone bisa dipersenjatai, bisa juga tidak. AS mengklaim bahwa pertempuran dengan menggunakan drone lebih efektif, karena korban lebih sedikit. Apalagi, perang dengan drone sangat ngirit bila dibanding mengirim puluhan ribu pasukan seperti perang konvensional.

Tapi, benarkah korbannya lebih sedikit?

Para peneliti di New York University School of Law dan Stanford University Law School pada bulan September 2012 telah merilis laporan hasil penelitian mereka. Menurut laporan ini, lebih dari 3000 orang tewas akibat 344 serangan drone sejak tahun 2004 (dan 292 di antaranya terjadi pada masa pemerintahan Obama: 23 Januari 2009 -2 September 2012). Serangan drone itu merupakan instruksi langsung dari Obama, Sang Peraih Nobel Perdamaian. Target serangan adalah, ‘sekelompok orang yang menunjukkan tanda-tanda tertentu, atau karakteristik tertentu yang diasosiasikan dengan aktivitas teroris, tetapi identitas mereka tidak diketahui’.

Lihatlah betapa ‘definisi’ target serangan drone sedemikian longgar. Bahkan, apa itu ‘karakteristik tertentu yang bisa diasosiasikan sebagai aktivitas teroris’ tidak diketahui publik. Yang dirasakan rakyat Pakistan adalah, secara tiba-tiba saja rumah mereka meledak, dan sejumlah anggota keluarga mereka tewas atau terluka dan cacat.

Menurut laporan itu, hanya dua persen di antara korban bisa diklasifikasikan sebagai target ‘high level’ atau dengan kata lain ‘benar-benar layak untuk dicurigai sebagai teroris’.

Misalnya Dawood Ishaq, ayah dari empat anak yang masih kecil-kecil, yang bekerja sebagai pedagang sayuran di Waziristan utara. Apakah dia termasuk kelompok ‘yang memiliki tanda-tanda tertentu?’ itu? Entahlah. Begini pengakuannya, sebagaimana ditulis dalam laporan tersebut.

“Saya sedang berangkat menuju sebuah tambang untuk bekerja. Saat mobil [yang saya tumpangi] sedang berjalan mencapai tujuan, sebuah drone menyerang kami. Yang saya ingat saat itu hanyalah ledakan dan saya melihat sedikit api di dalam mobil sebelum akhirnya saya pingsan. Orang-orang yang menumpang di bagian belakang mobil terbakar total dan mobil juga terbakar.”

Dawood dibawa ke beberapa tempat untuk perawatan, sampai akhirnya dia siuman di Peshawar. Kedua kakinya diamputasi.

Najeeb Saaqib, seorang malik atau semacam pemimpin suku di Waziristan menceritakan, “Anak-anak saya, laki-laki dan perempuan, pergi ke sekolah, tetapi sekolah mereka diserang drone. Serangan-serangan ini menimpa sekolah, para malik, para tetua, dan berbagai gedung. .. Kadang-kadang, ketika orang bepergian dengan mobil, mereka diserang. Kadang, ketika mereka berkumpul dengan teman, sholat berjamaah, mereka diserang… Kerabat saya, telah terbunuh. Para tetua kampung, para malik, murid sekolah, semua telah jadi korban serangan drone.”

Laporan ini dengan detil juga mendeskripsikan bahwa selain korban fisik, serangan terus-menerus drone AS juga telah meneror (menimbulkan rasa takut luar biasa) pada laki-laki, perempuan, dan anak-anak karena drone sewaktu-waktu akan menyerang rumah-rumah, kendaraan, dan tempat-tempat publik tanpa peringatan lebih dahulu. Mereka yang hidup di bawah ancaman serangan drone berada dalam kondisi psikologis dan trauma yang buruk.

Mudah-mudahan, mereka yang bekerja sama dengan AS untuk menyulut perang sipil di Libya, Irak, Suriah (negeri yang mayoritasnya muslim), sadar, siapa sebenarnya yang mereka ajak (atau tepatnya, mengajak mereka) kerja sama itu.

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: