Kajian Timur Tengah

Beranda » Indonesia » Beberapa Poin Penting Soal Kasus Prancis (2)

Beberapa Poin Penting Soal Kasus Prancis (2)

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Ada poin yang perlu saya perdalam (lanjutan dari tulisan kemarin). Begini, apa sih sebenarnya masalah utama dalam kartun-kartun karya Charlie Hebdo tentang Nabi Muhammad?

Sebagian komentator berkata, “Yang digambar itu bukan Nabi, darimana lo tau itu wajah Nabi, jadi ngapain marah?” Ini sudah saya jawab kemarin ya.

Ada yang bilang, “Nabi aja ga marah kalau dihina, ngapain lo marah?” Saya juga sudah jawab kemarin. Emang ada UU yang melarang orang marah saat sosok yang dicintainya dihina? Kadar kecintaan kan beda-beda. Yang salah adalah kalau lo ngamuk dan menyakiti orang lain.

Sebagian yang lain bicara soal “haram memvisualisasikan wajah Nabi”. Ini biasanya dibantah oleh pembela CH: ya kan haram buat elo Muslim, kalau non-Muslim kan ga terikat oleh hukum Islam?

Nah, ini yang perlu saya perdalam.

Kalau soal haram-halalnya visualisasi wajah Nabi, itu urusan teologi. Silakan para teolog berdebat. Orang Iran, tahun 2015 (dalam rangka membalas aksi-aksi penghinaan yang dilakukan Barat terhadap Nabi) pernah membuat film yang sangat bagus tentang masa kecil Nabi Muhammad. Film ini tidak memperlihatkan wajahnya (yang disorot tangan, kaki, bagian belakang kepala, dengan cara yang artistik). Yang membuat filmnya adalah sutradara sangat terkenal, Majid Majidi, yang berkali-kali dapat penghargaan dalam festival film internasional. Film ini diprotes oleh sebagian ulama Arab, dengan alasan “haram visualisasi wajah Nabi”. Kontennya yang sangat bagus diabaikan oleh mereka.

Komentar saya: kalau urusan fiqih mah terserah; tapi saya tetap nonton filmnya. [1]

Menurut saya, yang penting dikritisi adalah KONTEN kartunnya.

Saya mencoba mencari tahu apa pendapat penulis Barat (bukan orang awam) terhadap kartun ini. Saya sebagai Muslim, mungkin dianggap tidak objektif. Apalagi kan para pemuja Prancis berbusa-busa bercerita soal “nilai-nilai” Prancis dan berkata, “Jangan samakan dong cara mikir orang Islam dengan cara mikir orang Prancis!”

Saya temukan tulisan Jon Wiener (editor thenation.com). Posisi dia adalah membela Charlie Hebdo, tapi mengkritik kartunnya. [2]

Ini saya terjemahkan bagian pentingnya:

***

Tapi kita semua setuju bahwa Charlie Hebdo harus dibela. Pertanyaannya adalah apakah kartun mereka harus dirayakan? … Masalahnya adalah kartunnya. Kita disebut tidak memahami mereka…

Hal yang paling tidak menyenangkan yang pernah saya lihat adalah pada gambar yang diberi label “Muhammad” dan menunjukkan ia telanjang di tangan dan lututnya dengan pantat di udara, mengundang seks anal; kartunis menggambar bintang di atas anusnya, dan judulnya bertuliskan “bintang telah lahir”.

Dalam kartun kedua, sosok “Muhammad” telanjang yang jelek dalam pose yang sama bertanya kepada sutradara yang merekamnya, “Apakah kamu suka pantatku?”

Kartun Charlie Hebdo, kata Katha [pemberi penghargaan pada CH], benar-benar “kebalikan dari apa yang tampak bagi pembaca Amerika”; Anda harus “tenggelam dalam budaya kartun Prancis” untuk memahaminya.

Mungkin, tapi bagi saya tidak. Faktanya, konteks kartun “seorang bintang telah lahir” tidak sulit ditemukan: Charlie Hebdo mengomentari video YouTube yang terkenal, “The Innocence of Muslim,” yang dirilis pada tahun 2012, yang menurut The New York Times, menggambarkan Nabi Muhammad sebagai “badut, wanita, homoseksual, penganiaya anak, dan preman rakus haus darah.”

Charlie Hebdo di sini tampaknya terus menumpuk rasisme, alih-alih menunjukkan upaya Prancis untuk [melawan] rasisme. Sulit membayangkan bahwa seorang Muslim Prancis akan melihat kartun “seorang bintang telah lahir” di Charlie Hebdo ini sebagai sesuatu yang bukan ofensif dan mengerikan…

…Katha berpendapat bahwa kartun tersebut sebenarnya mengejek penguasa Muslim fundamentalis yang menindas wanita. Tapi lihatlah kartun itu lagi: kartun itu bukan tentang membela wanita Muslim dari para imam fundamentalis; kartun itu tentang “Muhammad” yang mengajak seks anal.

Saya ragu apakah wanita Muslim Prancis sekuler atau moderat akan melihat kartun ini mewakili pandangan mereka atau membela posisi mereka. Saya membayangkan itu akan memiliki efek sebaliknya dan menarik mereka kembali ke kubu untuk membela Islam. —akhir kutipan—

***

Perhatikan, bahkan di mata orang Barat yang sekuler pun (dan dia membela “hak” Charlie Hebdo), kartun ini memang kurang ajar. Tapi yang dilakukan pemerintah Prancis adalah melindunginya, bahkan memberikan bantuan dana. Apa pemerintah Prancis benar-benar mau melawan ekstremisme atau justru sedang memupuknya dengan cara terus memprovokasi?

Karya karikatur adalah sebuah pemikiran, nilainya sama dengan tulisan, tetapi ini menggunakan media gambar dan teks. Jadi, melawan Charlie Hebdo (dan aksi-aksi serupa atas nama “kebebasan berekspresi”) adalah melawan pemikiran yang salah, sesat, jahat, dan penuh penghinaan tentang Nabi Muhammad.

Nah, melawannya bagaimana?

Seperti saya bilang kemarin, antara lain dengan menulis atau demo. Tapi, kalau pun mau demo, tentu demo yang tulus, bukan dengan misi mengganggu pemerintah negara kita.

Atau, dengan menyebarkan pemikiran tandingan, klarifikasi, mengenai betapa mulianya Nabi Muhammad; jauh sekali dari yang digambarkan oleh Charlie Hebdo dan majalah kurang ajar lainnya. Bisa lewat gambar (buku cerita), lagu, atau film, atau menyebarkan kata-kata beliau (hadis).

Allahumma shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad

———————

[1] Film Nabi Muhammad: https://ikmaltv.com/?post=qpotyngmzt (film ini ada terjemahan versi terbaru, diterjemahkan dari bahasa Persia langsung. Kalau yang beredar berbulan-bulan yll kan diterjemahkan dari bahasa Turki, jadi ada yang tidak akurat).

[2] https://www.thenation.com/article/archive/defend-charlie-hebdos-publishing-disgusting-cartoons-about-muslims-yes-give-them-award-i/

Tulisan bagian (1): https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/719342085326701

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: