Kajian Timur Tengah

Beranda » Blog&Web About Global Politics » Cerdas Memahami Pandemi

Cerdas Memahami Pandemi

New Release 2013

Prahara Suriah

New Release (2013)

"journey to iran"
"doktor cilik"
"princess nadeera"
"doktor cilik"
ahmadinejad

Teman-teman mungkin ingat, di fanpage ini saya pernah nulis tentang Presiden Tanzania, John Magufuli, yang mempertanyakan, mengapa tes swab ketika dilakukan pada pepaya dan kambing hasilnya tetap bisa positif kopit. (Perlu dicatat, Magufuli itu S1, S2, S3-nya di bidang kimia ya, jadi bukan orang awam di bidang sains.)

Nah, dulu, saya tidak tahu jawabannya mengapa. Sekarang, saya sudah tahu dan saya pikir, perlu saya share di sini. Sumber pengetahuan saya adalah drh Moh. Indro Cahyono (saya subscribe Youtube-nya). Jadi kalau mau nanya-nanya langsung ke beliau saja (di YT atau FB). Yang saya tulis di sini adalah meringkas apa yang beliau sampaikan selama ini.

Saya merasa perlu menuliskannya karena sepertinya pandemi ini baru akan hilang kalau kita semua teredukasi dengan baik. Bukan cuma edukasi soal protokol kesehatan, tapi juga edukasi soal PCR (alat tes), sehingga kita tahu cara kerjanya dan bisa mengambil langkah yang tepat.

**

Memahami Cara Kerja PCR

1. PCR mendeteksi keberadaan virus. Kalau sampel yang diambil adalah cairan di hidung, maka PCR mendeteksi apakah ada virus atau tidak di cairan hidung tsb. Adanya virus yang menempel di hidung, belum tentu terinfeksi, belum tentu sakit.

2. Alat PCR tidak bisa mendeteksi, virus yang diujinya virus mati atau hidup. Alat ini hanya mengetahui jumlah virus yang terpulas (di-swab) lalu dikeluarkan hasil positif atau negatif sesuai dengan angka rujukan. Virus mati/non aktif, atau diistilahkan juga “bangkai virus”, akan ikut ter-swab pada saat dilakukan swab untuk pengujian RT-PCR.

3. Angka rujukan di PCR disebut CT; biasanya disebutkan: CT <40 (baca: CT kurang dari 40). Ketika angka jumlah virus (CQ) yang terbaca jauh lebih kecil dari angka CT, hasil yang muncul adalah positif dan biasanya orang yang di-swab tersebut sudah menunjukkan gejala sakit.

4. Angka CQ semakin besar, misalnya 37 atau 38 (semakin mendekati CT <40), ARTINYA: di hidung Anda memang ada virus, tapi sedikit sekali.

5. Virus kopit ini sifatnya lengket (menempel), sehingga meski virus sudah mati (dan Anda pun merasa sehat wal’afiat) tapi di hidung Anda ada virusnya, ketika dites PCR, sangat mungkin hasilnya positif (ingat, PCR tidak membedakan virus mati atau hidup).

6. Ada cara mudah untuk membuat agar si virus tidak lagi menempel di hidung, yaitu dengan menggunakan cairan NaCl konsentrasi 0,9 (campurkan garam meja biasa 9 gram dengan 1000 ml air matang). Larutan ini dimasukkan ke dalam hidung dengan menggunakan botol berpipet atau spuit 20cc secara perlahan, untuk mengalirkan cairan dari satu lubang hidung dan keluar di lubang hidung lainnya. Tindakan ini dilakukan sebanyak 3-4 kali pada setiap lubang hidung, dua atau tiga kali seminggu.

7. Tindakan di atas (no.6) disebut “irigasi hidung”, ini bukan dimaksudkan untuk membunuh virus, namun hanya untuk melepaskan si virus, agar tidak menempel lagi di hidung dan tenggorokan.

8. Seharusnya hasil tes PCR yang diberikan kepada pasien tidak sekedar positif atau negatif, tapi disertai angka pengukuran secara detil. Ini kan biasa kita temui saat cek lab penyakit lain, misalnya kita cek DB atau kolesterol, kan ada angkanya, sehingga kita bisa tahu kondisi kita detilnya seperti apa dan bisa mengambil tindakan yang tepat. Minimalnya, kalau kita divonis positif kopit, kita gak langsung panik dan mengira bakal mati (karena, siapa tahu jumlah virusnya mendekati CT).

Lebih detil lagi penjelasan apa dan bagaimana PCR dan bagaimana cara membacanya, silakan simak video berikut ini, penjelasan langsung dari drh. Indro.

Sumber video saya kompilasi dari channel YT beliau: https://www.youtube.com/channel/UCPrqMICyWXRENN0QDciYkHA

Arsip 2007 ~ Sekarang

%d blogger menyukai ini: