Kajian Timur Tengah

Beranda » Afrika Selatan » Mengenang Qaddafi

Mengenang Qaddafi

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Tanggal 20 Oktober 2011 adalah hari terbunuhnya pemimpin Libya, Moammar Qaddafi. Ada banyak versi berita tentang Qaddafi. Sangat banyak media yang mengisahkan hal-hal buruk tentangnya.

Namun, untuk cross-check, kita bisa merujuk data dari PBB. Tahun 2010, Libya adalah negara dengan Human Development Index (HDI) tertinggi di Afrika, dan di peringkat 57 dunia. Ini adalah posisi yang jauh lebih baik daripada Indonesia yang pada tahun yang sama, cuma di peringkat 112.

Dalam situs UNDP dicantumkan bahwa pengukuran HDI dimaksudkan untuk mengetahui kondisi kehidupan manusia, dengan berbasis tiga hal berikut ini: kehidupan yang sehat, panjang umur, dan kreatif; memiliki pengetahuan, serta memiliki akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk memiliki kehidupan yang layak.

Pada 2010, pendapatan penduduk per kapita Libya adalah US$ 14.582. Bandingkan dengan Indonesia pada saat itu yang hanya US$ 2.149. Warga Libya menikmati pendidikan dan layanan kesehatan gratis, serta subsidi berlimpah di sektor energi dan pangan.

Seorang teman yang pernah kuliah S2 di Libya (lalu terpaksa pulang ke Indonesia karena perang), mengkonfirmasi informasi betapa makmurnya rakyat Libya. Bahkan, mau ganti mobil pun bisa gratis, kata teman saya ini. Seorang teman lain, yang kakaknya pernah kerja di Libya dan terpaksa pulang ke Indonesia karena perang, juga bercerita soal betapa makmurnya Libya.

Anehnya, dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba saja muncul gerombolan pemuja khilafah yang menyebarkan info hoax soal “pembantaian massal” dan meminta bantuan kepada dunia internasional.

Di New York, Dewan Keamanan PBB pun bersidang, mengabaikan prosedur yang sudah ditetapkan PBB sendiri, yaitu sebelum boleh mengintervensi, harus ada komisi penyelidikan dulu, apa betul ada pembantaian massal di Libya.

Di Indonesia, pada 23 Februari 2011, Ismail Yusanto merilis siaran pers berjudul “Seruan HTI untuk Kaum Muslimin di Libya Tumbangkan Rezim Diktator, Tegakkan Khilafah”. Dalam siaran pers itu Ismail menyatakan, “penguasa Libya memimpin dengan penuh kezaliman, menggunakan tekanan, paksaan dan kekangan… rakyatnya hidup dalam kemiskinan yang sangat dan kelaparan yang tiada terkira.”

Hanya dalam waktu sebulan, di luar kewajaran, Dewan Keamanan PBB merilis Resolusi 1973/Maret 2011, yang memberikan mandat kepada NATO untuk memberlakukan no fly zone. Praktis resolusi ini memberi kesempatan kepada NATO untuk membombardir Libya dan memberikan bantuan kepada “pemberontak” (demikian media Barat menyebut mereka, tapi kemudian ketahuan bahwa mereka ini tak lain para teroris Al Qaida). Agustus 2011, pemerintahan Qaddafi terguling.

Di Indonesia, pada Agustus 2011, situs HTI merilis siaran pers ucapan selamat atas tumbangnya “rezim tiran Qaddafi”.

18 Oktober 2011, Menlu AS saat itu, Hillary Clinton datang ke Tripoli, bersalaman dan berfoto ceria dengan para “mujahidin”. Dua hari kemudian, Qaddafi yang berada di Sirte (kota kelahirannya) tewas dibantai oleh gerombolan pemuja khilafah.

Berbagai sumber media mainstream, seperti CNN, the Telegraph, the Washington Times, mengkonfirmasi bahwa setelah tumbangnya Qaddafi, “mujahidin” dari Libya membanjiri Syria untuk memerangi Assad. Laporan jurnalis Mary Fizgerald dari Foreign Policy menyebutkan bahwa salah satu komandan “jihadis” Libya yang paling terkenal, Al-Mahdi Al-Harati, bersama lebih dari 30 milisi Al-Qaida Libya datang ke Suriah untuk mendukung Free Syrian Army (FSA) serta membentuk milisi Liwaa Al-Ummah.

Pada Januari 2013, HTI menyatakan bahwa “khilafah di Suriah sudah dekat”. Hafidz Abdurrahman, Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI, menyatakan, “Hizbut Tahrir terus bekerja keras untuk mengawal Revolusi Islam ini hingga mencapai tujuannya, yaitu tumbangnya rezim kufur Bashar, kemudian menggantikannya dengan khilafah.”

Menurut Hafidz, proses berdirinya khilafah di Suriah bisa dipercepat dengan “…melumpuhkan kekuasaan Bashar. Bisa dengan membunuh Bashar, seperti yang dilakukan terhadap Qaddafi, atau pasukan yang menopang kekuasaan Bashar.”

Meski tidak sekaya raya Libya, sistem pemerintahan Suriah mirip dengan Libya (sama-sama sosialis). Suriah juga memberikan pelayanan untuk rakyat yang sangat baik. Menurut Mufti Agung Suriah, Syekh Al Afyouni (gugur beberapa hari yll karena bom mobil), menceritakan bahwa “…sejak awal, Suriah termasuk negara paling aman di dunia. Suriah adalah negara yang tak ada fakir miskin, tak ada orang kelaparan. Orang bisa tinggal di suriah dengan biaya hidup termurah di dunia. Warga menikmati kondisi itu. Pendidikan gratis dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi strata tiga (doktoral). Kesehatan gratis, baik untuk bedah atau selain bedah. Listrik semigratis. Warga bisa mendapatkan fasilitas-fasilitas dengan mudah dan gratis berkat subsidi negara. Tapi, yang terjadi sudah terjadi.” (Republika, 18 Sept 2016).

Lalu apa kesamaan Qaddafi dan Bashar Assad? Mengapa Barat (dibantu “jihadis”) ingin menggulingkan kedua tokoh ini? Salah satu jawabannya ada di akhir video ini: keduanya sama-sama pembela Palestina dan menolak “berdamai” dengan Israel.

Bagi AS, “keamanan Israel adalah keamanan AS” (inilah doktrin kebijakan luar negeri AS). Selain itu, tentu saja, ada faktor perebutan sumber minyak dan gas. Karena perang adalah “bisnis” buat AS dkk. Dan keuntungan bisnis itu sebagian disedekahkan secara rutin ke Israel (baca tulisan saya sebelumnya).

——

semua yang saya tulis soal HTI ada sumber linknya, tapi ketika HTI terancam dibubarkan, semua dihapus dari web HTI (tapi tahun 2013 saya dokumentasikan di buku saya Prahara Suriah).

**

Video: demo besar-besaran rakyat Libya, 1 Juli 2011, mendukung Qaddafi dan menolak serangan NATO. Sementara di saat yang sama media Barat (dan media pro khilafah) sibuk menceritakan bahwa Qaddafi membantai rakyatnya.

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/784952559012630

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: